Di tengah semua kekacauan yang terjadi di dalam rumah, hadir seorang lelaki. Ben namanya, tidak pernah Talia kenal sebelumnya. Hidup rupanya belum berhenti memberinya kejutan.
Masih kerabat ternyata dan bekerja satu kantor dengan ayah Talia. Ia sering datang berkunjung dan menghabiskan waktu bersama Talia dan adik-adiknya. Awalnya Talia mengira hal itu cuma bentuk perhatian terhadap kerabat yang baru saja ditimpa musibah, tetapi lama-lama Talia menyadari perhatiannya terasa berbeda. Itu perhatian karena sayang dan peduli. Empati, bukan sekedar simpati. Lelaki itu terlibat lebih jauh ke dalam urusan rumah dan adik-adik Talia.
Ketika ayah Talia sering pergi dari rumah, pekerjaan seperti mengangkat galon, mengganti bola lampu yang rusak, mengisi token listrik dan berbagai pekerjaan khas lelaki lainnya diambil alih oleh Ben. Semua dilakukannya dengan senang hati, lama-lama Talia merasa bersalah karena banyak merepotkan lelaki itu.
Ben turut menasehati Thomas ketika lagi-lagi ia dipanggil menghadap guru BK di sekolahnya.
“Kami juga dulu nakal ketika masih seumuran kalian, tetapi yang wajar-wajar saja lah. Jangan sampai tidak menikmati kegiatan-kegiatan lainnya di sekolah.”
Thomas hanya tersenyum garing mendengar nasihat itu.
“Saya dulu pernah membolos beberapa kali, sekarang baru menyadari sebenarnya apa yang kami lakukan di luar sekolah pun tak ada gunanya. Masa SMA adalah masa paling indah, coba isi dengan hal-hal positif.” Tambah Ben, tanpa terlihat menggurui.
“Apa hobby kamu? Musik, basket, bulu tangkis, sepak bola? Coba alurkan energi kamu disana. Biar masa SMA ini menjadi berkesan, tidak berlalu begitu saja tanpa arti.” Thomas terlihat menyukai saran Ben yang ini, tetapi ia terlalu gengsi untuk mengangguk setuju.
Ben datang ke rumah sebanyak tiga sampai empat kali seminggu, hingga dia pun tahu bagaimana hubungan Talia dan adik-adiknya dengan ayah mereka. Bagaimana sesungguhnya mereka tidak menyetujui sang ayah untuk dekat dengan perempuan lain saat ini. Mereka ingin mengenang ibu mereka terlebih dahulu, alih-alih menyambut sang calon ibu baru. Terlebih lagi, anak-anak itu hanya ingin ayah mereka menghabiskan waktu luangnya bersama di rumah bukannya di luar sana.
Ben memahami perasaan mereka, dia pun akan melakukan hal yang sama jika jadi mereka. Lebih dari itu ternyata ia ingin terlibat lebih dalam lagi, ia mau mereka berbagi suka dan duka dengannya. Ia ingin menjadi teman bagi kelima anak itu, karena tanpa bisa dicegah ia telah jatuh cinta kepada Talia sejak hari pertama ia datang ke rumah mereka.
Tibalah hari itu, dimana Ben mengatakan beberapa kalimat yang membuat Talia sedikit kaget tetapi akhirnya paham makna kehadirannya selama ini. Pada hari minggu setelah makan siang bersama, di meja makan tinggalah Talia berdua saja dengan Ben.
Hana sedang tidur di kamar dan adik-adik Talia sudah beralih ke ruang keluarga, tengah asyik menonton televisi. Ayah seperti biasa sedang keluar, kemungkinan besar pergi mengunjungi perempuan itu. Ayah tidak pernah meminta izin anak-anaknya ketika hendak pergi, karena ia tahu anak-anaknya tidak akan mengizinkan. Ia terbiasa pergi saja, tanpa bilang-bilang.
“Lia,”
“Iya”
“Kamu mau menikah dengan saya?”
“Apa?”
“Kita menikah. Kamu dengan saya.”
“Apa aku tidak salah dengar?”
“Tidak. Aku serius.”
“Aku punya anak, kamu laki-laki lajang”
“Iya aku tahu, lalu kenapa?”
“Kamu yakin?”
“Iya.”
“Kita baru kenal tiga bulan.”
“Kita bisa saling mengenal sambil jalan.”
Jadi begini, dalam adat dan kebudayaan Talia ada yang dinamakan “Tungku”. Perjodohan antara anak perempuan dari seorang saudara dan anak lelaki dari saudari. Bukan saudara atau saudari kandung tentu saja. Hanya boleh untuk saudara sepupu jauh, bukan yang masih berasal dari satu Kakek dan Nenek. Dalam hal ini, Kakek Talia dari sang Ayah-lah yang merupakan saudara kandung Kakek Ben dari garis keturunan ibunya.
Perjodohan seperti ini masih berlaku di daerah mereka hingga masa kini, warisan kebudayaan turun-temurun dari nenek moyang. Tidak dipaksakan. Hanya bagi yang mau saja, bila suka sama suka. Terbukti baik dan masih banyak dianjurkan, tetapi tidak pernah diharuskan. Perjodohan semacam ini dimaksudkan agar tali persaudaraan tidak terputus oleh karena garis keturunan yang semakin panjang dan melebar.