AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #15

Kota yang Tidak Punya Penjara

Dua pekan setelah penemuan nama yang lenyap dari sistem kependudukan, Elian menerima penugasan dari kementerian, yaitu pekerjaan administratif yang nyaris rutin. Tim Arsip Nasional sedang melakukan pembaruan inventaris aset-aset bersejarah milik negara. Beberapa bangunan lama harus diperiksa lagi kesesuaian dokumen kepemilikannya sebelum seluruh data dipindahkan ke pusat arsip generasi terbaru. Tugas itu mengharuskannya berpindah dari satu kota ke kota lain. Biasanya Elian menyukai pekerjaan semacam ini. Berada di luar kantor memberinya kesempatan melihat bagaimana sejarah hidup di tengah masyarakat, bukan hanya di dalam rak-rak arsip. Namun kali ini, ada alasan lain yang membuatnya menerima penugasan itu tanpa banyak pertimbangan, yaitu tak lain adalah ucapan Adrian.

"Perhatikan kehidupan sehari-hari, bukan hanya dokumen."

Kalimat itu terngiang ketika kereta cepat yang ditumpanginya meninggalkan ibu kota.

Perjalanan pertama membawanya ke Kota Aruna. Kota pesisir yang tenang, dengan jalan-jalan lebar dipenuhi pohon peneduh dan bangunan-bangunan berarsitektur sederhana yang memadukan batu alam serta kayu terang. Tak banyak yang berubah sejak kunjungan terakhirnya dua tahun lalu. Transportasi umum tetap datang tepat waktu, taman-taman kota masih dipenuhi keluarga, pasar tradisional berdampingan harmonis dengan pusat perdagangan modern, orang-orang tetap saling menyapa meski tidak saling mengenal. Semuanya terasa sebagaimana mestinya.

Hari pertama dipenuhi pemeriksaan dokumen kepemilikan beberapa museum daerah, perpustakaan tua, dan bekas balai pemerintahan yang kini difungsikan sebagai pusat kebudayaan. Menjelang sore, seorang pegawai pemerintah daerah menawarkan diri mengantar Elian mengunjungi beberapa aset lain yang belum sempat diperiksa.

"Kalau Bapak tidak keberatan, sekalian kita lewat jalur barat," katanya sambil menghidupkan kendaraan dinas. "Di sana ada beberapa bangunan lama."

Elian mengangguk. "Baik."

Mobil melaju melewati kawasan permukiman yang tertata rapi. Sesekali mereka melintasi sekolah, rumah sakit, pusat olahraga, balai warga, gedung kesenian. Semua fasilitas publik tampak hidup dan terawat. Hingga tanpa sadar, sebuah pertanyaan kecil muncul di benak Elian ketika ia menoleh ke luar jendela, menyusuri deretan bangunan yang terus berganti.

Ia bertanya begitu saja. "Pak."

"Iya?"

"Penjara kota ada di sebelah mana?"

Pejabat daerah itu sempat memalingkan wajahnya dengan raut bingung.

"Penjara?"

"Iya."

Lelaki itu tertawa pelan. "Oh." Seolah baru mengingat sesuatu yang sudah lama tidak disebut. "Kami tidak punya penjara."

Elian ikut tersenyum kecil. "Maksud saya, lembaga pemasyarakatan."

"Sudah tidak ada."

"Tidak ada?"

"Tidak pernah dibangun lagi."

Jawaban itu tenang, seakan sedang membicarakan gedung yang memang tidak diperlukan, seperti terminal kapal di kota pegunungan.

Elian menoleh.

"Kalau begitu, pelaku tindak kriminal ditempatkan di mana?"

"Kalau ada pelanggaran ringan, biasanya masuk pusat rehabilitasi sosial."

"Kalau pelanggaran berat?"

Lelaki itu berpikir beberapa detik. "Lama sekali saya tidak mendengar kasus seperti itu."

Mobil terus melaju. Elian membiarkan percakapan berhenti. Namun pertanyaan itu tidak ikut berhenti di dalam kepalanya.

Menjelang petang, mereka melewati sebuah kompleks bangunan bercat putih dengan halaman luas yang dipenuhi pepohonan. Di depan gerbang terpasang papan sederhana.

Pusat Rehabilitasi Sosial Aruna.

Bangunannya jauh dari kesan menyeramkan. Tidak ada pagar tinggi, kawat berduri, maupun menara pengawas. Lebih menyerupai pusat pelatihan atau rumah singgah daripada tempat pembinaan pelanggar hukum.

"Ini?"

"Tadi Bapak bertanya."

"Rehabilitasi sosial?"

Pejabat itu mengangguk.

Lihat selengkapnya