Air Susu dan Air Mata

Savana Radiani
Chapter #15

Elsa

Delapan bulan kemudian.

Talia dan Marsha tengah menonton acara televisi di ruang keluarga.

“Tok, tok, tok.” Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar.

Marsha berjalan perlahan menuju pintu untuk membukanya.

Talia menoleh ke jam di dinding dan melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

Siapa yang datang bertamu jam segini?, batin Talia.

“Kak Elsaaaa,” tak lama kemudian terdengar jeritan Marsha dari arah pintu.

Talia jelas mendengar nama Elsa yang disebut tetapi dia tetap pergi ingin memastikan, mengira kupingnya sudah salah dengar. Benar saja, Elsa yang datang dengan sebuah koper dan tas ransel di punggungnya.

“Ya ampun, Elsaaa!,” Talia berteriak kegirangan.

Tiga orang bersaudari itu berpelukan di depan pintu. Talia, Elsa dan Marsha sama-sama meneteskan air mata haru dan bahagia jadi satu. Mereka bertemu kembali setelah empat tahun lebih.

“Hana dan Andrew mana kak?,” tanya Elsa setelah melepas pelukannya.

“Mereka sudah bobo, tadi tidak bobo siang”. Andrew adalah putra Talia yang telah lahir beberapa bulan lalu. Sekarang ia sudah memiliki putra dan putri. Sudah lengkap, pas satu pasang.

“Oh, aku harus tunggu sampai besok baru bisa menggendong mereka ya?,” tanya Elsa terlihat tak sabar.

“Iya, tapi kamu tentu bisa melihat mereka sekarang. Ayo ke kamar,” ajak Talia. Elsa dan Marsha berjalan mengikuti di belakangnya. Pelan-pelan, agar tidak membangunkan Hana dan Andrew.

Koper dan tasnya Elsa tinggalkan begitu saja di lantai, karena tidak tahan lagi ingin segera pergi melihat Hana dan Andrew.

Ditatapnya wajah kedua makhluk mungil yang tengah terlelap itu sampai puas. Dari air mukanya terlihat jelas raut haru dan bahagia. Elsa memang sangat menyukai anak-anak. Dahulu Talia tidak pernah merasa ragu untuk membiarkan Hana berdua saja bersama Elsa seharian penuh, karena gadis itu pasti bisa mengurus bayinya dengan baik dan telaten.

Dari kamar Hana dan Andrew, ketiga perempuan itu pergi ke ruang keluarga. Ben dan Glen kemudian bergantian berjabatan tangan dengan Elsa, lalu kembali ke kamar mereka setelah geli melihat kehebohan tiga perempuan itu. Seolah ada sepuluh orang di dalam rumah.

Mereka melanjutkan acara lepas kangen, dan baru tidur jam dua pagi karena lupa waktu akibat merayakan kepulangan Elsa. Bertukar cerita sambil menikmati berbagai oleh-oleh khas Bali yang dibawakan Elsa.

Lihat selengkapnya