Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #13

Hidup

15 Juni 2025.

Hari-hari berlalu. Mustahil jika tidak terasa betapa beratnya menjalani hari demi hari, siang dan malam. Bulan berganti bulan, hingga kini enam tahun sudah ibu meninggalkan Talia dan adik-adiknya.

Hana sudah berusia enam tahun tiga bulan, Talia bahkan sebentar lagi akan punya bayi lagi. Kuliahnya sudah rampung, meskipun ia belum mendapatkan tempat kerja.

Thomas sekarang sedang bersusah payah menyelesaikan skripsinya. Niat awalnya untuk mengeruk dompet ayah dengan sengaja berkuliah lama-lama, rupanya hanya sekedar rencana belaka akibat perasaan emosional sesaat. Anak itu kini telah menjelma jadi mahasiswa rajin, yang selalu datang ke kampus tiap hari. Mengikuti kuliah dengan baik dan memperoleh nilai-nilai bagus.

Dia bahkan memiliki pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Meskipun gajinya tak seberapa, tetapi ia menjadi tahu akan nilai uang dan bagaimana upaya untuk memperolehnya. Ia kini telah banyak belajar dari kehidupan.

Erik kini sudah menjadi mahasiswa semester empat. Ia berkuliah di kota Yogyakarta dan mengambil jurusan ekonomi. Tak jauh beda dengan Thomas, ia juga menjadi mahasiswa yang sangat rajin berkuliah. Ia bersama tiga orang temannya bahkan punya usaha kecil-kecilan di bidang jasa desain dan edit video yang menawarkan keahlian mengedit video pendek atau desain grafis bagi UMKM.

Ibu pasti bangga terhadap anak-anaknya dari atas sana.

Glen berada di kelas dua SMA dan Marsha di kelas tiga SMP. Kedua anak itu hidup bersama Talia. Sesekali mereka pergi ke rumah ayah untuk beberapa hal, tetapi tidak pernah sekalipun nginap di sana lagi.

Ayah mereka masih rutin berkunjung seperti kebiasaannya. Segalanya menjadi wajar dan normal. Mereka semua sudah menyesuaikan diri pada ritmenya. Menjalani hidup apa adanya, sembari terus mengusahakan melakukan yang terbaik.

Elsa kini sudah empat tahun di tanah rantau. Anak itu rajin memberi kabar apa pun kepada Talia, setiap harinya. Persoalan di tempat kerja dengan bos atau rekan kerja, cerita tentang kehidupan sehari-hari di kos hingga potongan-potongan kisah percintaannya dengan lawan jenis.

Talia mendengar semuanya, mereka berdua saling curhat apapun satu sama lainnya. Gadis itu senantiasa menjadi wanita yang bersemangat, periang dan penuh dengan gairah hidup. Energi positifnya selalu berhasil menular kepada Talia setiap kali mereka saling bertukar pesan, bertelepon atau melakukan video call. Sehingga Talia merasa nyaman dan selalu menanti-nantikan kehadiran gadis itu, meskipun hanya berhubungan melalui ponsel.

Talia mengalami kelegaan luar biasa setelah tidak lagi memikirkan terkait ayah dan ibu baru mereka. Dia sudah tidak peduli lagi, apakah ayahnya bahagia atau tidak. Terdengar kejam memang, akan tetapi hidupnya menjadi lebih sederhana kini. Ia hanya berbicara seperlunya ketika ayah datang ke rumah. Suka tidak suka, ayahnya sudah punya kehidupan yang berbeda dengan mereka.

Persoalan keuangan adik-adiknya yang masih sekolah dilimpahkan sepenuhnya kepada mereka sendiri. Ia meminta mereka sendiri yang memberitahukan kepada ayah, berapa kebutuhannya masing-masing setiap bulannya, termasuk uang sekolah dan kampus. Ia ikut menambah sedikit-sedikit, ketika adik-adiknya sedang kepepet. Ia meminta mereka untuk bijak menggunakan uang dan belanja seperlunya saja, “Belanja kebutuhan, bukan keinginan.”

Tak hentinya ia mengingatkan adik-adiknya untuk belajar sungguh-sungguh. Kegagalannya dahulu tidak boleh dialami juga oleh adik-adiknya. Cukup ia yang hamil di luar nikah dan harus menunda sekolah, adik-adiknya ia harapkan sukses dalam belajar dan mampu melangkah pada alur yang semestinya.

Akan tetapi, bagi Talia mempertahankan “rumah” mereka adalah sebuah pencapaian. Barangkali cuma hal remeh-temeh bagi orang lain, tetapi bagi Talia, keluarga adalah segalanya. Mungkin rumahnya tidak akan kembali hangat seperti dahulu, tetapi melihat rumah itu tidak hangus dan menjadi debu merupakan sebuah rahmat. Tak ada pertumpahan darah yang terjadi di dalamnya adalah sebuah hal yang patut disyukuri.

Akhir-akhir ini banyak diberitakan baik di televisi maupun dari mulut ke mulut kejadian dimana hubungan keluarga menjadi hancur, pertengkaran antara anak dan orang tua begitu juga antara suami dan istri. Tidak jarang situasi-situasi tersebut memicu peristiwa kriminal seperti pembunuhan dan berujung di pengadilan.

Talia tak mampu membayangkan hal tersebut terjadi di dalam keluarganya. Dia berharap sampai kapan pun rumah mereka tetap berdiri "kokoh". Meskipun datang hujan badai, dilanda banjir atau disambar petir yang menghantam.

Sekeras apa pun dunia di luar sana, jika di dalam "rumah" ada kedamaian maka kita akan mampu menghadapi segala tantangan dan cobaan. Sebaliknya jika rumah kita rentan, fondasinya rapuh maka rumah itu akan gampang roboh meskipun cuma gempa bumi berskala kecil.

Itulah yang tak henti-hentinya Talia usahakan, memberikan suasana tenang dan damai bagi keluarganya. Akhirnya ia pun menyadari kenapa dahulu ia tidak membuang janinnya seperti wanita-wanita tak punya hati di luar sana, karena ia tahu ibunya akan menerimanya di dalam rumahnya.

Talia akan mengusahakan rumah itu juga untuk suaminya, anaknya, adik-adiknya dan ayahnya kapan pun ia mau pulang.

Kematian orang terkasih tentu tidaklah mudah untuk diterima. Perasaan kehilangan itu mampu menggerogoti jiwa, memudarkan senyuman dan membuat tawar hati. Tetapi, kita yang hidup, harus tetap hidup. Sesulit apapun itu. Seberat apapun beban di pundak kita, karena itu juga dikehendaki orang-orang terkasih kita dari atas sana. Mereka tentu ingin kita tetap semangat, berhasil dalam hidup dan meraih kebahagiaan. Bukan karena kita sudah melupakan mereka, tetapi karena kita punya tugas untuk HIDUP.

Hidup sampai suatu saat kita juga akan dipanggil menghadap kepadanya. Pada waktu-Nya.

Hari ini, Talia kembali merasa sangat rindu kepada ibunya. Ia ingin membuat kue brownies dan segera mengeluarkan beberapa bahan dan beberapa peralatan pembuatan kue. Hal ini yang selalu dia lakukan ketika rasa rindu itu kembali datang menghampiri.

Lihat selengkapnya