Di antara semua kebohongan yang pernah dilakukan manusia, barangkali yang paling sulit dikenali bukanlah kebohongan yang disampaikan dengan lantang. Justru sebaliknya. Ia adalah kebohongan yang diulang begitu lama, ditulis begitu rapi, diajarkan kepada begitu banyak orang, hingga akhirnya tak lagi terdengar seperti kebohongan. Ia berubah menjadi ingatan bersama. Menjadi pengetahuan. Menjadi sesuatu yang tak pernah terpikir untuk dipertanyakan. Sejarah punya cara yang sangat halus untuk melakukan itu. Ia tidak selalu menghapus, tapi kadang ia hanya memilih apa yang layak diingat.
Elian tidak segera membaca seluruh isi dokumen itu. Ia justru menutup kembali map tua tersebut, membawanya ke meja kerja kecil di sudut Ruang Arsip Klasik, lalu mengenakan sepasang sarung tangan konservasi yang biasa digunakan ketika menangani dokumen-dokumen rapuh. Ia bahkan menyalakan lampu baca tambahan agar cahaya jatuh merata di atas permukaan kertas yang telah menguning dimakan usia. Kebiasaan profesional selalu lebih kuat daripada rasa penasaran. Dokumen yang rusak tidak akan pernah bisa mengembalikan isi yang hilang. Karena itu, tak peduli seberapa mendesaknya sebuah penemuan, kehati-hatian tetap harus didahulukan.
Perlahan, ia mengeluarkan kembali lembar tunggal tersebut dari dalam map. Kertasnya sedikit melengkung di bagian tepi. Bekas lipatan lama masih terlihat jelas, menandakan bahwa sebelum akhirnya disimpan, dokumen itu pernah beberapa kali dibawa ke tempat lain. Mata Elian kembali jatuh pada judulnya.
LAPORAN SEMENTARA
HARI KEKACAUAN
Jantungnya masih berdegup sedikit lebih cepat dibanding biasanya. Namun kali ini ia memaksa dirinya mengesampingkan semua dugaan. Seorang arsiparis tidak bekerja dengan prasangka, ia bekerja dengan fakta.
Napasku, pikirnya, lalu mengoreksi dirinya sendiri dengan senyum tipis.
Aneh.
Bahkan pikirannya mulai terburu-buru. Ia mulai membaca dari awal.
Laporan Sementara
Tanggal: 17 Agustus Tahun 2030.
Status: Belum dapat diselesaikan karena situasi belum terkendali.
Disusun oleh: Tim Evaluasi Darurat Nasional.
Baris-baris pertama masih terdengar seperti laporan administratif biasa. Namun semakin ke bawah, wajah Elian perlahan kehilangan ketenangannya.
Pada pukul 08.15, demonstrasi besar terjadi secara serentak di ibu kota dan enam wilayah administratif lainnya.
Ya, demonstrasi. Ia berhenti membaca. Kata itu sebenarnya tidak asing. Sebab sepanjang sejarah Aisenodni memang pernah ada demonstrasi. Namun selalu berupa aksi damai yang berakhir dalam dialog. Tak pernah lebih dari itu.
Ia melanjutkan.
Massa diperkirakan mencapai lebih dari dua ratus ribu orang.
Jumlah itu membuat alisnya berkerut. Dua ratus ribu? Ia mencoba mengingat demonstrasi terbesar yang pernah tercatat dalam buku-buku sejarah. Tak sampai sepersepuluh angka tersebut.
Baris berikutnya.
Aparat kehilangan kendali pada pukul 10.42.
Elian mengembuskan napas pelan.
Kehilangan kendali.
Istilah itu kembali muncul. Sama seperti yang sempat dibacanya beberapa menit lalu. Namun kini kalimat berikutnya terasa jauh lebih berat.