Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #5

Melahirkan

Waktu berjalan tak terasa, kandungan Talia sudah berusia delapan bulan lebih. Mual dan muntah sudah berhenti sepenuhnya. Sekarang nafsu makan Talia sedang tinggi-tingginya. Ibu senang melihat Talia bersemangat untuk makan apa saja, tanpa pilih-pilih. Asal bukan makanan yang terlalu pedas atau asam. Selama dalam batas wajar, semua diperbolehkan.

“Ya, harus makan banyak. Kamu makan untuk dua orang.” Ucap ibu suatu kali.

Talia sudah melakukan tiga kali USG dan kini mengetahui bahwa dia mengandung bayi perempuan.

Berbagai persiapan ia lakukan, baik fisik maupun mental. Ia sudah rutin jalan pagi tiga bulan belakangan. Hari dimana ia tak sempat jalan sehat, maka ia akan mengikuti tutorial Yoga atau Senam Hamil di saluran YouTube. Meskipun tidak sempurna, tetapi ia tahu hal itu lebih baik daripada tidak dilakukan sama sekali.

Fisiknya siap, mentalnya juga sudah siap.

Maka hari itu tiba, saat Talia mulai merasakan kontraksi. Sabtu sore, ketika semua orang berada di rumah. Ayahnya sudah pulang dari kantor, adik-adiknya pulang dari sekolah.

Ayah segera mengeluarkan mobil dari garasi, ibu mengambil tas berisi perlengkapan bayi dari dalam lemari yang sudah disiapkan dua bulan sebelumnya juga beberapa perlengkapan kebutuhan Talia untuk melahirkan.

Mereka berangkat ke Puskesmas.

Tidak ada kendala yang berarti, setelah melalui beberapa tahap bukaan 1 hingga bukaan 10 dan mengalami kontraksi berkali-kali, Talia bisa melahirkan keesokan harinya. Di hari Minggu yang cerah, pukul 10.30 pagi. Talia dapat melahirkan normal, berat badan bayinya 3,5 kg. Tangan dan kakinya lengkap, semua normal tak kurang satu apapun.

Ibu masih setia berada di samping Talia. Tanpa sadar air mata bercucuran dari kedua wanita itu, melihat bayi mungil yang kini berada di antara mereka. Berwajah polos tak berdosa, yang masih sangat lemah dan membutuhkan tuntunan dan bimbingan. Bidan membersihkan bayi itu dari lendir yang berlumuran di tubuhnya, kemudian meletakkannya disisi Talia.

Bercampur aduk perasaan Talia, antara senang dan terharu. Ia kini resmi jadi "Ibu". Sebuah gelar biasa yang disandang jutaan wanita di dunia. Tak ada yang istimewa, tetapi tak pernah mampu terlukiskan dengan kata-kata perasaan bahagia yang membuncah di dalam dirinya.

Ia memberikan ASI pertamanya, cairan berwarna kuning dan kental yang mengandung Kolostrum. Cairan yang kaya akan zat kekebalan tubuh. Dia harapkan anaknya tidak sering sakit di masa depan dan dapat bertumbuh dengan baik. Pengetahuan itu Talia dapatkan dari buku yang pernah ia baca. ASI pertama wajib diberikan kepada bayi, karena terdapat sejuta manfaat yang terkandung di dalamnya.

Kondisi tubuh Talia letih dan lesu, ia masih butuh pemulihan. Nyeri pasti, akan tetapi seperti tertutup begitu saja ketika ia menatap wajah putrinya. Ibarat rasa sakit yang langsung mendapat obat penawarnya di depan mata.

Talia diajari posisi menyusui yang benar oleh Bidan juga cara memerah ASI, membersihkan puting dan memijat payudara agar ASI lancar. Hal ini dapat mencegah pembengkakan yang akan terjadi jika ASI menumpuk terlalu banyak di dalam.

Mereka menginap 24 jam untuk proses pemulihan pasca melahirkan. Keesokan harinya, senin pukul 12.30 siang setelah ayah mengurus di bagian administrasi mereka sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

Talia mengucap syukur tak henti-hentinya, satu tahap penting sudah mampu ia lewati dengan baik. Sekarang PR besarnya adalah merawat dan membesarkan bayinya. Ia akan menjadi lebih sering merepotkan ibunya mulai sekarang, ia akan bertanya ini dan itu.

Ia bersyukur kepada semesta, dalam hidup ini dia memiliki sosok ibu dan ayah yang luar biasa mencintainya.

***

Hari-hari Talia lalui dengan berbagai pengalaman baru menjadi seorang ibu muda. Bayi-nya diberi nama Hana, kini sudah berusia dua bulan. Usia Talia sekarang dua puluh tahun, secara fisik dia sudah bisa melahirkan anak tetapi secara mental tentu tidaklah semudah itu. Talia harus mengalami bangun tengah malam karena tangisan bayinya yang minta ASI, terkadang juga si bayi menangis akibat popoknya basah. Pernah juga Talia tidak tidur semalaman karena bayi-nya mengalami demam dan menjadi sangat rewel.

Beruntung dia punya ibu, meskipun sang ibu tidak bisa menemaninya dua puluh empat jam akan tetapi dia bersyukur saat dia membutuhkan bantuan, ibunya akan ada untuk membantunya. Mencuci baju bayinya, kain dan selimutnya. Seringkali membantu membersihkan pup-nya, juga membantu proses pemulihan fisik Talia setelah fase melahirkan. Talia tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika tak ada ibu disisinya.

Berbeda dengan ayahnya yang kini mulai bersikap lain terhadap Talia. Tidak kasar atau marah-marah, tetapi sudah terasa berbeda. Awalnya Talia tidak begitu memikirkannya, akan tetapi suatu hari mau tidak mau Talia harus mendengar kedua orangtuanya beradu mulut.

“Ini akibat kamu terlalu memanjakan anak.”

“Maksud kamu?”

“Lihat Talia hamil di luar nikah, belum selesai kuliah sudah harus gendong anak”

“Sekarang kamu menyalahkan hal itu padaku, bukannya kita berdua yang mendidik anak sama-sama?”

“Iya, tetapi seandainya kamu bisa lebih keras Talia tidak akan jadi seperti ini”

“Dia sudah jadi seperti ini, jadi tidak ada gunanya kita menoleh ke belakang.”

Lihat selengkapnya