Tiga minggu kemudian.
Elsa sudah menamatkan SMA-nya, Thomas kini berada di kelas tiga dan Erik di kelas satu SMA. Glen masuk kelas satu SMP, sedangkan Marsha kini berada di kelas empat SD.
Suatu hari setelah berbagai kesibukan mengurus Hana, memasak dan membersikan rumah bersama Elsa, Talia memanggil gadis itu untuk duduk berbicara dengannya di ruang keluarga. Sudah lama Talia memikirkan untuk menyampaikan hal ini.
“Sa mari sini, kakak mau bicara sesuatu.” Elsa mendekat dan duduk di sebelah Talia. "Anak gadisnya ibu. Ibu pasti bangga terhadap kamu dari atas sana dek, gadis cantik, baik dan rajin," ucap Talia sambil menatap Elsa lekat-lekat.
"Jadi malu ni kak," ujar Elsa dengan tersipu.
"Benar Sa, ibu pasti bangga sama kamu."
"Hehe, makasih kak."
Ada jeda beberapa saat, hingga akhirnya Talia memantapkan diri untuk menyampaikan suatu hal yang menjadi pertimbangan di dalam pikirannya beberapa minggu belakangan.
“Kamu mau, terus terjebak di rumah ini dek?,” tanya Talia perlahan dengan suara lembut karena tidak ingin Elsa merasa tersinggung dengan pertanyaan itu.
“Kenapa kak?,” wajah Elsa menunjukkan raut belum paham akan maksud Talia.
“Kamu masih muda, kamu tidak ingin pergi mencari kerja?,”
“Kak,”
“Kakak tidak bermaksud mengusir kamu, kakak hanya tidak mau kamu terlalu lama menghabiskan waktumu di rumah ini.”
“Aku harus kemana kak?”
“Ada banyak pekerjaan di luar sana dek, asal kamu tidak gengsi saja pasti kamu akan dapat pekerjaan.”
“Di jawa kak?”
“Di jawa, Makasar, Bali ada banyak. Nanti kakak akan coba kontak teman kakak di Bali agar dia bantu mencarikan untuk kamu.”
“Aman kak?”
“Aman dek di luar sana memang banyak orang jahat tetapi lebih banyak lagi orang baik”
“Aku takut ditipu, nanti malah terkena Perdagangan Manusia, seperti yang lagi rame sekarang di berita.”
“Jangan sampailah dek, kita akan cari sama-sama untuk kamu biar tidak jadi korban penipuan.”
“Baik kak.”
“Kakak senang kamu ada disini dengan kami. Kita hidup bersama selama ini, membagi suka duka dan saling menolong satu sama lain. Tetapi kakak tidak ingin curang, kamu berhak pergi kemanapun kamu mau, mencari pekerjaan yang halal dan memperoleh gaji kamu sendiri. Mungkin sedikit tetapi itu pasti akan sangat membahagiakan.”
Elsa meneteskan air matanya. Tidak mudah baginya untuk pergi dari rumah yang sudah membesarkannya selama lima belas tahun.