Air Mata Yang Diharamkan

Temu Sunyi
Chapter #17

Antara Delusi dan Doa yang Terlambat


Aku duduk memeluknya selama satu jam. Atau dua? Aku tak tahu.

Waktu tak berjalan di sana.

Aku bercerita seperti biasa.

Tentang mimpiku tadi malam. Tentang bekalku yang pernah ibu buat.

Tentang lagu yang ibu nyanyikan malam kemarin.

Kadang aku tersenyum. Kadang aku menangis. Kadang aku merasa ibu menjawab.

“Bu, abis ini kita pulang ke desa ya? Gak usah di kota lagi…”

“Bu, aku janji gak nakal lagi deh. Asal Ibu bangun aja…”

Tapi dingin itu makin menjalar. Dan suara ibu makin hilang dari kepalaku. Dan dunia kembali memaksa:

"Dia sudah tak ada, Nak.

Dia sudah pergi."

Lihat selengkapnya