Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #11

Pernikahan

Namun benar kata orang, “Tak ada makan siang yang gratis.” Ayah ternyata sedang menyogok Talia. Baru ia sadari, setelah beberapa bulan kuliahnya berlangsung.

Ayah akan segera menikahi perempuan itu. Ayah, di suatu sisi memenuhi segala kebutuhan kuliah Talia dengan tujuan agar ia bisa mengendalikannya. Jika Talia bisa dikendalikan, maka adik-adiknya pasti akan gampang dipengaruhi. Di sisi lain, ia sedang merencanakan pernikahan dengan calon ibu baru mereka.

“Sudah kubilang kak, Ayah akan menikahi perempuan itu.”

“Iya dik dan kita tidak bisa berbuat apa-apa.”

"Aku benci ayah."

“Ayah sungguh tega.”

"Issshh,"

Talia cuma bisa diam, mendengar desisan Erik. Talia sejak awal memang tidak pernah terang-terangan mengatakan rasa tidak sukanya terhadap hubungan ayah dan perempuan itu. Talia melakukan hal-hal yang dahulu dilakukan ibunya dan mengusahakan kondisi rumah agar nyaman dan damai, rupanya tetap tidak pernah cukup untuk ayah mereka.

Maksud Talia dan adik-adiknya bukan untuk selamanya akan melarang ayah menikah lagi, mereka hanya tidak ingin waktunya sekarang dan orangnya adalah ibu Reni. Hanya itu, tetapi ternyata tetap sulit diwujudkan.

Talia yang pernah melakukan kesalahan fatal ditambah ia yang sekarang kembali bergantung uang kuliah kepada ayahnya bahkan setelah menikah, membuatnya menjadi lebih tidak berdaya lagi. Ia merasa sepenuhnya ada di dalam genggaman sang ayah, tidak bisa memprotes satu kata pun.

Hari pernikahan ayah semakin dekat, perasaan Talia campur aduk. Ia menunggu adanya sesuatu hal terjadi, entah apa yang dapat menghalangi pernikahan itu. Namun, tak ada yang cukup kuat mencegah mereka. Meski tidak mendapat restu dari kelima anaknya juga dukungan keluarga besar yang terbagi dua, ayah tetap kekeh pada pilihannya.

Sebagian keluarga besar ayah Talia, mau tidak mau memberikan restu mereka karena rencana ayah Talia yang tidak bisa dihentikan lagi. Sebagian yang lain, tidak dapat menyambut baik niat tersebut. Mereka merasa tak tega dengan almarhumah ibu Talia, masih teringat akan kebaikan hati wanita itu dan memilih berada di pihak Talia dan adik-adiknya.

Ada yang meminta agar ditunda dahulu setahun lagi, namun pada akhirnya mereka semua kalah. Tak ada satu setan dua binatang, yang mampu menghalangi ayah dan perempuan itu untuk melangsungkan pernikahan.

Harinya pun tiba. Ayah dan perempuan itu mengenakan pakaian pengantin dan mengucap janji pernikahan di gereja. Diikuti oleh beberapa kerabat dan hanya Talia satu-satunya dari kelima anaknya yang hadir menyaksikan peristiwa itu. Thomas, Erik, Glen dan Marsha memilih tidak hadir dan Talia tidak ingin memaksa mereka.

Talia datang ke pernikahan ayahnya bukan karena ia memberi restu, ia hadir karena mau membuat ayahnya puas. Bukankah itu yang diinginkan ayahnya selama ini? Menikah dengan perempuan itu? Nah, Talia akan hadir melihat, menyaksikan apakah betul ayahnya sebahagia itu. Apakah benar perempuan itu lebih baik dari ibu mereka? Talia hanya ingin melihat.

Resepsi pernikahan dilakukan di tenda samping rumah keluarga perempuan itu. Talia berlinang air mata memandang sang ayah dan berharap meskipun perih dalam hatinya. Semoga ayah bahagia, mau bagaimana lagi? memangnya apa yang bisa kami lakukan?, raung hati kecil Talia.

Lihat selengkapnya