Ayah dan perempuan itu memilih tinggal di sebuah rumah kontrakan, sembari merenovasi rumah peninggalan Kakek Nenek Talia yang sudah lama tidak dihuni. Talia dan adik-adiknya merasa bersyukur dengan hal tersebut, karena tidak bisa dibayangkan jika mereka harus hidup seatap dengan perempuan itu.
Seseorang yang berhubungan dengan ayah mereka bahkan sejak ibu mereka masih bernapas. Perempuan yang mau membina hubungan gelap dengan suami orang, sungguh tidak tahu malu. Tak punya harga diri. Seorang perempuan yang tidak sudi mereka panggil “ibu” atau “mama”, sebutan apa pun kepada seseorang yang mau menggantikan posisi ibu kandung mereka.
Sungguh hal tersebut tidak bisa dipaksakan, mereka tidak bisa pura-pura suka, pura-pura menerima dengan lapang dada. Tidak akan semudah itu.
Talia tidak bisa memaksa adik-adiknya untuk bersikap dewasa karena memang mereka belum dewasa. Ia sendiri-pun sejauh ini sedang tertatih-tatih dan berharap adik-adiknya tidak merasa frustrasi, menghadapi kenyataan yang kini terpampang di depan mata.
Ya. Semua demi kebaikan bersama. Ayah dan istri barunya menempati rumah yang berbeda, adalah sebuah langkah untuk dapat mencegah terjadinya pertengkaran lagi di masa yang akan datang.
Namun, Thomas dan Erik tidak bisa menerima semuanya begitu saja tanpa melakukan apa pun. Sebagai remaja lelaki, darah muda mereka kembali bergelora. Tak bisa terkendali, mereka berbuat ulah lagi.
Kata orang, "Anak laki-laki adalah pembela ibunya." Mereka yang dulunya melakukan pemberontakan terang-terangan, kini melakukan aksinya secara terselubung.
Thomas tamat SMA dan lulus masuk kampus negeri tiba-tiba memutuskan beralih ke kampus swasta, yang UKT-nya puluhan juta rupiah. Dia sengaja memilih jurusan Arsitektur yang terkenal lama lulusnya. Demikian pula kosnya, ia sengaja pilih kos di tempat yang mahal. Sepertinya dia berencana mengeruk dompet sang ayah.
“Tidak masalah, asal kamu kuliah sungguh-sungguh.” Ucap Ayah ketika melepas Thomas berangkat kuliah ke Jawa.
Erik lain lagi. Jika dahulu ia melampiaskannya dengan bermain game, sekarang ia mengikuti jejak Thomas yakni berbuat onar di sekolah. Tidak tanggung-tanggung, Erik dan teman-temannya melakukan tawuran dengan anak-anak sekolah lain. Puncaknya, ketika suatu hari Ayah mendapat telepon dari kantor polisi. Erik ditahan di sel 2x24 jam.
Erik memiliki kebiasaan untuk pulang ke rumah hanya untuk mandi dan makan selebihnya dia sering berada di luar rumah, tidurpun sering kali ia tidur di rumah teman-temannya.
“Mau sampai kapan kamu begini Erik?,” tanya Talia suatu hari karena merasa begitu kasihan pada adiknya itu.
Erik tidak menjawab, hanya mengangkat kedua bahunya.
“Kamu tidak capek?,” tanya Talia lagi.
“Tidak.” Erik menjawab singkat seperti ingin menunjukkan bahwa ia tidak suka ditanya-tanya.
“Jangan sampai kebablasan rik, kamu masih muda aku tidak mau kamu menyesal nantinya.”
"Tidak kak, aku cuma mau bikin ayah pusing saja," sela Erik santai.
"Kakak tidak mau kamu sampai celaka, sudah cukup rik." Talia berusaha menyadarkan adiknya itu.
Erik tidak menyahut lagi. Ia tenang duduk di kursinya menunggu hingga Talia selesai berbicara, tetapi Talia merasa tidak yakin anak itu benar-benar mendengarkan perkataannya. Mungkin ia hanya menganggap suara Talia bagai kicauan burung tak berarti apa pun.
Habis sudah kata-kata Talia, ia sontak mengatupkan mulutnya. Erik kemudian beranjak perlahan dari kursinya dan masuk kamar. Talia merasa kasihan, sayang dan perihatin. Tetapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Memberi nasihat tak jemu-jemunya.
Ayah Talia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama istri barunya, tetapi selalu berusaha menyempatkan setengah sampai satu jam waktunya di rumah anak-anaknya ketika pulang dari kantor. Namun ketika melihat ayah mereka datang, saat itu juga Erik akan pergi meninggalkan rumah.
Suatu hari kerena Talia terus mendesak Erik untuk berbicara, maka hari itu anak muda itu pun mengeluarkan beberapa kalimat tegas.
"Kakak tahu, aku jijik melihat ayah. Daripada aku muntah di hadapannya atau berbuat kasar padanya, lebih baik aku menghindar." Ucap Erik yang membuat Talia mengerti bagaimana sesungguhnya perasaan anak itu.
"Semua orang pernah berbuat salah rik, tidak ada satupun orang yang luput dari kesalahan. Kamu bisa lihat kakak kan', kakak juga pernah berbuat kesalahan besar." Talia mencoba memberi Erik sebuah pemahaman.
"Kakak memang hamil di luar nikah, tetapi ayah itu 'Pengkhianat," ujar Erik.