Hening tidak selalu berarti ketiadaan suara. Ada kalanya ia justru lahir pada detik ketika sebuah kalimat hampir selesai diucapkan, ketika ingatan telah mencapai bibir namun memilih berbalik sebelum menjadi kata. Di dalam keheningan semacam itu, manusia sering kali mengira yang hilang hanyalah sepotong percakapan. Padahal, yang sesungguhnya lenyap adalah kemungkinan, kemungkinan untuk mengetahui bahwa dunia yang selama ini dipercayainya ternyata punya wajah lain yang tidak pernah diperlihatkan. Dan barangkali, tidak ada kehilangan yang lebih menakutkan daripada kehilangan yang bahkan tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.
Selama hampir seminggu, Elian tidak lagi memulai penyelidikannya dari ruang arsip. Ia mulai mengikuti petunjuk yang tertulis di balik foto tua itu.
Jangan mencari dokumennya. Carilah saksinya.
Kalimat tersebut terus bergema di dalam kepalanya, perlahan mengubah cara berpikir seorang arsiparis yang sejak kecil diajarkan bahwa kebenaran selalu tersimpan di dalam lemari-lemari penyimpanan. Kini ia belajar menerima kemungkinan yang jauh lebih rapuh. Bahwa ingatan manusia, betapapun mudah retak, mungkin masih menyimpan sesuatu yang gagal dipertahankan sejarah. Dengan bantuan catatan kependudukan lama yang sempat ia salin sebelum beberapa data kembali berubah, Elian menyusun potongan-potongan hubungan keluarga dari nama-nama yang berhasil ia kenali di foto hitam putih itu. Sebagian besar berakhir di jalan buntu. Ada yang sudah meninggal puluhan tahun lalu, ada yang tidak lagi punya keturunan, pula ada yang lenyap dari sistem sebagaimana Nara Prasetya. Namun satu nama menarik perhatiannya.
Marta Wisesa.
Nama itu tidak muncul di dalam foto. Namun pada catatan keluarga seorang lelaki yang wajahnya berdiri di barisan paling depan, tepat di bawah spanduk yang sebagian tulisannya sudah pudar. Menurut arsip lama, Marta adalah adik kandung lelaki tersebut. Satu-satunya anggota keluarga yang masih tercatat hidup. Usianya kini delapan puluh dua tahun. Bertempat tinggal di kawasan tenang di pinggiran Distrik Aruna. Data itu masih ada. Setidaknya hingga pagi tadi.
Elian tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak membuat janji. Tidak menghubungi siapa pun. Tidak memasukkan nama Marta ke dalam sistem navigasi. Ia hanya mencatat alamatnya di atas secarik kertas, mematikan terminal komunikasinya, lalu berangkat menggunakan kendaraan umum tanpa tujuan yang tercatat di mana pun. Kali ini, ia mencoba berjalan tanpa meninggalkan jejak digital.
Rumah itu berdiri di ujung jalan kecil yang dipagari pohon kamboja tua. Bukan rumah besar. Cat putihnya mulai kusam dimakan waktu, sementara halaman depannya dipenuhi pot-pot bunga yang tumbuh tanpa susunan yang benar-benar rapi. Berbeda dengan sebagian besar rumah di ibu kota yang seragam dan modern, tempat itu masih mempertahankan kesederhanaan dari masa yang lebih lama. Di teras, seorang perempuan lanjut usia sedang menyiram tanaman dengan gerakan perlahan. Hampir seluruh rambutnya sudah memutih. Namun punggungnya masih tampak tegak, seolah usia hanya mencuri warna rambutnya tanpa benar-benar mengambil kekokohan tubuhnya.
Elian berhenti beberapa langkah dari pagar.
"Permisi."
Perempuan itu menoleh dengan tatapannya yang teduh.
"Ya?"
"Apakah benar ini rumah Ibu Marta Wisesa?"
Perempuan itu mengangguk pelan. "Saya sendiri."
Elian tersenyum sopan. "Maaf mengganggu. Nama saya Elian. Saya bekerja di Arsip Nasional."
Mendengar kata arsip, Marta tampak sedikit mengernyit, tetapi tetap mempersilakannya masuk. "Tidak banyak orang dari kementerian datang ke sini."
"Saya datang bukan untuk urusan administrasi."
"Lalu?"
Elian memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Saya sedang mencari seseorang."
Perempuan tua itu mempersilakannya duduk di ruang tamu yang dipenuhi aroma kayu tua dan daun teh yang baru diseduh. Di atas lemari kecil berjajar foto-foto keluarga, anak-anak, cucu. Beberapa potret hitam putih yang sudah mulai menguning. Semuanya tampak seperti rumah biasa. Rumah yang sudah terlalu lama hidup bersama kenangan.
"Siapa yang sedang Anda cari?" tanya Marta setelah meletakkan dua cangkir teh di atas meja.
Elian tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan amplop cokelat yang selama ini selalu disimpannya di balik deretan buku. Dengan sangat hati-hati, ia mengeluarkan foto hitam putih itu.
"Saya ingin bertanya," ia mendorong foto tersebut perlahan ke tengah meja, "apakah Ibu mengenali seseorang di dalam foto ini?"
Marta semula hanya melirik sekilas. Barangkali ia mengira itu sekadar foto lama yang hendak diidentifikasi. Namun ketika pandangannya benar-benar jatuh pada wajah-wajah di dalam bingkai itu, tangannya mendadak berhenti. Cangkir teh yang baru saja hendak diangkat kembali menyentuh tatakan dengan bunyi lirih.
Perempuan tua itu membeku dengan mata membelalak pelan, sepertinya karena melihat sesuatu yang seharusnya sudah lama terkubur. Warna wajahnya perlahan memucat. Bibirnya sedikit terbuka. Ia mengangkat foto itu dengan kedua tangan yang mulai tampak bergetar. Tatapannya bergerak dari satu wajah ke wajah lain. Seolah setiap orang di dalam foto sedang memanggil namanya dari masa yang sangat jauh.
Elian tidak berkata apa-apa, hanya mengamati. Beberapa detik berlalu, bibir Marta bergerak sangat pelan.
"Itu …." Suaranya nyaris tak terdengar. "Itu …."
Matanya mulai berkaca-kaca sambil menunjuk salah satu sosok di barisan depan dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Itu kakak saya …."
Kalimat itu keluar begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh suara jarum jam tua yang berdetak di sudut ruangan. Elian merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Akhirnya ia menemukan seseorang yang benar-benar mengenali wajah di dalam foto tersebut.
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Siapa nama beliau, Bu?"
Marta menarik napas panjang. Matanya masih terpaku pada foto itu. Bibirnya kembali bergerak. Seolah kenangan yang terkunci selama puluhan tahun akhirnya mulai menemukan celah untuk keluar.
"Namanya … namanya …." Suara Marta menggantung di antara mereka. Jari-jarinya masih mencengkeram foto itu dengan hati-hati, seakan-akan yang sedang dipegangnya bukan selembar kertas tua, tapi sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada usia.