Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #6

Nyawa

Pada suatu hari yang cerah

Tiba-tiba hujan turun ke bumi.

Tanpa aba-aba, tanpa peduli kamu siap atau tidak.

Pakaianmu basah, tubuhmu ringkih.

Tetapi memang begitulah langit, luas dan tak pernah mampu terbaca oleh matamu yang lemah.


Sebulan kemudian.

Sekonyong-konyong, ibu jatuh sakit. Sakit sungguhan. Ibu memang punya riwayat tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi akibat kondisi kegemukan yang ia derita lima belas tahun belakangan.

Berat badan ibu mulai mengalami peningkatan sejak dahulu ia melahirkan Talia. Ibu yang ketika masa mudanya ramping, berubah menjadi gemuk. Bertambah gemuk lagi setiap selesai melahirkan anaknya satu-persatu hingga anak kelima.

Rupanya salah satu efek melahirkan adalah kenaikan berat badan. Ada yang terjadi karena sisa lemak kehamilan, tubuh ternyata secara otomatis menyimpan lemak ekstra saat hamil sebagai cadangan energi. Ada pula yang terjadi karena pengaruh dari hormon tiroid. Selain itu juga dipicu suatu kondisi ketika seorang wanita berubah menjadi ibu baru, ia merasakan hidupnya menjadi penuh tanggung jawab.

Mengurus rumah, suami dan bertambah satu tugas baru lagi yaitu mengurus anak, lambat laun membuat dia mengalami stres. Hormon yang terbentuk akibat kondisi stres tersebut ternyata dapat memicu penambahan berat badan, karena wanita lebih cenderung makan banyak ketika merasa stres.

"Depresi" istilah zaman sekarang ada juga yang menamainya Baby Blues, tetapi ibu-ibu zaman dahulu tidak mengetahui bahwa kondisi tersebut adalah sebuah penyakit.

Kurang tidur karena harus mengurus bayi ditambah faktor stres maka hasil akhirnya adalah penambahan berat badan yang tidak terkontrol. Berat badan bertambah, kolesterol meningkat, maka tekanan darah juga akan meningkat. Begitu terus seperti lingkaran hitam yang tak mudah putus, ketika tekanan darah meningkat maka akan berpengaruh ke pembuluh darah, ginjal, jantung dan organ-organ lainnya. 

Akan tetapi, selama ini kondisi kesehatan ibu terkontrol dengan baik. Ibu rutin mengkonsumsi obat dan menjalani beberapa pantangan yang dianjurkan dokter. Namun hari ini, tiba-tiba saja ibu langsung drop.

Mulanya badan ibu lemas, kecapekan dan pusing katanya. Ibu beristirahat di tempat tidur, namun tak lama kemudian ia sesak nafas. Ayah segera menelpon Ambulance dan membawa ibu ke Rumah Sakit.

Ibu masuk IGD, dokter dan rekan-rekannya berusaha menolong ibu. Dari IGD ibu dipindahkan ke ICU, untuk perawatan lanjutan. Ibu mengalami masa kritis, ia perlu alat bantu untuk bernafas. Ayah dan beberapa kerabat Talia menjaga ibu di Rumah Sakit. Talia tidak bisa ikut, karena ada bayi dan menemani adik-adik di rumah.

Ibu dirawat di Rumah Sakit selama tiga hari. Talia bersama bayi-nya dan dua adiknya yang masih berada di bangku SD hanya bisa berdoa dan berharap dari rumah. Dua orang adik Talia yang SMP dan SMA sempat pergi menjenguk ibu mereka di hari ke-dua ia dirawat. Kondisi ibu tidak membaik, malah semakin buruk. Ibu mengalami stroke, dokter dan rekan-rekannya tidak mampu menyelamatkan ibu.

Hari ke-tiga di Rumah Sakit, ibu dinyatakan meninggal dunia. Hari dimana Talia berencana untuk menitip sementara bayinya, karena ia ingin pergi menjenguk ibu di rumah sakit. Belum juga Talia mengangkat satu kakinya melewati pintu rumah, kabar buruk itu telah tiba terlebih dahulu.

Kata mereka, karena komplikasi penyakit. Terlalu banyak yang terdampak akibat tekanan darah tingginya. Kemungkinan besar pada saat-saat terakhirnya, yang terdampak adalah jantung dan pembuluh darahnya.

Lumpuh seluruh badan, serasa putus urat nadi. Harapan Talia seperti dirampas darinya.

Talia merasa seperti anak kecil yang baru saja jatuh dan butuh pegangan, tetapi kini pegangan itu juga ikut runtuh. Tak ada kata yang mampu melukiskan betapa sakitnya rasa kehilangan itu. Talia jatuh terjerembab di atas lumpur duka.

Lihat selengkapnya