AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #16

Festival Kenangan

Setiap bangsa memilih cara yang berbeda untuk mengenang. Ada yang mengabadikan kemenangan di atas tugu-tugu batu, ada yang membiarkan luka tetap terbuka agar generasi berikutnya mengerti harga sebuah kedamaian. Sebagian menyimpan pedang yang pernah berlumur darah di balik kaca museum, bukan untuk dirayakan, justru agar manusia tidak lagi tergoda menghunusnya. Sebab ingatan bukan hanya tentang apa yang pantas dibanggakan. Ingatan juga tentang apa yang tidak boleh terulang. Dan sebuah museum, pada hakikatnya, adalah tempat suatu bangsa mengakui seluruh wajahnya, yang elok maupun yang cacat.

Pekan pertama bulan keenam selalu jadi hari yang paling dinantikan masyarakat Aisenodni. Hari Berdirinya Negara. Jalan-jalan utama dihiasi untaian bendera putih dan biru yang berkibar lembut mengikuti embusan angin. Di setiap alun-alun kota, panggung-panggung kesenian didirikan tanpa kemewahan berlebihan. Anak-anak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, sementara para lansia duduk berdampingan menyaksikan pertunjukan musik yang memainkan lagu-lagu lama dengan aransemen yang lebih lembut.

Tidak ada parade militer, tidak ada deru kendaraan tempur, tidak ada pidato yang dipenuhi seruan kemenangan. Perayaan di Aisenodni selalu terasa semacam ungkapan syukur daripada demonstrasi kekuatan. Bagi sebagian besar warga, itulah yang membuat negeri ini berbeda. Dan bagi Elian, perbedaan itu mulai terasa seperti sebuah pertanyaan.

"Sepertinya kau memang selalu datang lebih awal."

Suara yang lembut itu membuat Elian menoleh. Lyra berdiri beberapa langkah darinya. Gaun berwarna biru muda yang dikenakannya bergerak diterpa angin pagi. Rambutnya yang tergerai sederhana kembali mengingatkan Elian pada pertemuan pertama mereka di Festival Harmoni, ketika perempuan itu membacakan kisah-kisah yang mungkin tidak pernah benar-benar terjadi, tetapi terasa lebih jujur daripada sebagian kenyataan.

Elian tersenyum tipis. "Aku tidak suka membuat orang menunggu."

Lyra membalas senyum itu. "Atau kau hanya terlalu menyukai ketepatan waktu."

"Mungkin keduanya."

Mereka tertawa pelan di tengah percakapan sederhana itu. Namun setelah berminggu-minggu pikirannya dipenuhi dokumen yang menghilang, nama-nama yang lenyap dari sistem, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah memperoleh jawaban, kesederhanaan terasa seperti kemewahan yang hampir terlupakan.

"Sudah pernah ke pameran tahun ini?" tanya Lyra sambil mulai berjalan memasuki pelataran Museum Nasional.

"Belum."

"Ada beberapa koleksi baru."

"Artefak sejarah?"

"Katanya begitu."

Jawaban Lyra diakhiri senyum kecil yang sulit diterjemahkan. Elian tidak sempat menanyakannya. Arus pengunjung perlahan membawa mereka memasuki aula utama museum.

Museum Nasional Aisenodni dibangun tanpa kesan megah yang berlebihan. Dinding-dindingnya didominasi batu alam berwarna terang, sementara langit-langit tinggi membiarkan cahaya matahari turun melalui panel-panel kaca sehingga ruangan tidak pernah terasa muram. Alih-alih menimbulkan kesan angker seperti kebanyakan museum sejarah, tempat itu justru menyerupai perpustakaan yang dipenuhi kenangan. Ruang pertama memamerkan masa-masa awal terbentuknya permukiman. Kapak batu, peralatan pertanian, pecahan tembikar, model rumah-rumah tradisional.

Di samping setiap artefak, narasi singkat menjelaskan bagaimana masyarakat belajar hidup berdampingan. Ruang berikutnya memperlihatkan perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu mesin cetak pertama. Perangkat komunikasi generasi awal. Dokumen pendirian universitas. Foto para ilmuwan. Semuanya tertata rapi, seolah perjalanan bangsa ini memang mengalir mulus dari satu kemajuan menuju kemajuan berikutnya.

Mereka pun terus berjalan. Semakin jauh memasuki museum, semakin jelas pola itu terlihat. Tidak ada foto kota yang porak-poranda, pula tidak ada reruntuhan akibat perang, apalagi ruang yang menceritakan kelaparan, sama sekali tidak ada kisah epidemi besar, bahkan tidak ada pemberontakan, serta tidak ada krisis politik. Yang dipamerkan hanyalah keberhasilan-keberhasilan kecil yang perlahan bertumpuk menjadi keberhasilan besar.

Lyra berhenti di depan sebuah foto hitam putih. Seorang guru sedang mengajar belasan anak di bawah pohon rindang.

"Indah, ya," katanya pelan.

Elian mengangguk. "Indah."

Namun matanya tidak benar-benar tertuju pada foto itu. Ia justru sibuk memperhatikan apa yang tidak ada. Sebagai arsiparis, ia tahu bahwa sejarah tidak hanya terdiri atas peristiwa-peristiwa yang layak dirayakan. Setiap bangsa, betapa pun damainya, pasti pernah kehilangan sesuatu. Pernah keliru mengambil keputusan, pernah jatuh sebelum bangkit kembali, tetapi museum ini terlalu bersih dan utuh. Seakan-akan perjalanan panjang suatu negara bisa ditempuh tanpa pernah tersandung satu batu pun.

"Sedang mencari sesuatu?"

Lyra menyadari tatapan Elian yang terus berpindah dari satu panel ke panel lain.

Elian tersenyum tipis. "Mungkin."

"Mungkin apa?"

"Bagian yang hilang."

Perempuan itu memandangnya beberapa saat. "Apa maksudmu?"

Elian tidak langsung menjawab. Ia justru mendekati sebuah panel kronologi yang membentang hampir sepanjang dinding. Tahun demi tahun disusun rapi. Perkembangan ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, lalu di tengah deretan panel itu, matanya berhenti.

Ada sebuah ruang yang berbeda karena tidak ada isinya sama sekali. Di hadapan mereka berdiri dinding putih yang bersih tanpa foto, tanpa lukisan, tanpa artefak, tanpa penjelasan sejarah. Hanya plakat logam kecil yang dipasang tepat di tengahnya. Tulisan pada plakat itu singkat.

PERIODE REKONSILIASI NASIONAL

Lihat selengkapnya