AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #6

Sejarah yang Bersih

Ada pekerjaan-pekerjaan yang menuntut ketelitian, dan ada pula pekerjaan yang diam-diam menuntut kesetiaan. Menjadi seorang arsiparis sejarah berada di antara keduanya. Ketelitian menjaga agar tidak ada satu tanggal pun bergeser dari tempatnya, sementara kesetiaan memastikan bahwa masa lalu tetap dapat ditemukan oleh mereka yang datang setelahnya. Elian selalu percaya bahwa sejarah bukan sekadar kumpulan peristiwa yang telah selesai terjadi. Sejarah adalah ingatan panjang suatu bangsa. Ia mungkin tidak lagi punya denyut nadi, tetapi masih sanggup menentukan ke mana langkah suatu negeri akan diarahkan. Sebab manusia, sesungguhnya, tidak pernah benar-benar berjalan menuju masa depan. Kita hanya terus membawa masa lalu dengan nama yang berbeda.

Pagi itu, langit menggantungkan awan tipis di atas ibu kota. Cahaya matahari menembus kaca-kaca besar Kementerian Sejarah Nasional tanpa terasa menyilaukan, memantulkan warna keemasan pada lantai marmer yang menghubungkan satu ruang arsip ke ruang arsip lainnya. Gedung itu masih seramai biasanya, tetapi kesibukannya selalu punya ritme yang tenang. Orang-orang berbicara dengan suara sewajarnya. Langkah kaki terdengar ringan. Bahkan bunyi troli pengangkut dokumen pun seolah memahami bahwa tempat itu lebih menghargai keheningan daripada kegaduhan.

Elian baru saja meletakkan tasnya ketika sebuah pesan muncul di terminal kerjanya.

Ruang Arsip Klasik. Blok C-17.

Permintaan: Penataan ulang koleksi sejarah awal pembentukan negara.

Di bawahnya tercantum nama pengirim, yaitu Arman Hadi. Nama itu membuat sudut bibir Elian sedikit terangkat. Arman merupakan salah satu arsiparis paling senior di kementerian. Rambutnya sudah dipenuhi warna perak, tetapi ingatannya masih lebih tajam daripada katalog digital mana pun yang dimiliki kementerian. Banyak pegawai muda berkelakar bahwa jika seluruh peladen kementerian tiba-tiba rusak, Arman mungkin masih mampu menunjukkan letak sebuah manuskrip hanya berdasarkan aroma kertasnya.

Elian mengambil kartu akses, lalu menaiki lift menuju lantai bawah tanah. Semakin dalam lift bergerak, suasana gedung semakin berubah. Hiruk-pikuk perkantoran perlahan menghilang, digantikan dengung lembut sistem pengatur suhu yang menjaga ribuan dokumen tua tetap bertahan melawan usia. Bau khas kertas tua, kulit buku, dan kayu rak yang telah puluhan tahun menyerap kelembapan menyambutnya begitu pintu lift terbuka. Bagi sebagian orang, aroma itu mungkin terasa pengap. Bagi Elian, aroma itu selalu menyerupai waktu.

Arman sudah lebih dulu berada di sana. Lelaki itu sedang berdiri di atas tangga pendek sambil menyusun beberapa jilid ensiklopedia berukuran besar ke rak paling atas. Gerakannya lambat, tetapi tidak pernah tampak ragu.

"Kau datang juga."

"Kalau saya terlambat, nanti Bapak bilang generasi sekarang kalah disiplin."

Arman terkekeh kecil. "Aku memang sering bilang begitu."

"Padahal yang paling sering datang terakhir ke ruang makan justru Bapak."

"Itu strategi."

"Strategi apa?"

"Supaya makanannya tinggal sedikit dan aku tidak makan berlebihan."

Elian tertawa pelan. Percakapan-percakapan ringan semacam itu selalu membuat pekerjaan terasa lebih mudah dijalani.

Arman menyerahkan sebuah tablet digital. "Kita akan mencocokkan katalog fisik dengan arsip digital. Ada beberapa koleksi lama yang harus dipindahkan ke rak konservasi baru."

"Banyak?"

"Cukup untuk membuat punggungmu protes nanti malam."

Elian menghela napas dramatis.

"Kalau begitu saya menyesal sudah datang."

"Terlambat."

Ruang Arsip Klasik menyimpan ribuan jilid sejarah yang ditulis sejak masa-masa paling awal berdirinya Aisenodni. Sebagian berupa manuskrip asli yang ditulis tangan. Sebagian lagi adalah hasil cetak pertama yang kini hanya boleh disentuh dengan sarung tangan khusus. Elian mulai bekerja dari rak paling ujung. Setiap buku diperiksa nomor katalognya, kondisi fisiknya, lalu dipindahkan sesuai klasifikasi terbaru. Sesekali ia berhenti hanya untuk membaca beberapa halaman yang terbuka ketika sampulnya diangkat. Sudah menjadi kebiasaannya. Sejarah terlalu menarik untuk sekadar dipindahkan dari satu rak ke rak lain tanpa sempat disapa. Salah satu buku yang menarik perhatiannya berjudul Awal Persatuan Wilayah Selatan. Ia membuka beberapa halaman secara acak. Isinya menceritakan proses bergabungnya beberapa daerah menjadi satu pemerintahan nasional. Yang mengejutkan, proses itu berlangsung melalui perundingan panjang yang hampir seluruhnya diwarnai kesepakatan damai. Tak ada catatan tentang pemberontakan, kisah penaklukan, maupun daftar korban.

Elian mengembalikan buku itu ke troli, lalu mengambil jilid berikutnya.

Reformasi Administrasi Tahun 84.

Sekali lagi ia menemukan pola yang sama. Perubahan sistem pemerintahan dilakukan melalui musyawarah nasional. Perdebatan memang terjadi, perbedaan pendapat juga dicatat. Namun semuanya berakhir dengan mufakat. Tak seorang pun mengangkat senjata, tak satu kota pun terbakar.

Ia melanjutkan ke buku lain.

Integrasi Wilayah Timur. Damai.

Perubahan Konstitusi Ketiga. Damai.

Pembentukan Dewan Ekonomi Nasional. Damai.

Semakin banyak buku yang ia buka, semakin terasa ada sesuatu yang sulit dijelaskan. Semuanya terlalu selaras. Terlalu bersih dan … tenang. Padahal selama menempuh pendidikan sejarah, Elian juga mempelajari perkembangan bangsa-bangsa lain di dunia. Hampir setiap peradaban besar pernah melewati masa-masa penuh gejolak. Perebutan kekuasaan, perang saudara, kudeta, revolusi, atau setidaknya konflik politik yang berkepanjangan. Aisenodni tampak seperti pengecualian yang nyaris mustahil.

Lihat selengkapnya