AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #8

Adrian

Ada orang-orang yang pensiun dari pekerjaannya, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan tempat yang sudah membentuk sebagian besar hidupnya. Mereka mungkin tak lagi punya meja kerja, kartu akses, atau jadwal rapat yang harus dipatuhi. Namun langkah mereka masih hafal setiap lorong, ingatan mereka masih mengenali aroma bangunan, dan hati mereka masih tertinggal di antara dinding-dinding yang pernah menjadi saksi puluhan tahun pengabdian. Bagi Kementerian Sejarah Nasional, orang semacam itu bernama Adrian Wicaksana. Tak seorang pun menyebutnya "mantan arsiparis". Sebagian besar pegawai, bahkan yang baru bergabung beberapa bulan, cukup memanggilnya Pak Adrian, seolah jabatan apa pun yang pernah disandangnya telah kehilangan arti dibandingkan rasa hormat yang tumbuh dengan sendirinya. Ada orang yang dihargai karena kedudukannya. Pun ada yang dihormati karena pikirannya. Adrian termasuk golongan yang kedua.

Elian telah beberapa kali mendengar namanya disebut dalam percakapan para senior. Konon, sebelum pensiun lima tahun lalu, Adrian mampu mengingat letak hampir setiap dokumen penting di kementerian tanpa perlu membuka katalog digital. Ia pernah menemukan kesalahan penanggalan dalam sebuah manuskrip hanya karena merasa jenis tinta yang digunakan tidak sesuai dengan zamannya. Bahkan ada cerita yang terdengar nyaris mustahil: ia berhasil mengidentifikasi sebuah dokumen palsu setelah memperhatikan pola lipatan kertas yang dianggap tidak lazim untuk abad ketika naskah itu ditulis. Sebagian orang menganggap kisah-kisah itu dilebih-lebihkan. Sebagian lainnya percaya semuanya masih terlalu sederhana dibanding kenyataan.

Pagi itu, ketika Elian sedang mengantarkan beberapa berkas restorasi ke ruang dokumentasi, ia melihat seorang lelaki tua duduk sendirian di taman kecil belakang kementerian. Usianya mungkin mendekati tujuh puluh tahun. Rambutnya hampir seluruhnya memutih, tetapi tidak dibiarkan berantakan. Ia mengenakan kemeja linen berwarna gading dengan lengan yang digulung hingga siku, dipadukan celana kain sederhana dan sepatu kulit yang telah berkali-kali dipoles hingga tetap mengilap meski tampak telah menemani perjalanan panjang. Di pangkuannya terbuka sebuah buku tua. Namun anehnya, ia tidak sedang membaca. Tatapannya justru mengarah pada pepohonan yang bergoyang pelan diterpa angin. Seolah yang sedang ia pelajari bukan lagi tulisan manusia. Namun waktu itu sendiri.

"Pak Adrian."

Suara Arman terdengar dari sisi lain taman. Lelaki tua itu menoleh, lalu mengangkat tangan sambil tersenyum.

"Masih hidup rupanya."

"Sayangnya begitu."

"Kabar buruk."

"Kau selalu berharap aku cepat pensiun dari dunia."

"Kau sudah pensiun."

"Aku sedang membicarakan dunia."

Keduanya tertawa kecil. Tawa yang terasa ringan, tetapi menyimpan keakraban yang hanya dimiliki orang-orang yang telah melewati puluhan tahun bekerja bersama.

Arman kemudian memanggil Elian. "Kemari."

Elian mendekat sambil membawa map di tangannya.

"Pak Adrian, ini Elian."

"Oh."

Adrian memandangnya beberapa saat. Tatapannya cukup lama tetapi tidak tajam. Ia memperhatikan wajah Elian sebagaimana seorang pembaca mengamati halaman pertama sebuah buku yang baru dibuka.

"Jadi ini anak muda yang sering kau ceritakan."

Arman mengangguk. "Ia pemuda yang rajin."

"Itu pujian yang berbahaya."

"Kenapa?"

"Karena orang rajin sering kali lupa bahwa rasa penasaran lebih penting daripada kedisiplinan."

Elian tersenyum sopan, meski belum sepenuhnya memahami maksud kalimat tersebut.

Arman melirik jam tangannya. "Aku ada rapat hari ini."

Ia menepuk pelan bahu Elian. "Temani Pak Adrian sebentar. Jangan biarkan beliau pulang sambil mengeluh generasi sekarang tidak sopan."

"Aku memang selalu mengeluh begitu."

"Makanya kutitipkan dia."

Setelah Arman berlalu, taman kembali diselimuti keheningan. Hanya terdengar desir dedaunan dan suara burung yang sesekali hinggap di cabang-cabang pohon tua.

Adrian menutup bukunya perlahan. "Kau sudah berapa lama bekerja di sini?"

"Hampir tiga tahun."

"Masih cukup muda untuk menganggap sejarah itu sederhana."

Elian terkekeh. "Justru semakin lama saya bekerja, semakin terasa rumit."

"Itu kabar baik."

"Kenapa?"

"Karena hanya orang bodoh yang mengira sejarah mudah dipahami."

Kalimat itu diucapkannya tanpa sedikit pun nada merendahkan. Terdengar tak lebih seperti kesimpulan yang telah lama mengendap di dalam pikirannya. Elian mulai memahami mengapa banyak orang begitu menghormati lelaki tua di hadapannya. Ia tidak berbicara panjang, tetapi setiap kalimatnya terasa seperti membawa usia yang jauh lebih tua daripada dirinya sendiri.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung. Adrian kembali memandang pepohonan. Elian ikut memandang ke arah yang sama. Daun-daun bergerak pelan. Bayangannya menari di atas jalan setapak yang disapu cahaya matahari.

Tiba-tiba Adrian memanggil, "Elian."

"Iya, Pak?"

"Pernahkah kau menemukan sejarah tanpa kesalahan?"

Pertanyaan itu datang begitu mendadak hingga Elian membutuhkan beberapa detik untuk mencernanya.

Lihat selengkapnya