Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Marta Wisesa, Elian tidak lagi memandang pekerjaannya dengan ketenangan yang sama. Rak-rak arsip masih berdiri tegak, lemari penyimpanan masih terkunci rapat. Sistem digital masih bekerja tanpa cela. Namun setiap kali ia menyentuh suatu dokumen, pikirannya justru melayang pada perempuan tua yang kehilangan kenangan hanya beberapa detik sebelum berhasil mengucapkannya. Ia masih bisa membayangkan dengan jelas perubahan yang terjadi di wajah Marta. Mata yang semula penuh kesedihan, bibir yang nyaris menyebutkan nama. Tapi yang terjadi setelahnya justru kehampaan.
Apa yang paling mengganggunya bukanlah kenyataan bahwa Marta lupa, tapi cara ia lupa. Tidak ada rasa panik, tidak ada usaha mengingat, tidak ada kesadaran bahwa sesuatu baru saja hilang dari pikirannya. Ingatan itu lenyap begitu sempurna hingga meninggalkan ruang kosong yang bahkan pemiliknya sendiri tidak bisa rasakan. Dan sejak hari itu, Elian mulai mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Berapa banyak kenangan miliknya sendiri yang mungkin telah hilang tanpa pernah ia sadari?
Pekerjaan di kementerian berlangsung seperti biasa. Arman masih sesekali mengajaknya berdiskusi mengenai digitalisasi arsip. Liora masih menyapa setiap pagi dengan senyum yang sama. Di kantin, orang-orang tetap bercakap-cakap mengenai keluarga, cuaca, dan rencana liburan. Tak ada yang berubah. Atau setidaknya, begitulah yang terlihat. Namun Elian kini terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang dahulu lolos dari perhatiannya. Ia mulai mengamati jeda ketika seseorang menjawab pertanyaan. Cara orang-orang memilih kata, tatapan mereka ketika membicarakan masa lalu. Ia sengaja beberapa kali menyelipkan pertanyaan sederhana.
"Menurutmu, masa tersulit dalam sejarah Aisenodni itu kapan?"
Jawaban yang diterimanya hampir selalu sama. "Kami tidak pernah benar-benar punya masa yang sulit."
"Mungkin masa-masa awal pembangunan."
Namun ketika ia meminta penjelasan lebih jauh, percakapan selalu berakhir dengan senyum dan anggukan yang samar. Tak seorang pun bisa menceritakan peristiwa tertentu, tak seorang pun mengingat luka yang konkret. Seolah seluruh bangsa pernah bersepakat bahwa masa lalu hanya pantas dikenang sejauh ia terasa menyenangkan.
Malam itu Elian pulang lebih larut daripada biasanya. Hujan baru saja reda. Udara membawa aroma tanah basah yang bercampur wangi dedaunan dari taman kecil di depan apartemen. Lorong menuju unitnya lengang. Lampu-lampu dinding memantulkan cahaya kekuningan di atas lantai yang masih sedikit lembap. Langkahnya melambat ketika tiba di depan pintu apartemen. Ada sesuatu di bawah keset. Bukan amplop seperti beberapa minggu lalu, tapi kartu kecil berwarna hitam pekat. Ukurannya tak lebih besar daripada telapak tangan. Elian berhenti karena perasaan yang sama kembali muncul. Perasaan bahwa masa lalu sekali lagi sedang mengetuk pintunya.
Ia membungkuk, mengangkat kartu itu. Permukaannya terbuat dari kertas tebal dengan tekstur yang tidak biasa, nyaris terasa seperti serat kain yang dipadatkan. Tak ada cap lembaga ataupun kode identifikasi. Hanya beberapa baris yang dicetak menggunakan huruf putih sederhana. Koordinat geografis. Di bawahnya tertulis waktu, yaitu 21.30. Besok malam.
Tidak ada penjelasan lain. Hanya lokasi. Dan waktu, seolah siapa pun yang mengirimkannya sudah yakin bahwa Elian akan memahami maksudnya. Atau bahwa rasa ingin tahunya akan menyelesaikan bagian yang sengaja dikosongkan.
Ia membalik kartu tersebut. Di sisi belakang hanya terdapat simbol yang sederhana, tapi asing. Sebuah lingkaran tipis, di tengahnya membelah satu garis vertikal. Akan tetapi garis itu tidak benar-benar membagi lingkaran jadi dua bagian yang utuh. Tepat di titik perpotongannya, lingkaran itu tampak retakan kecil yang tidak beraturan. Seolah cincin logam yang pecah karena menerima benturan yang terlalu keras.
Elian mengernyit, mencoba mengingat. Sebagai arsiparis, ia pernah mempelajari ribuan lambang organisasi, kementerian, komunitas sejarah, hingga simbol-simbol budaya dari berbagai daerah. Namun simbol ini tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Ia mengambil terminal pribadinya, memotret kartu tersebut, lalu memasukkan gambar itu ke dalam sistem pencarian simbol nasional. Hasilnya nihil, tidak ditemukan. Ia mencoba basis data lambang organisasi masyarakat, tetap kosong. Simbol itu seolah tidak pernah didaftarkan. Atau tidak pernah diizinkan tercatat.
Malam itu Elian hampir tidak tidur. Kartu hitam itu diletakkannya di atas meja, tepat di samping foto demonstrasi yang beberapa waktu lalu diterimanya tanpa nama pengirim.