Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #4

Psikologis

Berita kehamilan Talia, tersebar sangat cepat. Banyak teman dan kerabat yang berdatangan ke rumah mereka. Ada yang hadir karena benar-benar peduli, tak sedikit pula yang datang hanya karena rasa penasaran. Berbagai macam wajah manusia, mulai dari yang perhatian dan memberikan semangat tulus hingga manusia yang hanya melihat dengan tampang menghakimi.

Talia tidak menyalakan siapa pun, ia tahu semua ini seratus persen salahnya. Orang-orang itu berhak berkata dan menilai apa pun tentangnya. Talia sudah pasrah. Apapun kata mereka, ia sudah siap mendengarnya. Teman, keluarga ataupun para tetangga. Talia harus kuat, tutup mata dan telinga. Jika tidak, maka ia pasti akan kepikiran, merasa sakit hati dan terluka yang kemudian berdampak pada bayinya.

Sejak hari pertama ia menunda-nunda menggugurkan kandungannya, sejak itu pula ia mulai mencintai bayinya. Awalnya ia tidak menggugurkannya mungkin karena merasa takut, perdarahan dan akibat lainnya. Tetapi lama-kelamaan Talia menyadari itu semua karena rasa cintanya, rasa sayang yang timbul di dalam sanubarinya. Kata-kata dari Alkitab yang ia baca waktu itu, semakin meneguhkan pilihan hatinya untuk mempertahankan bayi itu.

Baginya yang terpenting adalah kedua orang tuanya dapat menerima keadaannya kini. Perkataan orang lain tidaklah penting. Melihat sang ibu menyambutnya di depan pintu rumah dengan pelukan hangat, semakin meyakinkan ia bahwa pilihannya untuk mempertahankan bayi itu tidaklah salah. Ternyata ia tidak keliru memutuskan, ketika garis takdir menuntutnya memilih di antara dua pilihan yang sama-sama sulit. Pilihan sadarnya untuk lebih mendengarkan suara hati nuraninya daripada harus menjadi seorang pembunuh, sudahlah benar.

Jika ada manusia yang harus disalahkan atas semua kejadian ini, maka ia-lah sepenuhnya yang patut disalahkan dan tentu saja bersama lelaki yang dulu pernah ia cintai. Lelaki yang tak tahu lagi dimana rimbanya kini. Talia pun sudah tidak mau berharap lagi.

“Yang mana pacarnya, yang dari SMA dulu itu?”

“Iya katanya pacarnya sejak SMA, yang berasal dari kabupaten sebelah.”

“Parah yaa, pacaran anak jaman sekarang.”

“Iya, mereka sudah tidak bisa bedakan lagi mana pacar mana suami.”

“Sssttt, nanti orangnya dengar.”

Memang Talia mendengarnya. Tiga orang ibu-ibu, sepupu jauh ayahnya yang datang ke rumah mereka sore ini, berbicara mengenai Talia di samping luar dapur. Suara mereka memang kecil, tetapi Talia masih dapat mendengarnya. Barangkali mereka mengira Talia sedang berada di kamarnya atau mungkin bahkan mereka sengaja agar Talia mendengarnya. Talia tidak peduli. Talia hanya menoleh ke arah ibunya yang juga ternyata mendengarkan suara-suara itu. Terlihat guratan kesedihan di wajah ibunya, tetapi segera ditepisnya dan berusaha tersenyum ketika mendapati Talia tengah menatapnya.

“Lalu kemana lelaki itu sekarang?”

“Entah,”

“Apakah mereka sudah putus, atau ia tidak mau bertanggung jawab?”

“Entahlah kurang tahu juga.”

Mereka masih lanjut ngobrol disitu, entah sampai kapan. Lima menit yang lalu, ibu-ibu itu berada di ruang tengah bercengkrama bersama kerabat yang lain. Mereka kemudian permisi mau ke toilet, rupanya bukan ke toilet tetapi bergosip di samping dapur. Di rumah Talia saja sudah seperti itu, apalagi di luar sana.

“Nak, kamu ke kamar saja ya,” sahut Ibu.

“Baik buu,” jawab Talia mengiyakan.

Sesungguhnya Talia tidak menghiraukan kata orang-orang itu, ia hanya peduli pada Ayah, Ibu serta bayi dalam kandungannya. Sisa sore itu, Talia lalui dengan membaca buku-buku Parenting di dalam kamarnya. Jauh lebih bermanfaat daripada bertemu lagi dengan ibu-ibu tadi.

Sayup-sayup ia dengar dari kamarnya ketika mereka minum kopi bersama ayah dan ibu Talia. Satu jam kemudian para kerabat itu pamit pulang dan ibunya cuma bilang bahwa, "Talia sedang beristirahat di kamarnya."Barangkali mereka mau memberi wejangan khusus karena Talia tengah hamil sebagai bentuk perhatian, atau mungkin mereka hanya ingin basa-basi saja. Talia tak peduli, dia melanjutkan baca buku.

Pukul setengah tujuh malam Talia dipanggil adiknya untuk makan malam. Selama hamil, jam makan Talia menjadi sangat teratur. Makan pagi jam tujuh paling lambat setengah delapan, makan siang sekitar jam dua belas hingga jam satu siang, makan malam jam enam sore paling lambat jam tujuh malam.

Begitu terus setiap harinya, menjadi rutinitas yang dia patuhi. Ini sisi positif dari kehamilannya, karena memikirkan bayinya Talia merubah pola makannya yang dulu serampangan, kini menjadi lebih tertata. Talia benar-benar merasakan manfaatnya, penyakit maag-nya sudah jarang kambuh. Mual-muntah juga sudah jarang terjadi dibanding sebelumnya.

Paling penting dari semuanya tentu saja adalah dukungan penuh dari sang ibu. Makanan Talia benar-benar diperhatikan gizi dan manfaatnya. Susu, vitamin dan berbagai suplemen ibunya beli di apotek untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya.

Situasi dalam rumah juga aman dan damai. Ayah yang selalu sibuk bekerja di luar rumah, dapat dimengerti karena memang tugas pokoknya sebagai kepala rumah tangga. Ayah Talia adalah seorang PNS dan menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian di daerahnya, selain itu ia juga punya usaha Toko Buku dan ATK yang cukup besar dan dikelolah oleh adik kandungnya bersama tiga orang karyawan.

Lihat selengkapnya