AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #1

Negeri Tanpa Keluh

Elian Arka baru menyadari betapa sunyinya sebuah kota ketika ia menginjakkan kaki di negara lain untuk pertama kalinya pada usia dua puluh tujuh tahun. Bukan sunyi karena jalan-jalannya lengang atau gedung-gedungnya kosong, tapi sunyi yang lahir dari wajah-wajah manusia yang saling menghindari pandangan. Orang-orang berjalan tergesa dengan kepala tertunduk menatap layar kecil di genggaman, sesekali menoleh dengan curiga ketika seseorang melintas terlalu dekat, seolah setiap langkah adalah kemungkinan buruk yang harus diwaspadai. Pengalaman itu hanya berlangsung tiga hari sebelum ia kembali ke tanah kelahirannya, tetapi tiga hari sudah cukup membuatnya mengerti bahwa rasa aman ternyata bukanlah sesuatu yang dimiliki semua bangsa.

Ketika pesawat yang membawanya menembus lapisan awan dan daratan, Aisenodni mulai tampak dari balik jendela, dadanya dipenuhi perasaan yang selalu sulit ia jelaskan. Kota-kota di bawah sana berdiri rapi seperti barisan kalimat yang ditulis oleh tangan seorang penyair yang tak pernah mengenal salah ketik. Jalan-jalan membelah permukiman dengan keteraturan yang nyaris mustahil ditemukan di tempat lain. Hamparan pepohonan tumbuh berdampingan dengan gedung-gedung kaca yang menjulang tanpa saling menelan langit. Sungai-sungai mengalir bening di antara taman-taman kota, sementara kereta magnetik meluncur senyap di atas jalur layang yang memantulkan cahaya matahari sore seperti seutas benang perak.

"Akhirnya pulang juga."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Elian, lebih seperti bisikan kepada dirinya sendiri daripada ungkapan yang ditujukan kepada siapa pun. Perempuan tua yang duduk di sebelahnya mendengar kalimat itu, lalu tersenyum hangat.

"Tidak ada tempat yang lebih menenangkan daripada rumah, bukan?"

Elian mengangguk pelan. "Ya, benar."

Pesawat mendarat dengan lembut. Tak terdengar tepuk tangan para penumpang sebagaimana kebiasaan di beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Semua orang turun dengan tertib, saling memberi jalan tanpa perlu diminta. Seorang anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan boneka kainnya bahkan belum sempat menyadari kehilangan itu ketika seorang pria berjas sudah memungutnya, berjongkok, lalu menyerahkan boneka tersebut dengan senyum yang begitu tulus sehingga anak itu membalasnya dengan pelukan singkat di kaki pria asing tersebut. Sang ibu berkali-kali mengucapkan terima kasih, sementara pria itu hanya menggeleng pelan, seolah kebaikan sekecil itu tidak pantas menerima penghargaan sebesar apa pun. Pemandangan semacam itu terlalu biasa bagi warga Aisenodni. Namun setiap kali Elian kembali dari luar negeri, ia selalu melihatnya seperti seseorang yang baru pertama kali lahir ke dunia.

Bandara Internasional Aisenodni tidak dipenuhi petugas bersenjata. Yang berdiri di beberapa titik hanyalah petugas pelayanan dengan seragam abu-abu muda dan lencana bergambar pohon ek yang tumbuh dari sebuah lingkaran. Mereka lebih sering menunjukkan arah kepada wisatawan daripada memeriksa barang bawaan. Pemeriksaan keamanan tetap ada, tentu saja, tetapi berlangsung cepat, nyaris tanpa ketegangan. Tidak ada wajah tegang yang takut dianggap mencurigakan. Tidak ada bentakan. Tidak ada suara keras yang memerintahkan orang untuk bergerak lebih cepat.

Elian pernah bertanya kepada seorang rekannya dari luar negeri, mengapa setiap pemeriksaan di negara mereka terasa seperti memasuki wilayah perang. Rekannya hanya tertawa pahit.

"Karena kami tidak pernah benar-benar tahu siapa yang akan menusuk kami dari belakang."

Kalimat itu masih diingat Elian hingga sekarang, tetapi ia tidak pernah benar-benar memahami maknanya. Baginya, dunia memang punya sisi jahatnya. Ia membaca semuanya di buku sejarah negara-negara lain. Pembunuhan, pencurian, perang saudara, aksi teror, perdagangan manusia. Semua itu nyata. Semua itu pernah terjadi. Hanya saja, semua itu terasa begitu jauh. Sejauh kisah tentang naga atau kerajaan yang telah tenggelam berabad-abad silam.

Begitu keluar dari bandara, aroma tanah yang baru selesai diguyur hujan menyambutnya bersama embusan angin musim semi yang lembut. Pepohonan di sepanjang boulevard utama bergoyang perlahan, menggugurkan beberapa helai daun ke trotoar yang bahkan belum sempat terlihat kotor karena beberapa robot pembersih bergerak tenang menyapu setiap sudut jalan. Tidak terburu-buru, tidak pula lambat, seolah mereka memahami bahwa kebersihan bukan pekerjaan yang harus dikejar, melainkan kebiasaan yang dipelihara.

Elian memilih pulang menggunakan trem kota daripada kendaraan pribadi. Ia selalu menyukai perjalanan itu. Dari balik jendela kaca, kehidupan Aisenodni mengalir tanpa perlu dipamerkan. Seorang pemuda membantu lelaki tunanetra menyeberang jalan, lalu berlari kecil mengejar trem berikutnya tanpa sedikit pun terlihat kesal karena tertinggal. Dua perempuan yang baru selesai berolahraga berhenti untuk memungut sampah kecil yang tertiup angin, kemudian kembali mengobrol sambil tertawa. Seorang pengantar barang meninggalkan beberapa paket di depan rumah-rumah tanpa perlu meminta tanda tangan atau memastikan pemilik rumah ada di tempat. Tidak ada yang mengambilnya karena memang tidak ada yang ingin mengambil sesuatu yang bukan milik mereka.

Lihat selengkapnya