AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #7

Ruang Arsip Bawah Tanah

Tidak semua peninggalan masa lalu dapat disimpan dalam cahaya. Sebagian memilih bertahan di tempat-tempat yang jarang disinggahi manusia, di balik pintu-pintu baja yang lebih akrab dengan debu daripada langkah kaki, seolah waktu sendiri sengaja memperlambat laju agar kertas-kertas tua itu tidak ikut menua terlalu cepat. Barangkali memang begitulah sifat ingatan. Ada yang selalu ingin diceritakan berulang-ulang hingga menjadi pelajaran bagi banyak orang. Pun ada yang hanya sanggup bertahan dalam sunyi, menunggu seseorang cukup sabar untuk menemukannya.

Pagi itu, Elian menerima kartu akses baru. Bentuknya tidak berbeda dengan kartu identitas pegawai kementerian yang biasa ia gunakan. Warnanya tetap putih dengan garis keemasan di tepinya. Namun tepat di bawah lambang Kementerian Sejarah Nasional, kini tertera satu tambahan kecil yang belum pernah ada sebelumnya.

Akses Tingkat III - Arsip Konservasi

Ia membolak-balik kartu itu beberapa kali.

"Hanya berlaku satu minggu."

Suara Arman terdengar dari balik meja kerjanya.

Elian mengangkat kepala. "Sesingkat itu?"

Arman mengangguk. "Tim digitalisasi kekurangan orang. Kau diminta membantu memindahkan dan mengidentifikasi arsip fisik yang belum pernah dipindai."

"Berarti saya turun lagi ke bawah tanah?"

"Bukan ruang konservasi yang biasa."

"Lalu?"

Arman menunjuk ke arah lift paling ujung koridor.

"Lebih bawah lagi."

Lift itu hampir tidak pernah digunakan pegawai lain. Letaknya terpisah dari jalur utama kementerian, tersembunyi di balik lorong sempit yang dindingnya dipenuhi foto-foto hitam putih para arsiparis generasi terdahulu. Wajah-wajah dalam bingkai itu memandang lurus ke depan dengan sorot mata yang tenang, seolah mereka masih menjaga tempat tersebut meski nama mereka kini hanya tersisa sebagai keterangan kecil di bawah foto.

Elian menempelkan kartu aksesnya, lalu lampu pemindai berubah hijau. Pintu terbuka perlahan dengan suara mekanis yang lebih berat daripada lift biasa. Di dalam telah menunggu seorang pria bertubuh tinggi mengenakan seragam konservasi berwarna abu-abu.

"Elian?"

"Iya."

"Saya Damar."

Pria itu menjabat tangannya singkat. "Mulai hari ini saya yang mendampingi proses identifikasi."

"Pekerjaannya banyak?"

Damar terkekeh pelan. "Kalau semua arsip di bawah sana disusun berjajar, mungkin panjangnya bisa menyamai satu kota kecil."

Lift mulai bergerak turun. Lantai satu, lantai minus satu, minus dua, minus tiga. Angka digital masih terus berganti. Elian mulai menyadari bahwa kedalaman tempat itu jauh melampaui ruang arsip yang pernah ia datangi bersama Arman beberapa hari sebelumnya.

"Masih jauh?" tanyanya.

"Sedikit lagi."

Lift akhirnya berhenti di Lantai Minus Lima. Pintu terbuka, udara dingin langsung menyergap wajah mereka. Koridor panjang membentang di hadapan Elian, diterangi lampu-lampu kekuningan yang dipasang berjauhan sehingga sebagian lorong tetap tenggelam dalam bayangan. Tidak ada kemewahan seperti lantai-lantai kantor di atas. Dindingnya hanya berupa beton polos. Pipa-pipa besar melintang di langit-langit. Sesekali terdengar dengungan konstan dari mesin pengatur suhu yang bekerja tanpa henti menjaga kelembapan ruangan.

"Selamat datang." Damar membuka kedua tangannya seolah sedang memperkenalkan sebuah museum. "Gudang arsip tertua di kementerian."

Ruangan pertama yang mereka masuki jauh lebih luas daripada dugaan Elian. Rak-rak besi menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit. Di atas setiap rak tersusun ribuan kotak arsip berwarna cokelat dengan label tahun yang membentang hampir sepanjang sejarah berdirinya Aisenodni. Beberapa lorong bahkan begitu panjang hingga ujungnya nyaris tak terlihat.

"Semuanya masih fisik?" tanya Elian.

"Tidak juga." Damar menggeleng. "Sekitar enam puluh persen sudah didigitalisasi."

"Empat puluh persen sisanya?"

"Masih menunggu giliran."

Elian mengerutkan dahi. "Bukankah proyek digitalisasi dimulai puluhan tahun lalu?"

"Iya."

"Lalu kenapa masih sebanyak ini?"

Damar tersenyum kecil. "Karena setiap hari jumlah arsip baru terus bertambah."

Lihat selengkapnya