Empat hari kemudian.
Melihat rumah itu, menatap lekat ke arah pintu ada perasaan haru bercampur senang tetapi juga ada rasa sedih yang menyelimuti. Senang dan bahagia karena Talia akhirnya tiba dengan selamat di rumah, bertemu kembali dengan Ayah dan Ibu juga sanak saudara. Sedih karena ia bertemu dengan mereka semua dalam keadaan seperti sekarang. Talia sudah bukan yang dulu lagi, Talia yang telah mengecewakan harapan dan doa mereka.
Tak ada kata yang mampu terucap dari mulutnya, ketika ibu menyambutnya dengan tangan terbuka. Mendekapnya lama. Talia kembali menangis, tentu saja. Ibunya terus menepuk halus pundak Talia yang pasrah dalam dekapannya. Ibu juga mengelus perutnya. Kedua wanita itu sama-sama menangis.
Talia bersalaman dengan Ayahnya yang juga kemudian mendekapnya erat, selanjutnya ia berpelukan dengan adik-adiknya bergantian.
Perasaan Talia hancur, tetapi tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia hanya meminta pada Yang Kuasa, agar Ayah dan Ibunya bisa memaafkannya.
“Masuk nak,” kata ibu sembari merangkul bahu Talia dan berjalan ke dalam rumah. Ayah dan adik-adik Talia mengikuti di belakang mereka.
“Selonjoran dulu kakinya nak,” ujar ibu.
“Iya bu,” sahut Talia.
Di ruangan keluarga, Talia dibiarkan beristirahat sejenak duduk di lantai beralaskan karpet guna mengurangi kram-kram akibat seharian duduk di dalam mobil. Perjalanan dari bandara menuju rumah mereka memakan waktu delapan jam, karena terletak di kabupaten tetangga. Rumah Talia berada di kabupaten Manggarai Timur yang belum ada bandara udaranya.
Ibu mengambil air putih hangat untuknya dan seorang sepupu yang tadi menjemputnya di Bandara. Talia memandang ruangan itu, masih seperti setahun yang lalu saat ia tinggalkan. Rapih dan bersih. Meja dan sofa yang tertata dengan baik, gorden jendela berpadu cantik dengan warna dinding tembok. Taplak meja berbahan kain putih tebal berenda semakin memperindah ruangan itu, dilengkapi dengan sebuah vas tempat ibu menata bunga-bunga dari pekarangannya sendiri secara rutin setiap tiga hari sekali. Semua itu tatanan ibu, Cantik dan Menenangkan seperti dirinya.
Ayah duduk di sofa dan berkutat dengan ponselnya. Tak tahu apa yang sedang diurusnya.
Mungkin urusan kantor, batin Talia.
Wajah ayah masih tampan seperti dulu, walaupun kini terlihat lebih tua dan lelah.
Kenapa ayah terlihat tua?
Baru setahun lalu aku pergi meninggalkannya.
Kenapa ia sudah setua ini?
Apakah ini cuma perasaanku saja?
Ataukah ini justru karena aku?