“Ayah mampu membiayai kalian, tak perlu uang asuransi itu,” Ayah Talia berkata dengan tenang setelah Glen mengetahui bahwa uang milik mereka tidak bisa didapatkan.
“Tapi sayang kan, uang itu hilang percuma. Coba saja ayah berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.” Ucap Glen dengan wajah memerah.
Talia menatap ayah mereka terdiam sesaat, barangkali sedang menata emosinya atau memikirkan kata yang harus keluar dari mulutnya.
“Ayah bisa Glen, ayah mampu mengongkos kalian. Jangan khawatir!” Ayah mereka terlihat santai, tetapi sebenarnya juga kecewa.
“Iya dulu, sekarang ayah akan pensiun dan disana ada perempuan pelit itu.” Glen berujar, tak peduli jika ayahnya akan marah mendengar ucapannya.
“Tolong sopan Erik, itu ibu kalian,” sergah Ayah.
“Dia tidak akan pernah menjadi ibu kami,” balas Glen dengan berani.
Ayah sontak terdiam. Talia merasa kasihan menatap ayahnya yang terlihat lemah dihadapan anak-anaknya sendiri, tetapi Talia juga tahu ayahnya memang harus melihat konsekuensi dari tindakan yang sudah ia perbuat.
Terjadi adu mulut lagi, kali ini antara Glen dan Ayah mereka. Tak bisa dicegah dan memang harus terjadi, minimal tidak menjadi beban pikiran belaka.
Uang asuransi milik adik-adiknya, Erik, Glen dan Marsha. Dana pendidikan yang harusnya bisa didapatkan dari Asuransi Taspen ayah mereka, hak mereka sebagai anak seorang PNS. Dana tersebut bisa dicairkan ketika ayah pensiun, akan tetapi karena ayah mereka sudah memiliki Kartu Keluarga baru sekarang, maka dana tersebut tidak bisa cair. Alias hangus.
Jumlahnya lumayan karena ayah mereka sudah menjadi PNS selama dua puluh tujuh tahun. Dana yang diambil dari potongan sekian persen dari gaji ayah setiap bulan. Dana itu adalah hak anak-anaknya. Raib begitu saja, karena sebuah keteledoran dan ketidaktahuan.
Harusnya ayah bertanya dahulu kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, sehingga tak terjadi hal seperti ini.
Talia dan Thomas tidak berhak sepeserpun karena usia mereka, namun tetap saja uang yang hilang itu sangat disayangkan. Mereka tidak bisa menuntut pemerintah karena memang mereka yang salah. Lebih tepatnya ayah mereka yang salah.
Uang tersebut bisa digunakan untuk membiayai kuliah adik-adik Talia kedepannya, membeli buku dan masih banyak lagi manfaat positif lainnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan kini, selain harus mengikhlaskan uang tersebut.
Untuk kesekian kalinya, mereka harus mengelus dada.
...
Tiga bulan kemudian.
"Kak, aku punya kabar baru." Ucap Thomas sesaat setelah ia menanyakan keadaan Talia dan semua orang rumah.
"Kabar apa Thom?," balas Talia. Ia sudah tahu Thomas akan bercerita tentang siapa, tetapi ia tidak tahu topiknya apa.
"Ayah dan ibu Reni akan membuat rumah baru." Thomas berbicara dengan lantang.
"Memang kenapa jika mereka membuat rumah Thom?," tanya Talia tak mengerti. Sejak lama Talia memang sudah mendengar rencana ayah mereka untuk membangun rumah.
"Kakak tahu dimana mereka akan membuat rumah?," ujar Thomas tak sabar.
"Memangnya dimana?," Talia tak habis pikir kenapa Thomas tidak berbicara langsung saja ke intinya.
"Di kampung asal perempuan itu," celetuk Thomas sepertinya sadar bahwa Talia sudah tidak sabar untuk mendengar jawabannya.