AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #14

Nama yang Hilang

Ingatan, tampaknya, punya cara yang aneh dalam bertahan hidup. Ketika sebuah buku dibakar, seseorang mungkin masih mengingat satu kalimatnya. Ketika sebuah nama dihapus dari batu nisan, masih ada sepasang bibir yang pernah memanggilnya. Bahkan ketika sejarah memutuskan melupakan seseorang, sering kali masih tersisa serpihan-serpihan kecil yang menolak ikut menghilang. Barangkali itulah sebabnya kekuasaan selalu lebih takut pada ingatan manusia daripada lembaran-lembaran kertas. Sebab kertas bisa dimusnahkan. Sementara ingatan, selama masih punya penjaga, akan terus mencari jalan untuk kembali hidup. Namun ingatan juga punya kelemahan. Ia perlahan memudar. Dan Elian mulai menyadari bahwa waktu bukan lagi sekadar musuh bagi arsip tua. Waktu kini menjadi musuh bagi dirinya sendiri.

Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuannya dengan Adrian. Tiga hari yang dipenuhi rutinitas seperti biasa. Menyusun arsip, memeriksa katalog, menyetujui proses digitalisasi, mendampingi tim restorasi. Tak ada lagi dokumen misterius yang muncul, apalagi pesan ganjil pada sistem, atau bahkan kejadian yang bisa dijadikan pijakan baru bagi penyelidikannya. Namun justru karena tidak ada apa-apa, kegelisahan itu semakin tumbuh. Ia takut ingatannya mulai kabur. Takut detail-detail kecil dari dokumen Hari Kekacauan perlahan larut bersama hari-hari yang terus berjalan. Maka setiap malam sebelum tidur, Elian memaksa dirinya mengulang kembali isi dokumen itu di dalam kepala.

Judulnya, format laporannya, tahun kejadian, kalimat-kalimat yang masih sempat terbaca, nama lembaga, nama pejabat, lalu nama-nama korban. Sebagian besar telah hilang dari ingatannya. Wajah manusia memang lebih mudah diingat daripada deretan huruf. Namun dokumen itu tidak menyimpan wajah, hanya nama. Setiap malam ia mencoba mengingatnya kembali. Dan setiap malam pula, nama-nama itu terasa semakin menjauh.


Pagi itu, ketika sedang memeriksa arsip kependudukan periode lama, sesuatu tiba-tiba melintas di benaknya. Bukan satu nama utuh, tak lain hanya potongan-potongan bunyi.

"...Raka..."

Ia menghentikan pekerjaannya. Tidak. Bukan itu.

"...Rangga..."

Ia menggeleng. Lalu tiba-tiba, tanpa diduga, satu nama muncul begitu saja.

Nara Prasetya.

Elian membeku dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat. Ia tidak tahu mengapa nama itu terasa begitu akrab. Namun semakin lama diucapkan di dalam hati, semakin kuat keyakinannya. Ya, nama itu. Ia hampir yakin pernah membacanya di tabel korban sementara di dokumen Hari Kekacauan.

Belum tentu benar, memang. Ingatan manusia bisa saja keliru. Tetapi dibanding tidak punya petunjuk sama sekali, satu nama masih jauh lebih baik. Tanpa membuang waktu, Elian segera membuka Arsip Kependudukan Nasional. Berbeda dengan Basis Data Sejarah, sistem kependudukan memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Seluruh warga negara, sejak lahir hingga akhir hayat, tercatat di dalamnya. Setiap perubahan alamat, setiap jenjang pendidikan, setiap pekerjaan, setiap status keluarga, semuanya tersimpan dengan ketelitian yang hampir sempurna.

Kolom pencarian terbuka, lalu jari-jari Elian berhenti sesaat di atas papan ketik. Ia menarik napas, lalu mengetik perlahan.

Nara Prasetya. Enter.

Layar memproses data selama beberapa detik. Elian menunggu tanpa berkedip. Kemudian hasil pencarian muncul. Dadanya seakan menghangat karena nama itu ternyata ada. Ya, benar-benar ada, dan bukan sekadar khayalan.

NARA PRASETYA

Jenis Kelamin: Laki-laki.

Tanggal Lahir: 12 Februari Tahun 2075.

Tempat Lahir: Distrik Aruna.

Status: Warga Negara Aktif.

Riwayat Pendidikan: Lengkap.

Riwayat Pekerjaan: Teknisi Infrastruktur Kota.

Semua tampak normal. Bahkan terlalu normal.

Elian pun membuka rincian riwayat kehidupannya, mulai catatan sekolah, lulus. Pendidikan tinggi, lulus. Mulai bekerja. Perpindahan alamat. Kenaikan jabatan. Seluruh data mengalir rapi dari tahun ke tahun. Hingga mendadak berhenti.

Lihat selengkapnya