AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #11

Jejak yang Dihapus

Bayangan paling sulit dikejar bukanlah yang berlari menjauh, tetapi yang meyakinkan dunia bahwa ia tidak pernah ada. Tidak meninggalkan jejak langkah, tidak memantulkan pantulan pada cermin, bahkan tidak menyisakan ruang kosong yang dapat dijadikan bukti bahwa sesuatu pernah berdiri di sana. Ketika itulah, kenyataan mulai kehilangan batasnya dengan ingatan, dan manusia dipaksa memilih: mempercayai apa yang dilihat matanya, atau apa yang diyakini oleh seluruh dunia. Elian tidak pernah membayangkan kedua pilihan itu akan datang menghampirinya secepat ini.

Beberapa saat setelah kepanikan pertama mereda, naluri profesionalnya perlahan mengambil alih.

Tarik napas, berpikir, dan jangan berasumsi. Itulah tiga kalimat pertama yang diajarkan kepada setiap arsiparis baru ketika menghadapi dokumen yang dianggap bermasalah. Elian menutup kedua matanya selama beberapa detik. Ketika membukanya kembali, ruangan itu tetap sama seperti sebelumnya. Deretan rak menjulang tanpa suara. Lampu-lampu putih memancarkan cahaya yang tenang. Pendingin udara masih berdengung dengan irama yang nyaris menenangkan. Tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan bahwa beberapa menit lalu sebuah dokumen yang mampu mengguncang seluruh pemahamannya tentang sejarah baru saja menghilang.

Ia segera memeriksa meja kerjanya untuk ketiga kalinya. Kemudian keempat kalinya. Lalu kelima kalinya. Tangannya menyusuri setiap sudut permukaan meja, seolah berharap map tua itu tiba-tiba muncul dari ruang yang tak terlihat. Laci, troli, rak referensi, kotak konservasi, tempat sampah kertas, bahkan sela sempit di antara kaki meja dan dinding. Namun, semuanya kosong. Semakin lama mencari, semakin mustahil rasanya menerima fakta bahwa beberapa menit sebelumnya ia benar-benar memegang dokumen tersebut.

Ia masih mengingat tekstur kertasnya. Serat-serat kasar di ujung halaman. Bau khas selulosa tua yang sudah bertahan puluhan tahun. Cap kementerian yang mulai memudar. Nama-nama pejabat. Judul besar bertuliskan Hari Kekacauan. Ingatan-ingatan itu terlalu rinci untuk disebut sebagai khayalan. Namun bukti fisiknya telah lenyap.

Elian berdiri cukup lama di depan rak tempat map itu pertama kali terjatuh. Perlahan ia menarik satu per satu map yang tersusun di sana. Semuanya punya nomor registrasi, punya label inventaris, dan tercatat dalam sistem. Tak ada satu pun yang menyerupai map tua tanpa identitas itu.

Ia menggeser beberapa kotak arsip, memeriksa bagian belakang rak, mengangkat papan alas kayu. Tak ada ruang rahasia. Tak ada celah yang cukup besar untuk menyembunyikan sebuah map. Semuanya tampak sebagaimana mestinya. Justru itulah yang membuatnya semakin gelisah. Seolah ruang arsip sedang bersikeras mengatakan bahwa sejak awal tidak pernah ada sesuatu yang jatuh dari rak tersebut.

"Kalau aku salah melihat …." Elian bergumam lirih. Kalimat itu bahkan belum selesai ketika ia sendiri menggeleng. Tidak. Ia tidak mungkin salah. Ia membaca dokumen itu. Duduk di meja. Menyalakan lampu baca. Membuka basis data. Mencari kata demi kata. Seluruh rangkaian kejadian itu masih melekat begitu jelas di dalam pikirannya. Begitu jelas hingga ia bahkan masih bisa mengingat letak noda kecokelatan di sudut kiri bawah dokumen tersebut.

Seseorang tidak mungkin menciptakan ingatan sedetail itu hanya dalam hitungan menit, kecuali ia menghentikan pikirannya sendiri. Tidak, ia tidak sedang kehilangan akal sehat. Setidaknya belum.

Walau demikian, terlintas di pikiran Elian bahwa ada satu cara yang bisa mengakhiri seluruh keraguan ini. Ya, kamera pengawas. Seluruh ruang arsip kementerian dipantau selama dua puluh empat jam penuh. Setiap lorong, setiap pintu, bahkan setiap meja kerja punya sudut pengawasan yang saling bertumpang tindih. Jika benar ia menemukan map itu, maka kamera pasti merekamnya. Dan jika seseorang mengambilnya ketika ia membuat kopi, kamera juga akan memperlihatkannya.

Maka, dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, Elian menuju Ruang Keamanan Internal. Beruntung, petugas yang berjaga telah lama mengenalnya.

"Masih bekerja, Pak Elian?"

"Terlalu banyak katalog hari ini."

Petugas itu tertawa kecil.

"Silakan."

Tak ada yang merasa aneh ketika seorang arsiparis meminta akses rekaman. Hal seperti itu sesekali memang diperlukan untuk melacak perpindahan dokumen. Beberapa menit kemudian, rekaman dari Ruang Arsip Klasik mulai diputar.

Pukul 13.41, Elian terlihat memasuki ruangan sambil mendorong troli arsip. Itu hal yang normal.

Pukul 13.58, ia menaiki tangga kecil menuju rak Blok D. Itu juga hal normal.

Pukul 14.03, ia turun kembali, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Elian memajukan tubuhnya mendekati layar.

"Sebentar." Tangannya perlahan mengepal. Di rekaman itu, kedua tangannya kosong. Tidak ada map tua, tidak ada lembar dokumen, ia hanya berjalan seperti seseorang yang baru selesai memeriksa rak biasa.

"Tidak mungkin."

Petugas keamanan menoleh.

"Ada masalah?"

Lihat selengkapnya