Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #7

Ayah

Rasa kehilangan yang Talia dan adik-adiknya alami ternyata tidaklah demikian untuk Ayah mereka. Prasangka Talia yang mengira bahwa Ayah mereka hanya sedang berusaha untuk melanjutkan hidup ternyata tidak sepenuhnya benar. Memang iya, dia ingin melanjutkan hidupnya tetapi caranya sungguh diluar dugaan.

Mencengangkan. Baru sekarang Talia menyadari, ternyata semudah itu untuk seorang suami melupakan istrinya. Tak tahu suami yang lain, tetapi suami dari ibunya alias ayahnya kini sudah punya gandengan baru.

Hanya tiga bulan setelah istrinya meninggal. Mungkin tidak untuk orang lain, tetapi bagi Talia dan adik-adiknya hal itu terlalu cepat. Ibarat kata, "Tanah kubur ibu-nya pun belum kering".

Ingin rasanya menyangkal semua itu, tetapi semakin disangkal semakin jelas fakta yang terpampang di depan mata. Talia tidak habis pikir, apakah setidak berarti itukah Ibunya untuk dirindukan terlebih dahulu setidaknya dalam waktu setahun. Baru kemudian boleh ada wanita lain di sisi Ayah mereka. Berkali-kali Talia bertanya dalam hati, apa mungkin matanya tertutup selama ini sehingga dia tidak bisa melihat bahwa pernikahan kedua orang-tuanya sebenarnya tidaklah bahagia? Maka dari itu segampang ini bisa digantikan dengan hubungan yang baru?

Dua puluh satu tahun usia pernikahan kedua orangtuanya. Itu hubungan pernikahan bukan pacaran. Ikatan suci yang melahirkan lima orang anak, bersama-sama melalui tawa dan air mata, sakit dan sehat, susah dan senang kehidupan. Semudah inikah tergantikan? Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk dalam kepala. Pertanyaan yang ditanyakan sendiri, kemudian dijawab sendiri. Talia tidak tahu kemana harus bertanya.

Ibu, semudah inikah engkau terlupakan? Suara hati kecil Talia.

Beberapa orang mengatakan bahwa Ayah dan perempuan itu cuma berteman. "Mereka Teman Lama", katanya. Tetapi kemudia Talia ketahui, perempuan itu ternyata adalah "Mantan" ayah dahulu sewaktu mereka di perguruan tinggi. Namanya Ibu Reni. Ia adalah seorang janda anak satu.

Dunia Talia terasa jungkir-balik. Ingin rasanya ia meyakini apa kata orang, bahwa mereka cuma berteman. Tetapi yang terlihat di depan matanya, Ayah dan perempuan itu semakin hari semakin dekat. Usia mereka sama-sama akhir empat puluhan, jadi tidak mungkin lagi mereka cuma bermain-main. Pikir Talia. Semakin dipikirkan, semakin sakit rasa hatinya.

Bukannya ia tidak merestui Ayah menikah lagi, tetapi tidak secepat ini juga. Tunggulah setidaknya satu tahun sejak kepergian ibu mereka. Ia sadar tidak berhak untuk protes, karena ia sendiri pun telah mengecewakan ayahnya ketika hamil di luar nikah dan tidak mampu menyelesaikan studinya. Akan tetapi sebagai anak, dia berhak untuk tidak merestui hubungan baru ayahnya.

Ya, bukan hanya anak yang perlu restu orang tua ketika akan berhubungan dengan orang lain, seharusnya seorang ayah atau ibu pun perlu restu dari anak-anak mereka ketika akan mendatangkan calon anggota keluarga baru di dalam rumah mereka. Anak-anak manusia tidak otomatis bisa menerima begitu saja, seperti anak-anak anjing yang tidak punya perasaan.

Ayah belum menikah secara sah dengan perempuan itu, akan tetapi mereka sering kali bertemu. Perempuan itu sering diajak datang menghadiri acara di rumah beberapa kerabat Talia. Mulai dari acara syukuran kecil seperti ulang tahun hingga acara besar seperti pesta pernikahan. Begitu pula Ayah. Sering kali pergi ke rumah keluarga perempuan itu, menghadiri beberapa undangan mereka. Tak ayal ia sering meninggalkan anak-anaknya sendiri di rumah.

Bahkan ketika berada di rumah pun, ayah terlihat sering sibuk menerima telepon. Talia merasa geli melihatnya, ayahnya bak anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Sering kedapatan berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya, senyum-senyum sendiri ketika membaca pesan di handphone dan berbagai kelakuan konyol lainnya yang sungguh tidak patut ditunjukkan oleh bapak-bapak anak lima.

Lihat selengkapnya