AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #2

Arsiparis Negara

Pagi di Kementerian Sejarah Nasional selalu diawali oleh bunyi yang nyaris tak pernah dianggap penting oleh siapa pun selain Elian Arka: suara halus pintu-pintu ruang arsip yang terbuka secara otomatis tepat pukul tujuh. Bukan denting logam, bukan pula derak engsel yang menua dimakan waktu, tapi desis pelan yang terdengar seperti embusan napas seseorang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Setiap kali suara itu terdengar, Elian selalu memiliki perasaan yang sama, seolah ribuan kisah masa lalu sedang membuka mata dan menunggu seseorang menyapanya.

Sebagian orang menganggap sejarah hanyalah kumpulan tanggal, nama, dan peristiwa yang tak lagi punya urusan dengan kehidupan hari ini. Mereka membacanya untuk lulus ujian, menghafalnya untuk mendapatkan nilai baik, lalu melupakannya begitu lembar jawaban dikumpulkan. Namun Aisenodni tidak pernah memperlakukan sejarah seperti barang usang yang disimpan di gudang. Di negeri ini, sejarah adalah fondasi agar masa depan tidak kehilangan pijakan.

Gedung Kementerian Sejarah Nasional berdiri di sisi timur ibu kota, menghadap sebuah danau buatan yang airnya begitu jernih hingga bayangan bangunan itu tampak lebih nyata daripada bentuk aslinya. Dari luar, bangunan tersebut tidak terlihat megah sebagaimana kementerian-kementerian lain. Arsiteknya memilih garis-garis sederhana dengan dinding batu terang dan kaca lebar yang membiarkan cahaya matahari masuk hampir ke setiap ruangan.

"Selamat pagi, Elian." Suara itu datang dari seorang petugas kebersihan yang sedang menyiram tanaman di halaman depan.

"Pagi, Pak Roven."

"Luar negeri menyenangkan?"

Elian tersenyum kecil. "Menyenangkan untuk dikunjungi."

"Lalu?"

"Terlalu melelahkan untuk ditinggali."

Pak Roven tertawa lirih sebelum kembali mengarahkan selang air ke rumpun bunga yang baru mulai mekar. Percakapan mereka selesai begitu saja, ringan dan tanpa basa-basi berlebihan, tetapi cukup untuk menghangatkan pagi yang masih diselimuti udara sejuk. Sesampainya di lobi utama, Elian meletakkan telapak tangannya di panel identifikasi. Dalam hitungan detik, layar tipis di depannya memunculkan nama lengkap, jabatan, dan daftar pekerjaan yang telah menunggunya sejak semalam.

ELIAN ARKA

Arsiparis Tingkat II

Divisi Preservasi Sejarah Nasional

Di bawahnya terdapat tiga puluh dua berkas yang harus diperiksa hari itu. Tidak ada keluhan. Justru angka sebanyak itu membuat Elian merasa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan.

Banyak orang menganggap pekerjaannya membosankan. Menghabiskan waktu di antara dokumen-dokumen tua, memindai arsip yang mulai rapuh, mencocokkan data digital dengan naskah asli, memastikan setiap catatan sejarah tersimpan dalam lebih dari satu media penyimpanan, terdengar seperti pekerjaan yang hanya cocok dilakukan oleh orang-orang yang takut berhadapan dengan dunia luar. Padahal bagi Elian, setiap dokumen punya kehidupan. Selembar surat yang ditulis lima puluh tahun lalu masih menyimpan napas orang yang menuliskannya. Sebuah foto yang mulai memudar tetap mampu memelihara tawa seseorang yang mungkin telah lama meninggal. Bahkan tanda tangan di sudut kertas adalah bukti bahwa pernah ada tangan manusia yang gemetar, terburu-buru, atau penuh keyakinan ketika menggoreskannya.

Menyelamatkan arsip bukan sekadar menyimpan kertas. Ia sedang menyelamatkan ingatan. Dan sebuah bangsa tanpa ingatan tak ubahnya seseorang yang bangun setiap pagi tanpa pernah tahu siapa dirinya.

Ruang kerja Divisi Preservasi berada di lantai lima. Begitu pintu lift terbuka, aroma khas kertas tua bercampur pendingin ruangan langsung menyambutnya. Di sepanjang koridor berjajar rak-rak kaca yang memamerkan salinan beberapa dokumen penting nasional. Bukan untuk dipuja, lebih sebagai pengingat bahwa perjalanan sebuah bangsa selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana, sebuah tulisan, sebuah keputusan, atau bahkan secarik catatan yang nyaris dibuang.

"Selamat pagi!"

Suara ceria itu berasal dari Liora, rekan satu timnya yang sudah lebih dulu duduk di depan meja kerja sambil memegang secangkir kopi.

"Kau kembali lebih cepat."

"Konferensinya selesai kemarin."

"Lalu? Dunia di luar masih sama berisiknya?"

Elian terkekeh. "Kurang lebih."

"Syukurlah. Berarti kita masih tinggal di tempat yang benar."

Percakapan itu mengundang tawa kecil dari beberapa pegawai lain yang sedang menyalakan komputer masing-masing. Tak ada yang merasa perlu mencari siapa yang paling lucu atau paling pintar. Candaan-candaan semacam itu muncul begitu saja, lalu menguap bersama kesibukan pagi. Di banyak tempat kerja yang pernah ia dengar dari cerita para akademisi asing, kantor adalah arena pertarungan yang lebih sunyi daripada medan perang. Orang-orang tersenyum ketika berpapasan, tetapi saling menjatuhkan di ruang rapat. Mereka mengucapkan selamat atas keberhasilan rekannya, sementara diam-diam berharap keberhasilan itu tidak berlangsung lama.

Elian tak pernah benar-benar memahami mengapa seseorang harus membenci orang yang bekerja di meja sebelahnya. Di kementerian ini, jika seseorang menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, ia akan membantu meja lain yang masih kewalahan. Jika ada pegawai yang sakit, pekerjaan mereka dibagi rata tanpa perlu diperintah atasan. Bahkan promosi jabatan sering kali dirayakan bersama, bukan dipandang sebagai kekalahan bagi yang lain. Barangkali terdengar terlalu ideal. Namun begitulah kehidupan yang selama ini ia kenal.

Lihat selengkapnya