Sebulan kemudian.
Terjadi pertengkaran yang tak terelakkan. Ternyata sekeras apapun Talia berusaha, gelas yang sudah pecah tak akan mampu direkatkan kembali ke bentuk semula.
“Kak, ayah dimana?,” Erik bertanya dengan wajah merah padam. Ia baru pulang dari sekolah, bahkan belum meletakkan tas-nya di kamar.
“Bukannya tadi ke sekolah, kalian terima raport kan hari ini?”
“Tidak, dia tidak datang ke sekolah.”
“Tadi dia pergi, katanya sudah dapat izin dari kantor. Jadi aku pikir dia ke sekolah kalian.” Tukas Talia.
Thomas, Erik, Glenn, Marsha juga Elsa berada di kompleks sekolah yang sama karena masih berada dibawah satu naungan sebuah yayasan milik swasta yang mengelolah sekolah dari TK, SD, SMP dan SMA.
“Dia pasti pergi menemui perempuan itu”
“Belum tentu rik,”
“Iya kak, pasti.”
Talia terdiam, ia tidak bisa menyangkal perkataan adiknya yang kemungkinan besar betul adanya.
“Nanti kita tanyakan kalau ayah sudah datang.” Talia berusaha meredakan amara yang masih terpatri di wajah Erik. Dari dalam rumah Talia bisa mendengar suara motor Thomas memasuki garasi.
“Tidak perlu ditanyakan, sudah jelas dia pergi kemana.”
“Erik, jangan begitu tolong sopan sedikit sama ayah.”
“Aku benci dia kak, dia sekarang lebih mengutamakan perempuan itu daripada kita”
“Bisa jadi ada urusan mendadak di kantor atau di toko rik.”
Talia mengerti perasaan Erik saat ini. Dahulu ketika ibu masih ada, sudah jadi kebiasaan ketika penerimaan raport anak-anaknya ayah dan ibu membagi tugas. Siapa yang pergi ke sekolah Talia, Thomas dan Elsa, siapa yang ke sekolah Erik, Glenn dan Marsha. Sekarang setelah ibu tiada dan ayah mengabaikan undangan itu, pasti rasanya begitu berbeda. Perasaan kosong dan menyedihkan, melihat anak-anak lain hadir bersama orang tua mereka sedangkan Erik dan saudara-saudarinya tidak bersama siapa pun. Masih punya ayah tetapi merasa seperti sudah yatim-piatu.
“Kakak tahu kenapa kami sangat membenci ayah?,”Erik terlihat makin emosional terdengar dari helaan napasnya yang keras.
“Kenapa?”
“Jangan bilang rik,” Thomas muncul dari balik pintu.
“Biar kakak tahu,”
“Kenapa Erik?”
“Karena,”
“Erik jangan,” sergah Thomas.
“Karena ayah selingkuh.”
“Apa?, tidak mungkin”
“Iya kak, kami melihatnya sendiri.”
Thomas kini terdiam pasrah.
“Kami mendengar dia telepon dengan seorang perempuan ketika ibu sedang sakit di rumah sakit.” Erik menambahkan, “Selama ini kami menyembunyikan fakta ini dari kakak tetapi aku sudah tidak tahan lagi sekarang."
“Tidak mungkin Erik, Thomas kalian mungkin salah dengar?”