Kertas bisa bertahan lebih lama daripada suara, tetapi tidak selalu lebih lama daripada ketakutan. Ada surat-surat yang menyeberangi puluhan tahun hanya untuk tiba di tangan seseorang yang belum dilahirkan ketika tinta itu pertama kali mengering. Ada pula yang sengaja disembunyikan, berpindah dari laci ke laci, dari telapak tangan yang gemetar ke telapak tangan lain yang sama-sama takut, hingga akhirnya kehilangan nama pengirimnya, namun tidak pernah kehilangan tujuannya. Barangkali memang demikian cara masa lalu bekerja, yang tidak selalu mengetuk pintu dengan gaduh. Kadang hanya menyelipkan dirinya melalui celah yang nyaris tak terdengar, menunggu seseorang cukup peka untuk menyadari bahwa yang datang bukan sekadar secarik kertas, tapi sesuatu yang selama ini bertahan hidup di balik kesunyian.
Sejak kunjungannya ke Museum Nasional, hari-hari Elian kembali dipenuhi rutinitas yang tampak biasa. Pagi dimulai dengan menyortir arsip digital yang akan dipindahkan ke penyimpanan jangka panjang. Siang dihabiskan mengikuti rapat mengenai standarisasi katalog nasional. Menjelang sore, ia membantu tim restorasi memeriksa kelembapan ruang penyimpanan naskah kuno. Semua berlangsung sebagaimana mestinya, seolah negeri ini memang tidak pernah punya ruang kosong di museum, nama yang lenyap dari sistem kependudukan, ataupun kota-kota yang hidup tanpa penjara. Aisenodni selalu punya kemampuan yang mengagumkan untuk membuat setiap keganjilan terasa seakan hanya mimpi yang terlalu lama dipikirkan. Namun Elian mulai memahami sesuatu, bahwa yang berubah bukanlah negerinya, tapi justru cara ia memandang negeri itu.
Setiap senyum kini menyimpan pertanyaan. Setiap keheningan terasa seperti sesuatu yang sengaja dijaga. Bahkan setiap percakapan sederhana mengandung kemungkinan bahwa ada kalimat-kalimat lain yang tidak pernah diucapkan.
Malam itu hujan turun. Tidak deras, hanya cukup untuk membuat kaca jendela apartemen dipenuhi titik-titik air yang perlahan meluncur tanpa arah. Elian baru saja tiba setelah lembur lebih lama dari biasanya. Ia meletakkan tas kerjanya di dekat rak buku, melepaskan jas, lalu berdiri beberapa saat di depan jendela. Dari lantai dua belas, lampu-lampu kota tampak seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Kendaraan melintas dengan tertib. Orang-orang berjalan santai di trotoar sambil membawa payung. Di kejauhan, kereta malam melintas tanpa suara yang berlebihan. Dan justru karena itu, pikirannya kembali mengulang pertanyaan yang sama.
Apa sebenarnya harga dari semua kedamaian ini?
Ia mengembuskan napas panjang, lalu berbalik menuju pintu ketika menyadari ada sesuatu yang mengganjal di bawahnya. Ada sebuah amplop berwarna cokelat kusam yang tidak besar. Tidak pula berlambang kementerian, kode pengiriman, ataupun cap pos sebagaimana surat resmi pada umumnya. Amplop itu hanya diselipkan begitu saja melalui celah bawah pintu.
Elian berhenti dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat. Sebab di apartemen, ia tinggal sendirian. Tetangga-tetangganya hampir tidak pernah mengirim surat karena seluruh korespondensi kini dilakukan secara digital. Bahkan tagihan bulanan pun sudah lama berpindah ke sistem elektronik. Keberadaan amplop fisik terasa seperti benda yang datang dari zaman lain.
Ia membungkuk, mengangkat amplop tersebut, membalikkan sisi depan. Namun kosong. Tak ada nama penerima ataupun nama pengirim. Hanya permukaan kertas yang mulai menguning dimakan usia karena memang tampak sudah lama dibuat.
Elian tidak segera membukanya. Ia justru mengamati setiap sudut amplop itu dengan kebiasaan seorang arsiparis. Serat kertasnya lebih kasar dibanding produksi modern. Lipatannya dibuat menggunakan perekat cair, bukan lapisan perekat instan. Di salah satu sudut tampak bekas noda kecokelatan yang sulit dikenali apakah berasal dari air, debu, atau sesuatu yang jauh lebih tua. Tak ada sidik jari yang bisa dikenali oleh mata telanjang, tak ada tanda bahwa surat itu pernah melalui jalur distribusi resmi. Mungkin seseorang benar-benar datang ke apartemennya, berdiri beberapa saat di depan pintu, lalu menyelipkan amplop itu sebelum pergi tanpa meninggalkan suara.
Perasaan yang selama ini hanya muncul ketika membaca dokumen misterius kini perlahan kembali memenuhi dadanya. Seseorang mengetahui tempat tinggalnya. Lebih dari itu, seseorang memilih untuk tidak menghubunginya melalui sistem komunikasi yang tersedia. Mengapa?
Ia membawa amplop tersebut ke meja makan kecil di dekat dapur. Lampu berwarna kekuningan memantulkan bayangan tipis di atas permukaan kayu. Dengan hati-hati, Elian membuka sisi atas amplop menggunakan pisau surat yang selama ini hanya dipakainya untuk membuka dokumen-dokumen lama.
Tak ada surat maupun penjelasan. Hanya selembar foto hitam putih berukuran sekitar telapak tangan. Elian mengeluarkannya. Begitu foto itu berada di bawah cahaya lampu, napasnya seketika tertahan. Tampak kerumunan manusia berjumlah ratusan orang, mungkin lebih. Mereka memenuhi jalan yang cukup lebar, berdiri rapat sambil mengangkat spanduk-spanduk besar. Sebagian tulisan pada spanduk telah memudar sehingga sulit dibaca. Namun bukan tulisan itu yang membuat Elian membeku, tapi wajah-wajah mereka. Mata yang membelalak. Rahang yang mengeras. Mulut yang terbuka seolah sedang berteriak.
Ada seseorang yang menggenggam tangannya begitu kuat hingga urat-urat di lengannya tampak menonjol. Seorang perempuan di barisan depan menangis sambil menunjuk ke arah sesuatu di luar bingkai foto. Di sudut lain, seorang lelaki mengepalkan tangan tinggi-tinggi. Mereka … marah. Ya, benar-benar marah, seperti kemarahan yang lahir dari luka yang sudah lama dipendam. Ekspresi yang selama hidupnya nyaris tidak pernah dilihat Elian secara langsung. Ekspresi yang bahkan mulai ia ragukan pernah benar-benar ada di Aisenodni.
Tanpa sadar ia mendekatkan foto itu ke wajahnya, mempelajari setiap detail, pakaian orang-orang di dalam foto tampak berasal dari beberapa dekade lalu. Model kendaraan di kejauhan pun tidak lagi digunakan pada masa sekarang. Sebuah papan nama gedung terlihat samar di latar belakang, tetapi terlalu buram untuk dibaca. Yang jelas, foto ini bukan hasil manipulasi digital. Butiran filmnya, kontras hitam putihnya, kerusakan kecil pada bagian tepi, semuanya menunjukkan bahwa foto itu lahir dari kamera analog. Artinya foto tersebut pernah benar-benar diambil. Dan jika foto itu nyata, maka kemarahan yang tertangkap di dalamnya juga pernah nyata.
Elian membalik foto itu dengan jemari yang mulai terasa dingin. Di sisi belakang, hanya ada satu kalimat yang ditulis menggunakan tinta hitam yang sudah memudar dimakan waktu. Huruf-hurufnya sedikit berbayang, seperti ditulis seseorang yang terburu-buru atau dengan tangan yang tidak lagi muda.
"Jangan mencari dokumennya. Carilah saksinya."
Kalimat itu pendek. Namun dalam sekejap, seluruh arah penyelidikan Elian berubah. Selama ini ia menggali rak-rak arsip, memburu data, mengejar dokumen yang selalu lebih cepat menghilang daripada dirinya. Kini, seseorang yang tidak dikenalnya sedang berkata bahwa ia mencari di tempat yang salah. Dan yang paling mengusik bukanlah isi pesan itu, tapi kenyataan bahwa ada orang lain yang mengetahui apa yang sedang ia cari.
Elian membaca kalimat itu berulang kali. Lalu entah untuk yang keberapa kalinya hingga huruf-huruf yang mulai pudar tersebut terasa lebih hidup daripada tinta yang membentuknya.