AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #4

Festival Harmoni

Ada hari-hari tertentu ketika suatu bangsa berhenti menghitung dirinya melalui angka-angka; bukan melalui pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan, atau laporan pembangunan yang memenuhi meja para pejabat. Pada hari-hari semacam itu, sebuah negara memilih bercermin pada wajah rakyatnya sendiri, lalu bertanya dengan jujur apakah kebahagiaan benar-benar masih tinggal di sana? Di Aisenodni, hari itu datang setiap awal musim semi dan dikenal dengan nama Festival Harmoni. Tak seorang pun diwajibkan datang, tak ada daftar hadir, pula demikian tak ada pidato yang memaksa tepuk tangan. Namun sejak puluhan tahun silam, jalan-jalan utama ibu kota selalu dipenuhi manusia yang datang dengan kemauan mereka sendiri, seolah seluruh negeri diam-diam telah membuat janji untuk saling mengingatkan bahwa hidup tidak hanya tentang bekerja, tapi juga tentang merayakan kenyataan bahwa mereka berhasil melewati satu tahun lagi tanpa saling melukai.

Pagi itu, Elian bangun lebih lambat dari biasanya. Matahari telah mengintip dari sela-sela tirai apartemennya ketika suara musik tradisional mulai terdengar dari taman kota yang hanya berjarak beberapa blok. Alunan biola berpadu dengan bunyi seruling dan tabuhan perkusi yang lembut, mengalir bersama embusan angin hingga memasuki ruangan tanpa perlu mengetuk pintu. Ia membuka jendela. Udara musim semi menyambut wajahnya dengan aroma bunga liar yang sedang bermekaran di sepanjang boulevard. Dari lantai dua belas, kota tampak berubah menjadi lautan warna. Kain-kain panjang berwarna putih dan emas menggantung di antara gedung-gedung, membentang melintasi jalan seperti doa-doa yang dijahit menjadi satu. Di beberapa sudut, para sukarelawan sedang menata meja-meja panjang berisi makanan yang boleh dinikmati siapa saja. Tak ada stan berbayar, tak ada tiket masuk, tak ada pembatas yang memisahkan siapa yang mampu membeli dan siapa yang tidak. Festival itu milik semua orang. Sebagaimana negeri ini selalu mengaku menjadi rumah bagi seluruh warganya.

Elian mengenakan kemeja linen berwarna biru muda yang hanya ia pakai pada acara-acara tertentu. Ketika keluar dari apartemen, ia mendapati seorang anak laki-laki sedang berusaha memasang pita putih di pagar taman kecil depan gedung.

"Panjangnya kurang?" tanya Elian sambil mendekat.

Anak itu mengangguk dengan wajah serius yang lucu. "Aku tidak bisa menjangkau ujung sana."

Elian mengambil salah satu ujung pita itu, mengikatkannya pada tiang pagar, lalu merapikannya hingga membentuk lengkungan kecil.

"Nah."

Anak itu memandangi hasilnya beberapa detik sebelum tersenyum lebar.

"Ibu bilang kalau semua rumah memasang pita hari ini, kota akan terlihat seperti sedang tersenyum."

Elian ikut tersenyum.

"Ibumu benar."

Anak itu mengucapkan terima kasih, lalu berlari pergi membawa gulungan pita berikutnya. Sesederhana itu. Di negeri lain mungkin seseorang akan menganggapnya sekadar hiasan. Namun di Aisenodni, simbol-simbol kecil sering kali lebih dihargai daripada kemegahan.

Perjalanan menuju pusat kota pagi itu terasa berbeda dari hari-hari biasa. Trem tetap datang tepat waktu, tetapi sebagian besar penumpangnya memilih berdiri di dekat jendela sambil menikmati pemandangan. Jalan-jalan dipenuhi keluarga yang berjalan kaki bersama. Ada pasangan muda yang mendorong kereta bayi, kelompok lansia yang mengenakan pakaian adat dari berbagai wilayah Aisenodni, hingga mahasiswa-mahasiswa yang memainkan musik di setiap sudut tanpa berharap imbalan. Sesekali seseorang berhenti hanya untuk membantu orang lain mengambil foto keluarga. Tak seorang pun merasa terganggu.

Begitu tiba di Alun-Alun Persatuan, Elian langsung disambut gelombang manusia yang memenuhi ruang terbuka itu. Anehnya, keramaian sebesar ini tidak pernah terasa sesak. Orang-orang seolah memahami bahwa ruang publik adalah milik bersama, sehingga tak ada yang berebut tempat terbaik ataupun saling mendorong untuk melihat panggung utama. Anak-anak berlarian mengejar gelembung sabun raksasa yang diterbangkan para relawan. Tawa mereka bercampur dengan suara burung yang beterbangan rendah di atas pepohonan, menciptakan irama yang lebih indah daripada musik mana pun yang diperdengarkan melalui pengeras suara.

Seorang gadis kecil terjatuh ketika berlari. Belum sempat ia menangis, tiga orang asing telah lebih dulu menghampirinya.

"Terluka?"

Gadis itu menggeleng. "Hanya kaget."

Salah seorang perempuan meniup pelan lututnya yang sedikit memerah, sementara lelaki tua di sampingnya mengeluarkan permen dari saku jas.

"Nih. Obat paling ampuh."

Gadis kecil itu tertawa, menerima permen tersebut, lalu kembali berlari seolah dunia memang tidak pernah menyimpan alasan untuk membuatnya takut.

Elian terpaku pada pemandangan itu, tanpa sadar mengembuskan napas pelan. Ada kalanya ia merasa negeri ini terlalu bagus untuk menjadi nyata. Namun setiap kali pikiran itu muncul, kenyataan selalu berdiri di hadapannya, sederhana dan apa adanya.

Di tengah alun-alun, panggung utama belum digunakan. Tidak ada artis terkenal yang menjadi pusat perhatian. Sebaliknya, berbagai komunitas seni dari seluruh penjuru negeri bergantian menampilkan tarian, musik, dan pembacaan puisi. Tepuk tangan yang terdengar bukanlah tepuk tangan karena nama besar seseorang, tapi penghargaan terhadap setiap orang yang bersedia berbagi sedikit keindahan kepada orang lain. Festival Harmoni tidak pernah dirancang untuk menciptakan kekaguman. Festival itu diciptakan agar setiap orang pulang dengan keyakinan bahwa mereka masih memiliki sesama. Dan bagi Elian, barangkali itulah alasan mengapa ia selalu menantikan hari ini lebih daripada hari ulang tahunnya sendiri.

Menjelang tengah hari, matahari telah naik cukup tinggi hingga bayang-bayang pepohonan di Alun-Alun Persatuan mengecil di bawah kaki orang-orang yang berlalu-lalang. Anehnya, semakin banyak warga yang berdatangan, suasana justru semakin tenang. Tidak ada pengeras suara yang memerintahkan massa bergerak. Tidak ada pagar besi yang membelah kerumunan menjadi beberapa lapis. Bahkan Elian baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pikirkan. Hampir tidak ada petugas keamanan. Yang terlihat hanyalah beberapa petugas layanan publik berseragam putih gading yang lebih sibuk membantu anak-anak menemukan orang tuanya, menunjukkan letak fasilitas kesehatan, atau mengantarkan wisatawan yang kebingungan membaca peta digital. Tak ada senapan yang menggantung di bahu, tak ada kendaraan taktis yang berjaga, tak ada wajah-wajah tegang yang memandang setiap orang sebagai kemungkinan ancaman. Seolah sebuah perayaan memang tidak seharusnya dimulai dengan rasa curiga.

Lihat selengkapnya