Sejak pertemuannya dengan Para Pengingat, Elian mulai menjalani kehidupan seolah-olah ia sedang mengunjungi negerinya sendiri sebagai seorang asing. Tidak ada yang berubah pada jalan-jalan yang dilaluinya. Gedung-gedung kementerian masih menjulang bersih. Kereta tetap datang tepat waktu. Taman kota masih dipenuhi keluarga yang menikmati sore tanpa tergesa. Namun setiap pemandangan yang dahulu memberinya rasa bangga kini perlahan berubah jadi teka-teki yang meminta ditafsirkan kembali.
Ravian pernah berkata kepadanya sebelum mereka berpisah.
"Jangan lagi mencari sejarah di masa lalu. Carilah sejarah yang masih hidup."
Ketika Elian meminta penjelasan, Ravian hanya tersenyum tipis.
"Kalau Genesis benar-benar mengubah manusia, jejaknya tidak akan berhenti pada dokumen. Ia akan hidup di dalam kebiasaan."
Kalimat itu terus terngiang sejak malam itu. Maka selama beberapa hari berikutnya, Elian menghentikan pencariannya terhadap arsip-arsip yang hilang. Ia mulai mencari sesuatu yang jauh lebih dekat, yaitu manusia.
Dengan alasan melakukan evaluasi budaya literasi nasional, Elian mengajukan permohonan resmi untuk mengunjungi beberapa sekolah negeri. Permohonan itu disetujui tanpa kesulitan. Program kunjungan antarkementerian merupakan hal yang lazim. Tak seorang pun mempertanyakan tujuannya.
Pagi itu, ia tiba di sebuah sekolah dasar yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Gedungnya sederhana dengan dinding-dinding dipenuhi lukisan karya murid. Halaman sekolah ditumbuhi pohon-pohon peneduh yang membuat udara terasa lebih sejuk dibandingkan jalan raya di luar pagar. Bel berbunyi tepat pukul delapan. Anak-anak berlarian menuju kelas. Namun bahkan cara mereka berlari terasa berbeda. Tak ada yang saling mendorong, tak ada yang berebut memasuki pintu, tak ada suara tangis karena tersenggol. Mereka bergerak cepat, tetapi tetap memberi ruang bagi teman-teman mereka.
Elian hanya berdiri di koridor sambil mengamati, belajar melihat kembali sesuatu yang selama ini dianggap biasa.
Jam pelajaran pertama pun dimulai. Guru yang mengajar bahasa dan sastra mempersilakan Elian duduk di bangku paling belakang. Dari tempat itu, seluruh kelas terlihat jelas. Tiga puluh dua murid. Tak seorang pun berbicara ketika guru mulai menjelaskan. Tidak ada anak yang diam-diam menggambar di buku, tidak ada yang memainkan alat tulis, tidak ada yang memandang ke luar jendela terlalu lama. Ketika guru mengajukan pertanyaan, beberapa tangan langsung terangkat. Mereka menunggu dipersilakan, menjawab dengan tenang, lalu kembali duduk. Begitu seterusnya.
Pelajaran berlangsung tanpa satu pun teguran. Tanpa satu pun ancaman. Tanpa satu pun kalimat, "Tolong diam." Bahkan ketika seorang murid menjatuhkan pensil hingga menggelinding ke depan kelas, teman-temannya hanya menunggu dengan sabar sampai ia mengambilnya kembali. Tidak terdengar tawa mengejek, tidak pula bisik-bisik yang mengganggu. Kelas itu sangat tertib hingga nyaris terlihat bak pertunjukan yang berulang ribuan kali.
Ketika waktu istirahat tiba, Elian mengikuti guru menuju halaman sekolah. Puluhan anak segera memenuhi lapangan. Sebagian bermain bola. Yang lain membaca buku di bawah pohon. Lainnya lagi duduk berkelompok sambil bertukar bekal makan siang. Ia mengamati selama hampir setengah jam. Tak ada pertengkaran, pun demikian tak ada suara bentakan. Bahkan permainan sepak bola yang biasanya mudah memancing perselisihan berlangsung dengan ketenangan yang nyaris mustahil.
Ketika salah seorang anak terjatuh setelah bertabrakan, pemain lain segera menghampirinya. Mereka membantu temannya berdiri, mengusap debu di seragamnya, lalu permainan berlanjut seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Seorang guru yang berdiri di samping Elian tersenyum bangga.
"Anak-anak sekarang jauh berbeda dibandingkan puluhan tahun lalu."
"Berbeda bagaimana?"
"Dulu masih sering ada perundungan, perkelahian, anak-anak membangkang. Sekarang hampir tidak pernah."
Nada suaranya dipenuhi rasa syukur. Dan Elian memahami alasannya. Bukankah ini sekolah yang selalu diimpikan setiap orang tua? Sekolah tanpa kekerasan, tanpa kenakalan, tanpa rasa takut. Namun entah mengapa, ia justru tidak merasakan ketenangan yang sama.
Hingga menjelang siang, ia meminta izin berbincang dengan beberapa murid. Guru mempersilakan. Maka seorang anak laki-laki bernama Arka, berusia sekitar sepuluh tahun duduk di hadapannya. Wajahnya ceria, matanya jernih.
"Kamu pernah dimarahi guru?"
"Pernah."
"Bagaimana rasanya?"
Arka berpikir sejenak. "Lain kali saya berusaha tidak mengulanginya."
"Kamu pernah marah kepada guru?"
Anak itu tampak bingung.
"Marah?"