Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #2

Janin

Talia merasakan perutnya makin membesar, tetapi ia belum berani memberitahu kedua orang tuanya. Ia masih terus memikirkan apa yang harus ia lakukan.

Isi kepalanya memerintah agar ia menggugurkan kandungannya sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Ia bisa menata ulang masa depannya, lebih baik juga untuk bakal anak dalam kandungannya. Kelak dia tidak perlu merasakan perasaan sedih, berkecil hati dan malu akibat tidak memiliki sosok ayah seperti anak lainnya. Pasti akan baik juga untuk kedua orang tua Talia, mereka tidak perlu melihat anak mereka hamil di luar nikah, gagal menyelesaikan kuliah dan kemungkinan besar akan memiliki masa depan suram.

Semua alasan logis itu mendukung Talia untuk menjalankan aborsi, akan tetapi hati kecilnya terus saja menentang keras tindakan tersebut. Talia berada di antara dua pilihan, mengikuti kata otak atau hatinya.

Talia takut memberitahu kedua orang tua-nya. Ayahnya pasti akan memarahinya habis-habisan, sedangkan ibunya akan terkejut bukan main dan yang terburuk adalah ia mungkin akan mengalami syok berat mengingat sang ibu memiliki riwayat hipertensi. Talia merasa tidak siap menghadapi risiko tersebut.

Talia anak sulung, ia tidak punya kakak sebagai tempat berbagi cerita. Ia juga tidak punya sahabat karib yang menemaninya melalui hari-hari. Walaupun ia punya beberapa teman, tetapi cuma teman kuliah. Tidak akrab, hanya berhubungan terkait kuliah dan tugas-tugas dari dosen. Teman-teman dari SMA pun kini sudah jarang bertukar kabar, semua sibuk dengan urusannya masing-masing.

Satu-persatu terlintas di kepala Talia, siapa kira-kira orang yang bisa dia percaya untuk membagi ceritanya. Siapa yang bisa dia jadikan tempatnya bertanya.

“Halo kak Icha”

“Halo Lia”

“Apa kabar kakak?”

“Kabar baik Lia, kamu apa kabar?”

“Lumayan baik kak”

“Syukurlah kalau begitu”

“Iya kak, by the way aku di Semarang sekarang kak”

“Oh ya, liburan?”

“Tidak kak, aku pindah di sini”

“Oh begitu”

“Iya kak, nanti aku main ke Solo ya”

“Oke boleh, nanti aku kabari ya kalau aku sudah liburan sekarang aku lagi magang di Rumah Sakit. Biar kita bisa jalan-jalan nantinya.”

“Oke kak, nanti ajak kak Rani juga ya. Biar rame”

“Oke deh, ide bagus.”

Rupanya Talia tidak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya ingin ia ceritakan. Ia bertukar pesan dengan Icha saudari sepupunya yang berkuliah di Solo, mengajak bertemu mumpung masih masa liburan. Sekaligus juga ingin mengajak Rani sepupu mereka yang berkuliah di Yogyakarta.

Talia tidak mengungkit terkait kehamilannya sama sekali. Icha dan Rani tidak tahu apapun yang tengah terjadi pada Talia. Tidak tahu bagaimana pergolakan jiwanya saat ini, mereka tidak tahu bahwa Talia sedang membutuhkan teman curhat, tidak tahu apakah mereka bisa memberikan bantuan setidaknya sebuah saran yang baik. Memang bukan salah mereka juga, karena Talia tidak bercerita sedikitpun.

Talia sudah pindah ke Semarang. Sudah tiga hari ia di Semarang.

Talia pindah dari Surabaya ke Semarang untuk menghindari tatapan mata ibu kos-nya yang sudah mulai menatap curiga kepadanya. Kebetulan sebulan belakangan, Talia sendirian di kosnya di Surabaya karena semua teman kosnya pulang libur.

Perut Talia belum membesar secara menonjol, akan tetapi mungkin ibu kos-nya adalah tipe ibu-ibu yang bisa mengetahui seseorang hamil hanya dari roman muka atau bentuk pinggulnya. Talia menyadari akhir-akhir ini, sang ibu kos seringkali menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Talia merasa tidak nyaman lagi, ia memutuskan pindah ketika masa sewa-nya habis.

Sebuah langkah yang sia-sia tentu saja, karena hal itu tidak menyelesaikan masalahnya sama sekali. Pindah dari Surabaya ke Semarang bukanlah jalan keluar, ia hanya mencari tempat pelarian sementara. Tidak tahu lagi bagaimana nasib perkuliahannya kini. Ia tidak bisa begitu saja pindah kampus, karena tentu membutuhkan uang yang tidak sedikit. Hingga kini ia bahkan belum menceritakan perihal kehamilannya kepada Ayah dan Ibunya.

*** 

Barangkali faktor hormon kehamilannya atau mungkin karena terlalu banyak pikiran, Talia mulai mengalami mual muntah. Tidak seharipun ia lewati tanpa bolak-balik ke kamar mandi akibat mual muntah, terlebih khusus pada waktu pagi hari dimana dorongan tersebut menjadi lebih intens.

Lihat selengkapnya