AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #12

Orang-Orang yang Tidak Pernah Marah

Ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak lahir dari penemuan besar. Namun tumbuh perlahan, nyaris tak terdengar, dari hal-hal yang begitu biasa hingga mata manusia berhenti memperhatikannya. Seperti udara yang setiap hari dihirup tanpa pernah dipikirkan asalnya, atau detak jantung yang baru disadari ketika iramanya berubah. Kebiasaan adalah penyamaran terbaik bagi keajaiban. Dan sering kali, sesuatu yang paling ganjil justru berhasil bersembunyi paling lama di balik sesuatu yang paling akrab.

Sejak hari ditemukannya dokumen yang kemudian lenyap tanpa jejak itu, Elian memaksa dirinya kembali menjalani rutinitas. Atau setidaknya, ia berusaha terlihat seolah semuanya baik-baik saja. Pagi datang seperti biasanya. Kereta antarkota meluncur nyaris tanpa suara, membelah pusat ibu kota dengan ketepatan waktu yang hampir mustahil diganggu. Orang-orang memenuhi gerbong, sebagian membaca buku elektronik, sebagian menikmati secangkir kopi hangat yang dibeli sebelum berangkat bekerja, sementara yang lain memandangi pemandangan kota melalui jendela yang bening tanpa noda. Suasana seperti itu dahulu selalu membuat Elian merasa damai. Kini, untuk alasan yang tidak mampu ia jelaskan, kedamaian itu mulai terasa seperti sesuatu yang terlalu sempurna.

Di kementerian, pekerjaannya kembali menumpuk. Arman baru saja pulang dari seminar nasional dan membawa beberapa boks arsip hasil pertukaran antarlembaga.

"Ini prioritas minggu ini," katanya sambil menepuk salah satu kotak. "Dokumen-dokumen lama dari wilayah utara. Banyak yang harus diperiksa ulang sebelum didigitalisasi."

Elian mengangguk. "Baik, Pak."

Tak ada pembicaraan mengenai dokumen yang hilang. Begitu pun tak ada pertanyaan tentang perubahan sikap Elian beberapa hari terakhir. Seolah dunia benar-benar berjalan seperti biasanya. Sesaat, ia sempat bertanya-tanya apakah sebaiknya menceritakan semuanya kepada Arman tentang map tanpa nomor registrasi, dan tentang Hari Kekacauan. Atau tentang rekaman kamera yang bertentangan dengan ingatannya sendiri. Namun keinginan itu segera ia urungkan. Bukan karena tidak percaya kepada Arman. Justru sebaliknya, bahwa ia terlalu menghormati seniornya itu untuk datang membawa cerita yang bahkan terdengar tidak masuk akal bagi dirinya sendiri.

Apa yang akan ia katakan? Bahwa ia membaca dokumen yang kini tidak lagi ada? Bahwa kamera tidak merekam benda yang jelas-jelas ia pegang? Bahwa sistem nasional mengeluarkan pesan yang tidak pernah tercantum dalam pedoman administrasi? Bahkan ketika disusun di dalam pikirannya sendiri, rangkaian kejadian itu terdengar lebih dekat pada kisah fiksi daripada laporan seorang arsiparis. Maka Elian memilih diam untuk sementara.

Sore harinya, ketika jam istirahat tiba, ia memutuskan makan di sebuah kedai kecil yang sudah bertahun-tahun jadi langganannya. Tempat itu tidak mewah. Hanya bangunan sederhana dengan dinding kayu terang dan jendela lebar yang menghadap taman kota. Pemiliknya mengenal hampir semua pelanggan tetap.

"Seperti biasa, Pak Elian?" sapa perempuan paruh baya di balik meja kasir.

"Iya."

Ia mengambil tempat di dekat jendela. Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawa pesanannya. Namun begitu piring diletakkan di meja, Elian langsung menyadari ada yang keliru. Ia memesan sup sayuran, tapi yang datang justru semangkuk mi hangat. Pelayan itu baru menyadarinya beberapa detik kemudian.

"Astaga." Wajahnya langsung memucat. "Maaf sekali, Pak. Saya keliru."

Perempuan muda itu tampak benar-benar panik. Ia segera mengangkat mangkuk tersebut.

"Saya ganti sekarang juga."

Belum sempat Elian menjawab, pelanggan di meja sebelah tersenyum ramah.

"Itu pesanan saya."

"Oh!"

Pelayan itu semakin gugup.

"Maaf, maaf sekali."

Ia berkali-kali membungkukkan badan. Pelanggan itu justru tertawa kecil.

"Tidak apa-apa."

"Tapi saya salah mengantar pesanan."

"Kesalahan kecil tidak membuat makanan kehilangan rasanya."

Lihat selengkapnya