Pemakaman ini seperti pertunjukan:
ada panggung tanah merah, ada penonton berkacamata hitam, dan tentu saja—ada mayat yang akhirnya kalian pedulikan.
Ibu. Yang semasa hidupnya kalian diamkan babak belur, kini kalian bungkus dengan doa dan bunga seolah kalian pernah benar-benar peduli.
Aku duduk di samping tubuhnya. Diam. Kaku. Tubuh yang dulu sering menggendongku sambil menangis kini dibungkus kafan putih—bersih, tak seperti hidupnya yang penuh darah dan air mata.
Para pelayat datang. Membawa air mata palsu dan mulut yang tak pernah lelah berkomentar.
"Kenapa Akbar bisa sekejam itu?"
"Kenapa tidak kabur saja dari dulu?"
"Kenapa mereka tidak lapor polisi?…"
Hebat, kan? Sekarang kalian semua jadi komentator handal.
Padahal waktu ibu masih hidup, kalian hanya lewat. Pura-pura sibuk. Pura-pura gak dengar. Pura-pura gak tahu.