Sejak menyadari bahwa ia bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali benar-benar marah, Elian merasa seolah ada sesuatu yang bergeser di dalam dirinya. Bukan keyakinannya. Belum, setidaknya. Namun titik tempat ia memandang segala sesuatu. Kini, setiap percakapan terdengar sedikit berbeda. Setiap senyum terasa sedikit lebih panjang. Setiap bentuk kesabaran yang dahulu dianggap lumrah kini mulai memancing pertanyaan-pertanyaan baru yang tak kunjung menemukan tempat beristirahat. Dan setiap pertanyaan itu, pada akhirnya, selalu membawanya kembali pada satu orang.
Adrian Wicaksana.
Sore itu langit Aisenodni berwarna keemasan. Matahari belum benar-benar tenggelam, tetapi cahayanya telah melembut, membiarkan pepohonan di taman belakang kementerian menjatuhkan bayangan panjang yang bergoyang perlahan ditiup angin. Bangku kayu tempat Adrian biasa duduk masih berada di tempat yang sama. Namun lelaki tua itu belum terlihat. Elian memilih menunggu, duduk tanpa membuka terminal kerjanya, tanpa membawa arsip, tanpa menyiapkan daftar pertanyaan sebagaimana biasanya.
Entah mengapa, ia merasa percakapan kali ini tidak bisa diperlakukan seperti proses wawancara ataupun penelitian. Beberapa belas menit kemudian, langkah kaki pelan terdengar dari jalan setapak. Adrian datang sambil membawa buku bersampul cokelat tua yang tampak semakin lusuh dibanding pertemuan mereka sebelumnya. Ketika melihat Elian, ia tersenyum kecil.
"Aku sudah menduga kau akan datang."
Elian berdiri menghormati. "Bapak tahu?"
"Bukan tahu." Adrian duduk perlahan. "Hanya menebak."
"Bedanya?"
"Orang yang tahu berhenti bertanya."
"Lalu yang menebak?"
"Masih bersedia salah."
Kalimat itu membuat Elian tersenyum tipis. Adrian memang selalu berbicara seolah setiap jawaban hanyalah jalan menuju pertanyaan berikutnya. Mereka pun duduk berdampingan. Beberapa saat berlalu tanpa percakapan. Hanya suara burung yang sesekali hinggap di tepian kolam dan desir dedaunan yang saling bersentuhan. Keheningan bersama Adrian tidak pernah terasa canggung. Justru di dalam diam itulah pikirannya sering kali jadi paling ramai. Namun tak lama, akhirnya Elian membuka pembicaraan.
"Pak."
"Hm?"
"Saya ingin bertanya."
"Tentu."
"Tentang sejarah."
Adrian tertawa pelan. "Kalau bukan sejarah, mungkin aku sudah pulang dari tadi."
Elian menarik napas. "Beberapa waktu lalu Bapak mengatakan bahwa kalau suatu hari saya menemukan sejarah tanpa kesalahan, saya tidak boleh langsung mempercayainya."
Adrian tidak menyela.
"Saya terus memikirkan kalimat itu."
"Aku tahu."
"Saya juga …," Elian berhenti sejenak, "menemukan sesuatu yang tidak bisa saya jelaskan."
Tatapan Adrian tidak berubah. Tidak tampak terkejut. Tidak pula menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan. Seolah ia hanya sedang mendengarkan seorang sahabat yang menceritakan cuaca.
"Sesuatu seperti apa?"
Elian hampir menceritakan semuanya. Namun pada detik terakhir, ia mengurungkan niat itu karena ia ingin mendengar jawaban lelaki tua itu tanpa memengaruhinya dengan cerita yang mungkin terdengar mustahil. Sebagai gantinya, ia memilih jalan lain.
"Bapak pernah mengatakan bahwa sejarah tanpa kesalahan patut dicurigai."
"Iya."
"Mengapa?"
Adrian menatap permukaan kolam cukup lama. Seekor daun kering jatuh dari dahan, menyentuh air, lalu menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang perlahan melebar.
Alih-alih menjawab, Adrian justru menoleh pada Elian.
"Menurutmu," ia berhenti sebentar, "apa fungsi sejarah?"
Pertanyaan itu datang begitu tenang hingga Elian sempat kehilangan kata-kata. Ia mengira Adrian akan memberikan penjelasan. Ternyata ia justru diminta menjawab terlebih dahulu.
Elian berpikir beberapa saat. "Sejarah adalah catatan masa lalu."
"Itu bentuknya."
"Maksud saya," ia memperbaiki kalimatnya, "sejarah membantu kita memahami apa yang pernah terjadi."
"Itu pekerjaannya."
Adrian masih menunggu. Elian kembali berpikir, dan kini lebih lama. Lalu akhirnya berkata pelan, "Supaya kesalahan yang pernah dilakukan manusia tidak terulang."
Senyum kecil muncul di wajah Adrian. Senyum yang lebih mirip seseorang yang mendengar jawaban yang telah lama ia harapkan.