Sejak menerima amplop tanpa nama itu, Elian mulai menjalani hari-harinya dengan kewaspadaan yang tidak pernah melingkupinya sebelumnya. Bukan kewaspadaan yang lahir dari rasa takut. Tidak ada seseorang yang mengikutinya di jalan, tidak ada telepon misterius, tidak ada pesan bernada ancaman. Bahkan hidupnya justru berjalan semakin normal. Bahwa ia tetap berangkat bekerja pada jam yang sama, menikmati secangkir kopi di kantin kementerian, menghadiri rapat-rapat rutin, lalu pulang ketika matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung ibu kota. Namun di balik rutinitas yang nyaris sempurna itu, muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah ada tangan yang tidak terlihat sedang merapikan jalannya kehidupan, dengan memastikan bahwa setiap pilihan yang hendak ia ambil selalu berubah sesaat sebelum sempat diwujudkan.
Mula-mula Elian menganggap semua itu hanya kebetulan. Tetapi kebetulan, seperti hujan yang turun di musim kemarau, akan kehilangan sifatnya apabila terjadi terlalu sering.
Pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, Elian membuka kembali buku catatan kecil yang kini mulai dipenuhi garis-garis penghubung. Di halaman terakhir tertulis satu nama yang sejak beberapa hari lalu terus mengganggu pikirannya.
Adrian Wicaksana.
Sama sekali ia tidak mencurigai lelaki tua itu. Justru sebaliknya, bahwa Adrian mungkin satu-satunya orang yang selama ini berbicara kepadanya tanpa berusaha mengakhiri setiap pertanyaan. Kalau benar ada saksi yang masih hidup, pikir Elian, barangkali Adrian mengetahui harus mulai mencarinya dari mana.
Ia memutuskan akan menemui lelaki itu sore nanti. Keputusan itu baru saja selesai terbentuk di dalam benaknya ketika terminal komunikasi di meja kerjanya berbunyi pelan, tanda bahwa sebuah pesan masuk. Dan pengirimnya adalah Adrian Wicaksana.
Elian membeku. Ia bahkan belum sempat menghubungi lelaki itu. Belum menulis satu kata pun. Walau demikian terkejut, Elian segera membaca isi pesan singkat tersebut.
Maaf, Elian. Aku harus pergi ke luar ibu kota selama beberapa hari. Kalau ada yang ingin kita bicarakan, mungkin setelah aku kembali.
Hanya kalimat sederhana yang datang tepat sebelum Elian berniat mencarinya. Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu tersenyum kecil kepada dirinya sendiri. Kebetulan. Mungkin memang hanya kebetulan.
Dua hari kemudian, rasa penasaran itu kembali muncul. Kali ini tujuannya bukan Adrian. Namun buku tua yang pernah disebutkan dalam katalog perpustakaan kementerian beberapa bulan sebelumnya.
Catatan Administratif Masa Awal Republik.
Judulnya terdengar biasa. Namun berdasarkan keterangan katalog, buku tersebut diterbitkan tidak lama setelah berdirinya Aisenodni dan memuat perubahan struktur pemerintahan pada tahun-tahun pertama negara. Itu bukan buku yang dilarang, pula bukan koleksi langka. Hanya sebuah referensi administratif yang hampir tidak pernah dipinjam.
Elian membuka sistem perpustakaan internal dan melihat status buku itu masih tersedia. Ia menekan tombol permintaan peminjaman, lalu layar memproses selama beberapa detik. Kemudian muncul pemberitahuan.
Permohonan tidak dapat diproses. Koleksi sedang memasuki tahap restorasi preventif.
Elian mengernyit. Restorasi? Ia segera membuka riwayat perawatan koleksi. Ada yang aneh. Selama bertahun-tahun buku itu tidak pernah dijadwalkan untuk diperbaiki. Namun tepat hari itu, beberapa menit sebelum ia mengajukan permintaan, statusnya berubah menjadi dalam restorasi. Maka, ia memanggil petugas perpustakaan.
"Permisi." Perempuan itu menghampiri dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Buku ini." Elian menunjukkan layar terminalnya. "Sejak kapan masuk restorasi?"
Petugas itu melihat sekilas. "Oh, pagi tadi."
"Pagi ini?"
"Iya."
"Mendadak?"
Perempuan itu tersenyum. "Tim konservasi menemukan bahwa beberapa koleksi lama membutuhkan pemeriksaan ulang."
"Apakah kerusakannya parah?"
Petugas itu membuka data singkat.