AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #3

Hari-Hari yang Terlalu Sempurna

Ada kebiasaan kecil yang selalu dilakukan Elian setiap Rabu pagi, kebiasaan yang bahkan tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun karena terasa terlalu sederhana untuk dianggap menarik. Ia sengaja berangkat ke kantor hampir satu jam lebih awal, bukan karena takut terlambat ataupun mengejar penilaian baik dari atasannya, tapi karena ia menyukai perjalanan ketika kota belum sepenuhnya sibuk. Bagi sebagian orang, waktu hanyalah angka yang bergerak di layar jam tangan. Bagi Elian, setiap jam punya wataknya sendiri. Pagi adalah saat ketika sebuah kota memperlihatkan kejujurannya.

Aisenodni selalu tampak cantik pada pukul enam. Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan sungai yang membelah ibu kota, sementara matahari perlahan naik dari balik jajaran gedung tanpa pernah benar-benar kehilangan ruangnya di langit. Pepohonan yang ditanam di sepanjang trotoar memantulkan embun dari ujung-ujung daunnya, membuat cahaya pagi berkilauan seperti serpihan kaca yang ditaburkan dengan sengaja. Orang-orang mulai keluar dari rumah, sebagian berjalan kaki, sebagian mengendarai sepeda, sebagian lagi menunggu trem yang datang tepat waktu sebagaimana datangnya matahari setiap hari.

Tak ada suara klakson yang saling berebut. Tak ada pengendara yang menerobos lampu lalu lintas. Tak ada wajah yang dipenuhi sumpah serapah hanya karena kendaraan di depannya melaju sedikit lebih lambat. Lalu lintas bergerak sebagaimana aliran sungai yang tenang, tetapi tidak pernah berhenti.

Elian sering mendengar cerita tentang kemacetan dari tamu-tamu asing yang berkunjung ke kementerian. Mereka menggambarkannya dengan berbagai cara; ada yang menyebutnya sebagai ujian kesabaran, ada pula yang menganggapnya bagian dari kehidupan kota modern. Salah seorang profesor bahkan pernah berkata sambil tertawa getir bahwa ia menghabiskan hampir tiga jam setiap hari hanya untuk berpindah dari rumah ke kantornya.

Tiga jam.

Elian tak pernah benar-benar bisa membayangkannya. Baginya, tiga jam adalah waktu yang cukup untuk membaca satu buku sejarah, merapikan puluhan arsip, atau menikmati makan malam bersama keluarga. Menghabiskan waktu di atas kendaraan terdengar seperti cara paling menyedihkan untuk kehilangan sebagian hidup.

Trem datang beberapa detik setelah ia tiba di halte. Tidak lebih cepat ataupun lambat. Ketepatan waktu di Aisenodni tidak lahir dari obsesi terhadap disiplin, tapi dari rasa hormat kepada waktu orang lain. Elian pernah membaca kalimat itu dalam sebuah buku filsafat pelayanan publik ketika masih menjadi mahasiswa, dan hingga hari ini ia masih menganggapnya sebagai salah satu definisi paling indah tentang tata kelola sebuah negara.

Di dalam trem, kursi-kursi hampir terisi penuh, tetapi suasananya jauh dari sesak. Beberapa penumpang membaca buku elektronik, sebagian menikmati musik melalui alat pendengar kecil, sementara seorang gadis berseragam sekolah tampak sibuk membantu adiknya menghafal nama-nama rasi bintang yang akan keluar dalam ujian hari itu.

"Kalau Orion punya tiga bintang di sabuknya, Kakak, kenapa bentuknya tidak lurus?"

"Karena langit tidak pernah benar-benar sesederhana gambar di buku."

Elian tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Entah mengapa, anak-anak di Aisenodni selalu terdengar lebih ingin tahu daripada terburu-buru menjadi dewasa.

Ketika trem melintasi kawasan pendidikan, ratusan pelajar turun dengan tas yang hampir seragam ukurannya. Tidak ada sekolah berpagar tinggi yang memisahkan satu murid dari murid lainnya berdasarkan status ekonomi. Di negeri ini, setiap anak berhak belajar di sekolah yang sama baiknya, diajar oleh guru-guru yang melalui proses seleksi yang sama ketatnya, menggunakan fasilitas yang tidak jauh berbeda satu sama lain. Pendidikan bukan barang mewah. Bukan pula hadiah. Apalagi hak istimewa. Pendidikan dipandang sebagaimana udara. Sesuatu yang harus tersedia bagi semua orang agar kehidupan dapat berlangsung dengan semestinya.

Di persimpangan berikutnya, trem berhenti sedikit lebih lama. Dari jendela, Elian melihat seorang anak perempuan duduk di atas kursi roda ditemani ayahnya. Keduanya sedang memasuki sebuah gedung sekolah dasar yang halaman depannya dipenuhi bunga matahari. Tidak ada pintu khusus. Tidak ada jalur belakang. Seluruh bangunan dirancang agar siapa pun dapat memasukinya tanpa merasa berbeda. Sesaat Elian teringat pada artikel yang pernah ia baca mengenai beberapa negara yang masih memperdebatkan apakah pendidikan harus gratis atau tidak. Pertanyaan itu selalu terasa asing baginya. Bagaimana mungkin masa depan bisa diperjualbelikan?

Perjalanan berlanjut menuju pusat kota. Di sisi kanan rel berdiri Kompleks Medika Nasional, rumah sakit terbesar di Aisenodni. Bangunannya luas, dikelilingi taman hijau yang lebih menyerupai kebun raya daripada fasilitas kesehatan. Dari kejauhan tampak beberapa dokter berjalan santai bersama pasien lanjut usia yang sedang menjalani terapi ringan di jalur pejalan kaki. Yang paling menarik perhatian Elian bukanlah bangunannya, tapi pintu masuknya. Tak pernah ada antrean panjang. Tak pernah ada keluarga yang tidur di lorong karena menunggu ruang perawatan. Tak pernah ada orang yang memegang map berisi hasil pemeriksaan sambil kebingungan mencari biaya pengobatan. Karena negara telah lama memutuskan bahwa seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit tidak seharusnya masih dibebani perjuangan melawan sistem.

Elian memandang rumah sakit itu hingga perlahan menghilang di balik deretan pepohonan. Ada rasa syukur yang selalu datang diam-diam setiap kali ia melihatnya. Sebab ia tahu, jika suatu hari tubuhnya mengkhianatinya, ia tidak perlu takut kehilangan hidup hanya karena tak mampu membayarnya.

Lihat selengkapnya