AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #9

Dokumen Tanpa Nomor

Tidak semua penemuan lahir dari pencarian. Sebagian justru memilih datang ketika seseorang telah berhenti berharap menemukannya. Ia muncul dari kebetulan yang tampak sepele, yaitu pada selembar kertas yang terselip, laci yang lupa ditutup, atau sebuah buku yang jatuh tepat pada saat yang tidak direncanakan. Kelak orang-orang menyebutnya takdir. Padahal mungkin, takdir hanyalah nama lain bagi sesuatu yang telah lama menunggu keberanian untuk ditemukan.

Pagi itu, kementerian terasa lebih lengang daripada biasanya. Arman menghadiri seminar sejarah nasional di universitas pusat. Liora mendapat penugasan mendampingi tim digitalisasi ke cabang wilayah timur. Damar masih berada di lantai konservasi bawah tanah. Bahkan taman belakang yang hampir setiap hari dikunjungi Adrian tampak kosong, hanya diisi beberapa burung kecil yang berebut remah-remah roti di dekat kolam. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Elian benar-benar bekerja sendirian. Ia tidak mempermasalahkannya. Seorang arsiparis, pada dasarnya, memang lebih akrab dengan keheningan daripada keramaian. Di terminal kerjanya telah menunggu daftar tugas yang harus diselesaikan sebelum sore.

Penataan ulang Arsip Klasik Blok D.

Pemeriksaan kesesuaian katalog fisik.

Persiapan digitalisasi koleksi periode awal republik.

Pekerjaan yang sama, rutinitas yang sama, tapi justru karena sudah begitu akrab, Elian dapat melakukannya hampir tanpa perlu berpikir.

Ruang Arsip Klasik masih mempertahankan hawa sejuk yang konstan sepanjang tahun. Sistem pengatur suhu bekerja tanpa jeda, menjaga kelembapan agar ribuan dokumen yang tersimpan di dalamnya tidak dimakan usia lebih cepat daripada yang seharusnya. Deretan rak kayu menjulang seperti lorong-lorong sunyi yang tak pernah bosan memelihara masa lalu. Elian mendorong troli kecil berisi label katalog baru. Satu rak, lalu rak berikutnya. Tangannya bergerak otomatis membaca kode, mencocokkan, mengganti label, dan menyusun kembali. Sesekali ia berhenti ketika menemukan jilid yang mulai longgar ikatannya. Buku-buku semacam itu akan dipindahkan ke ruang restorasi sebelum kerusakannya bertambah parah. Pekerjaan sederhana. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat pikirannya bebas mengembara.

Tanpa sengaja, ia teringat kembali percakapannya dengan Adrian beberapa hari lalu.

"Kalau suatu hari kau menemukan sejarah tanpa kesalahan, jangan langsung percaya."

Kalimat itu masih terdengar ganjil. Sebagai arsiparis, ia terbiasa memperlakukan dokumen sebagai sesuatu yang harus dipercaya sampai terbukti sebaliknya. Jika setiap arsip selalu dicurigai, maka sejarah tidak akan pernah punya pijakan. Namun Adrian bukan orang yang gemar berbicara tanpa alasan. Setidaknya, begitulah kesan yang ditinggalkannya.

Elian mengembuskan napas pelan. "Mungkin aku terlalu memikirkannya."

Ia pun tersenyum kecil kepada dirinya sendiri. Barangkali benar kata Arman, bahwa orang yang terlalu lama berkutat dengan sejarah kadang mulai melihat teka-teki bahkan di tempat yang tidak menyimpannya.

Menjelang siang, Elian berpindah ke rak paling ujung Blok D. Rak itu lebih tua daripada yang lain. Kayunya sudah menggelap dimakan waktu, sementara baut-baut penyangganya beberapa kali diperkuat menggunakan pelat logam tambahan. Ia menaiki tangga kecil. Baris paling atas menyimpan koleksi laporan administrasi dari masa awal pembentukan kementerian. Kotaknya lebih berat, dan debunya lebih tebal. Ketika Elian menarik salah satu map besar untuk memeriksa nomor katalognya, terdengar bunyi pelan.

Tak.

Ia berhenti. Suara itu berasal dari belakang susunan map. Belum sempat ia melihat lebih jelas, sesuatu meluncur dari sela-sela rak. Refleks ia mengulurkan tangan, tapi terlambat. Sebuah map tua jatuh ke lantai. Debunya mengepul tipis ketika menyentuh ubin batu. Elian segera turun dari tangga.

"Untung tidak sobek."

Ia membungkuk mengambil map tersebut. Warnanya jauh lebih kusam dibanding map-map lain di rak itu. Kartonnya telah berubah kecokelatan, sudut-sudutnya mulai aus, sementara tali pengikat kain yang biasanya digunakan untuk arsip lama tampak hampir putus dimakan usia. Ia membersihkan debu di permukaannya dengan sapuan tangan, lalu mengerutkan dahi.

Tidak ada label. Biasanya, setiap map kementerian punya beberapa penanda yang sangat mudah dikenali. Nomor registrasi, kode klasifikasi, cap penerimaan, tanggal pencatatan. Setidaknya salah satunya. Namun map yang kini berada di tangannya sama sekali tidak memiliki apa pun, kosong. Seolah belum pernah melewati prosedur administrasi apa pun.

"Aneh."

Elian membalik map itu. Bagian belakangnya juga tampak bersih. Tak ada stempel, barcode, maupun chip identifikasi digital yang mulai diwajibkan sejak puluhan tahun lalu. Bahkan map-map yang kondisinya paling buruk sekalipun tetap punya kode inventaris yang dicetak atau ditulis tangan. Yang ini tidak. Sama sekali tidak.

Ia berdiri beberapa saat, mencoba mengingat apakah pernah melihat arsip serupa selama hampir tiga tahun bekerja di kementerian. Jawabannya tidak. Belum pernah. Sebagai arsiparis, ia tahu betul bahwa dokumen tanpa identitas hampir mustahil ada di lingkungan kementerian. Setiap lembar kertas yang masuk akan memperoleh nomor. Setiap perpindahan akan dicatat. Setiap peminjaman akan meninggalkan jejak digital. Itulah alasan mengapa kementerian mampu menemukan sebuah dokumen berusia seratus tahun hanya dalam hitungan menit. Sistemnya nyaris sempurna. Karena itu, keberadaan map tanpa identitas terasa seperti sebuah kalimat yang kehilangan seluruh hurufnya. Mustahil, tapi nyata.

Elian memandang kembali rak tempat map itu jatuh. Posisinya terselip jauh di bagian belakang, hampir tak mungkin terlihat tanpa sengaja menarik tumpukan map di depannya.

Lihat selengkapnya