AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #22

Dunia Sebelum Harmoni

Malam semakin larut. Di luar bangunan tua itu, angin berembus melewati sela-sela jendela yang mulai keropos. Ranting-ranting pohon tua bergesekan satu sama lain, membunyikan lirih yang sesekali menyelinap ke dalam ruangan, seolah malam sendiri sedang menguping percakapan mereka. Sebagian anggota Para Pengingat mulai membereskan pekerjaan. Perempuan yang sejak tadi menjahit sampul buku menutup kotak peralatannya hati-hati. Lelaki tua berkacamata memadamkan lampu meja setelah selesai membersihkan kamera analog yang usianya mungkin lebih tua daripada sebagian besar orang di ruangan itu. Tak ada aba-aba, tak ada pemimpin yang memberi perintah. Mereka bergerak dengan ketenangan yang lahir dari kebiasaan panjang, sebagaimana orang-orang yang bertahun-tahun memahami pekerjaan masing-masing tanpa perlu saling mengingatkan.

Ravian masih duduk di hadapan Elian dengan tangan terlipat di atas meja. Tatapannya tidak lagi tertuju pada tumpukan dokumen, tapi pada lampu minyak kecil yang menyala di tengah meja bundar. Nyala apinya tenang, sesekali bergoyang pelan ketika angin berhasil menyusup melalui celah-celah dinding.

"Apa yang akan kuceritakan setelah ini," suara Ravian memecah keheningan, "barangkali merupakan cerita paling berbahaya yang pernah kau dengar."

Elian tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.

"Aku tidak mengatakan bahwa semuanya benar."

"Lalu mengapa menceritakannya?"

"Karena ada kalanya sebuah kisah tetap pantas didengar," Ravian menatap nyala api beberapa saat, "meskipun kita belum bisa membuktikannya."

Pria paruh baya itu bangkit dari kursinya, berjalan menuju salah satu rak paling belakang, lalu mengambil kotak kayu kecil yang tampaknya jauh lebih tua dibandingkan map-map arsip yang sebelumnya diperlihatkan. Permukaan kotak itu dipenuhi guratan halus akibat usia. Pada tutupnya terukir simbol lingkaran yang retak oleh satu garis vertikal. Simbol yang sama, dan Elian langsung mengenalinya. Ravian membuka kotak tersebut, yang isinya bukan dokumen, tapi beberapa buku tulis bersampul kulit yang memudar, lembaran-lembaran kertas tanpa nomor halaman, serta potongan catatan yang ditulis menggunakan tinta berbeda-beda warna.

"Apa ini?"

"Warisan."

"Dari siapa?"

"Dari mereka yang datang sebelum kami."

Ravian mengangkat salah satu buku.

"Sebelum meninggal, setiap Pengingat menuliskan hal yang masih mereka ingat."

"Semuanya?"

"Sebisa mungkin. Lalu buku itu diberikan kepada generasi berikutnya."

Elian memandang tumpukan buku tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sebagai arsiparis, ia terbiasa mempercayai dokumen resmi. Tanggal, nomor registrasi, tanda tangan, cap negara. Sementara buku-buku di hadapannya, tidak punya semua itu. Hanya tulisan tangan yang lebih menyerupai coretan, catatan yang mungkin saja keliru. Namun justru karena ditulis begitu banyak orang berbeda, setiap halaman memancarkan sesuatu yang tidak pernah ia temukan dalam arsip nasional, yaitu keraguan.

"Dahulu," Ravian mulai berbicara, "negeri ini tidak bernama Aisenodni sebagaimana yang kau kenal sekarang."

Elian mengangkat kepala.

"Namanya berbeda?"

"Mungkin."

"Mungkin juga sama."

"Kami tidak lagi yakin."

Pria itu tersenyum kecil, seolah sudah lama berdamai dengan kenyataan bahwa ketidakpastian adalah bagian dari pekerjaan mereka.

"Yang kami warisi bukan nama. Bukan pula tahun. Tapi keadaan."

Ravian membuka salah satu buku tua yang halamannya penuhi tulisan tangan yang mulai pudar. Di beberapa bagian bahkan terdapat noda air yang membuat beberapa kalimat nyaris tak bisa dibaca. Ia mulai membacakan beberapa penggalan.

Orang-orang saling membenci hanya karena berbeda pilihan.

Ia membalik halaman berikutnya. Anak-anak tumbuh dengan mengenal suara ledakan sebelum mengenal lagu pengantar tidur.

Halaman lain. Sawah dibiarkan mengering sementara mereka yang berkuasa sibuk memperebutkan kursi yang bahkan tidak bisa memberi makan rakyatnya.

Suara Ravian tetap tenang. Namun setiap kalimat yang keluar terasa seperti membuka pintu menuju dunia yang sama sekali asing bagi Elian, seperti perang, kelaparan, korupsi, perebutan kekuasaan. Kata-kata itu dikenalnya sebagai istilah dalam kamus sebagai peristiwa yang kadang terjadi di negara lain. Bukan di tanah tempat ia dilahirkan.

"Apa semua ini benar-benar pernah terjadi?"

Ravian menutup buku itu perlahan.

"Kami percaya demikian."

"Hanya percaya?"

Pria itu mengangguk. "Hanya itu yang kami miliki."

Lihat selengkapnya