Malam itu tidak segera berakhir setelah percakapan panjang mengenai Abad Pertikaian. Sebagian anggota Para Pengingat sudah kembali ke rumah masing-masing. Lampu-lampu di ruangan utama dipadamkan satu per satu, menyisakan hanya beberapa cahaya temaram yang membuat bayangan rak buku memanjang di lantai kayu. Bangunan tua itu perlahan berubah semakin sunyi. Namun Ravian belum memperlihatkan tanda-tanda bahwa pertemuan mereka benar-benar selesai.
"Masih ada satu hal." Pria itu berdiri sambil mengambil lentera kecil. "Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Elian mengikutinya. Mereka melewati lorong sempit yang sebelumnya tidak sempat ia perhatikan. Dinding-dindingnya tersusun dari bata merah tanpa lapisan cat. Di beberapa bagian, akar tanaman liar menyusup melalui celah-celah semen yang sudah rapuh. Lorong itu berakhir di sebuah pintu besi berwarna kelabu yang tidak besar, tetapi jauh lebih kokoh dibandingkan pintu-pintu lain di bangunan tersebut. Ravian membuka gemboknya. Bunyi logam beradu memantul pelan di dalam ruang yang sempit.
"Apa di dalam?"
"Bukan arsip. Bukan pula buku. Tapi sesuatu yang hampir tidak pernah selamat."
Ruangan di balik pintu itu hanya seluas kamar kecil. Udara di dalamnya terasa lebih dingin. Rak-raknya tidak dipenuhi map atau naskah, tapi berbagai benda yang kini hampir tidak lagi digunakan masyarakat Aisenodni. Kamera film, perekam suara analog, kaset pita, piringan optik, proyektor tua. Semuanya tertata rapi, masing-masing diberi label tulisan tangan yang sederhana.
Elian berjalan menyusuri rak-rak tersebut. Selama bertahun-tahun bekerja di Arsip Nasional, ia memang pernah mempelajari media penyimpanan lama. Namun hampir seluruh koleksi resmi sudah lama dialihkan ke bentuk digital. Melihat benda-benda asli seperti ini terasa seperti menyentuh sisa-sisa zaman yang sengaja ditinggalkan. Ravian berhenti di depan lemari kecil. Ia mengeluarkan kotak plastik transparan yang di dalamnya terdapat kaset video berukuran sedang. Warnanya sudah memudar. Label putih yang menempel di bagian depan mulai menguning. Tulisan pada label itu nyaris tak terbaca.
Ravian meniup permukaannya yang berdebu, lalu menyerahkannya kepada Elian.
"Tolong baca."
Elian memiringkan kaset itu ke arah cahaya. Huruf-huruf yang pudar perlahan terlihat.
GENESIS
Di bawahnya terdapat tulisan yang jauh lebih kecil.
Laboratorium Pusat - Rekaman 07
Jantung Elian berdegup sedikit lebih cepat.
"Ini asli?"
"Kami percaya begitu."
"Kalian percaya?"
Ravian tersenyum tipis. "Kau mulai memahami cara kami bekerja."
Tak ada satu pun pernyataan yang diberikan sebagai kepastian. Hanya kemungkinan yang dijaga dengan sangat hati-hati.
Di sudut ruangan berdiri pemutar video tua yang sudah dimodifikasi agar bisa digunakan. Seorang anggota Para Pengingat yang sedari tadi diam menghampiri mereka. Usianya mungkin tidak lebih dari tiga puluh tahun. Tangannya cekatan membersihkan kepala pemutar menggunakan kain halus sebelum memasukkan kaset tersebut dengan kehati-hatian yang hampir menyerupai ritual.
"Rekamannya rusak," katanya pelan. "Banyak bagian yang hilang. Jangan berharap menemukan jawaban lengkap."
Elian mengangguk. Lampu ruangan dipadamkan. Hanya layar kecil di depan mereka yang masih memancarkan cahaya kebiruan. Mesin mulai berdengung, pertanda bahwa kaset berputar. Mula-mula yang muncul hanyalah garis-garis horizontal yang saling bertumpuk. Layar berkedip. Suara mendesis memenuhi ruangan. Beberapa detik berlalu tanpa gambar yang jelas. Kemudian perlahan bayangan mulai terbentuk.
Sebuah ruangan laboratorium muncul di layar. Gambarnya buram dengan kontras rendah. Warna-warna sudah memudar hingga nyaris hanya menyisakan gradasi kelabu. Namun beberapa hal masih bisa dikenali. Orang-orang mengenakan jas laboratorium berwarna terang. Di belakang mereka tampak papan tulis besar yang dipenuhi rumus, diagram menyerupai struktur sel, serta beberapa sketsa otak manusia.
Di salah satu sisi ruangan berdiri pria berusia sekitar enam puluh tahun berambut putih. Kacamata bulat bertengger di hidungnya. Di sebelahnya berdiri perempuan yang jauh lebih muda, memegang beberapa lembar dokumen. Tak ada keterangan nama maupun tanggal. Hanya gambar yang sesekali berguncang karena kerusakan pita.
Pria tua itu mulai berbicara. Namun suaranya tertelan gangguan.
"...manusia..."
Suara kembali hilang dan layar dipenuhi bintik-bintik. Kemudian gambar kembali muncul.
"...telah mencoba memperbaiki..."
Gangguan lagi, kalimat berikutnya tak terdengar sama sekali. Elian tanpa sadar mencondongkan badan dengan tangan mengepal pelan di atas lutut. Ia merasa sedang berdiri di depan pintu yang sudah terkunci selama puluhan tahun. Dan kini, pintu itu mulai terbuka.
Suara pria tersebut kembali terdengar. Kali ini lebih jelas.
"...konflik bukan berasal dari sistem politik..."
Gangguan.
"...melainkan dari struktur biologis manusia..."
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. Tak seorang pun bergerak ataupun berbicara. Semua mata terpaku pada layar kecil yang berkedip-kedip itu. Pria di dalam rekaman tampak melanjutkan penjelasannya sambil menunjuk ilustrasi otak. Namun sebagian besar ucapannya kembali ditelan suara berdesis. Beberapa detik, satu kalimat lain berhasil terdengar.
"...selama manusia masih membawa benih dominasi..."