AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #5

Permintaan yang Selalu Dikabulkan

Sebagian besar orang mengira kekuatan sebuah negara terletak pada gedung-gedung pemerintah yang menjulang tinggi, ruang-ruang sidang yang dipenuhi orang-orang berjas, atau lembar-lembar undang-undang yang disusun begitu tebal hingga nyaris mustahil dibaca dalam semalam. Elian pernah beranggapan yang sama ketika masih kecil. Ia membayangkan keputusan-keputusan besar lahir di balik pintu kayu yang hanya bisa dibuka oleh mereka yang berjabatan tinggi, sementara rakyat biasa hanya bisa menunggu hasilnya seperti petani yang berharap hujan turun tepat waktu. Namun Aisenodni tumbuh dengan cara yang berbeda. Di negeri ini, pemerintah tidak dibangun di atas dinding yang memisahkan penguasa dari rakyatnya. Ia berdiri di atas sebuah keyakinan yang terdengar terlalu sederhana untuk dipercaya: bahwa negara ada untuk mendengarkan terlebih dahulu sebelum memutuskan. Keyakinan itulah yang melahirkan Sistem Aspirasi Nasional.

Bagi warga Aisenodni, sistem itu bukan sesuatu yang istimewa. Ia telah hadir begitu lama hingga keberadaannya terasa sewajar listrik yang mengalir dari stopkontak atau air bersih yang keluar dari keran. Anak-anak mengenalnya sejak bangku sekolah dasar. Para lansia menggunakannya tanpa harus meminta bantuan cucu-cucu mereka. Bahkan wisatawan asing sering kali menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mempelajari bagaimana sebuah sistem semacam itu dapat berjalan tanpa tenggelam dalam kekacauan.

Pagi itu, ketika Elian tiba di kementerian, layar informasi besar di lobi sedang menampilkan laporan mingguan pelayanan publik.

Permohonan Masuk Minggu Ini: 142.318

Telah Diselesaikan: 141.907

Dalam Proses Verifikasi: 411

Angka-angka itu terus berubah setiap beberapa detik, tetapi bukan jumlahnya yang selalu menarik perhatian Elian. Yang membuatnya tak pernah bosan memandang layar tersebut adalah satu baris kecil di bagian bawah.

Rata-rata waktu penyelesaian: 18 jam 42 menit.

Ia masih ingat bagaimana seorang peneliti administrasi publik dari luar negeri pernah berdiri cukup lama di depan layar yang sama, lalu menggeleng berkali-kali seolah sedang berusaha memastikan dirinya tidak salah membaca.

"Delapan belas jam?" tanyanya waktu itu.

Elian mengangguk. "Rata-rata."

"Itu … untuk semua jenis permohonan?"

"Hampir semuanya."

Peneliti itu tertawa pendek. "Di negaraku, delapan belas jam bahkan belum cukup untuk menemukan meja tempat kami harus mengajukan formulir."

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Namun dari wajah lelaki tersebut, Elian tahu ia sedang mengatakan sesuatu yang sungguh-sungguh.

Ia melangkah melewati lobi menuju ruang kerja. Di salah satu sisi koridor terdapat sebuah ruang terbuka yang disebut Galeri Aspirasi, tempat beberapa permohonan warga yang telah selesai dipenuhi dipajang sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat. Tak ada nama lengkap pemohon yang ditampilkan. Hanya cerita singkat mengenai kebutuhan mereka dan bagaimana negara membantu mewujudkannya. Hari itu, sebuah layar holografik sedang menampilkan kisah seorang perempuan muda dari wilayah utara.

Permohonan: Hunian baru.

Alasan: Rumah lama rusak akibat longsor.

Status: Disetujui.

Penyelesaian: Tiga belas hari.

Layar kemudian menampilkan foto rumah baru yang sederhana, dikelilingi taman kecil dengan dua pohon mangga yang baru ditanam. Tak ada pidato peresmian maupun potret pejabat sedang memotong pita. Yang tampak hanya seorang ibu memeluk kedua anaknya di depan rumah yang akhirnya bisa mereka sebut sebagai tempat pulang.

Elian berhenti beberapa detik karena kisah semacam itu terlalu sering ia lihat hingga nyaris menjadi bagian dari rutinitas. Di layar berikutnya muncul cerita seorang pemuda yang mengajukan bantuan modal untuk membuka bengkel sepeda listrik.

Permohonan: Modal usaha.

Status: Disetujui.

Pendampingan: Enam bulan.

Alih-alih sekadar memberikan dana, negara juga menyediakan pelatihan manajemen, akses pemasaran, dan pendamping usaha yang akan membantu hingga bisnis tersebut benar-benar mandiri.

"Selamat pagi."

Suara Liora membuat Elian menoleh.

"Kau melihat laporan lagi?"

"Hanya sebentar."

Liora ikut memandang layar itu. "Aku suka bagian ini."

"Yang mana?"

Lihat selengkapnya