AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #25

Presiden yang Dicintai

Berita mengenai dialog terbuka Presiden Aisenodni memenuhi berbagai saluran informasi sejak beberapa hari sebelumnya. Acara itu bukan sesuatu yang luar biasa. Setidaknya, begitulah komentar hampir semua rekan kerja Elian. Presiden memang secara berkala mengadakan pertemuan langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Tidak ada tema yang benar-benar dibatasi. Siapa pun bisa dan berhak mengajukan pertanyaan, menyampaikan kritik, atau memberikan usulan mengenai pelayanan publik.

"Kau pernah datang?" tanya Elian kepada Arman ketika mereka sedang makan siang.

Arman mengangguk. "Dua kali."

"Bagaimana?"

"Menyenangkan."

"Hanya itu?"

Arman tertawa kecil. "Apa lagi yang ingin kau dengar?"

"Orang benar-benar bebas bertanya?"

"Tentu."

"Mengkritik juga?"

"Kalau kritiknya masuk akal, kenapa tidak?"

Jawaban itu terdengar ringan hingga Elian hampir mengira dirinya sedang membicarakan kegiatan kebudayaan, bukan pertemuan dengan kepala negara.

Rasa penasaran demikian mendorongnya mendaftarkan diri sebagai peserta. Prosesnya berlangsung sederhana. Tak ada pemeriksaan latar belakang yang rumit. Beberapa hari kemudian, izin menghadiri dialog sudah dikirimkan ke terminal komunikasinya. Tempat penyelenggaraan berada di aula publik yang menghadap taman kota. Bangunannya tidak megah. Dindingnya didominasi kaca, membuat cahaya pagi leluasa memasuki hampir seluruh ruangan.

Ketika Elian tiba, ratusan orang sudah memenuhi kursi-kursi yang disusun melingkar. Mahasiswa, guru, petani, dokter, pegawai negeri, pemilik usaha kecil, anak-anak muda, bahkan orang-orang lanjut usia. Tak ada pemisahan yang mencolok, pun tak ada kursi istimewa selain panggung rendah di bagian depan ruangan. Suasananya lebih mirip forum diskusi daripada acara kenegaraan.

Hal pertama yang menarik perhatian Elian justru bukanlah Presiden, tapi pengamanannya. Tentu ada petugas keamanan, tapi jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan yang pernah ia lihat dalam dokumentasi kunjungan kepala negara di berbagai belahan dunia. Sebagian bahkan berpakaian biasa, tidak membawa senjata yang mencolok, demikian pula tidak menciptakan jarak yang terasa mengancam. Mereka hadir, tetapi tidak mendominasi ruang.

Hal itu kembali mengusik pikirannya. Negeri yang selama ini ia curigai menyembunyikan proyek sebesar Genesis justru memperlihatkan wajah pemerintahan yang nyaris tanpa rasa takut terhadap rakyatnya sendiri, mengapa?

Beberapa menit kemudian, seluruh orang di dalam ruangan berdiri karena Presiden memasuki aula melalui pintu samping. Elian menatap lelaki itu untuk pertama kalinya dari jarak yang begitu dekat. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya mulai memutih di pelipis. Langkahnya tenang. Ia mengenakan setelan sederhana berwarna biru tua tanpa hiasan yang berlebihan.

Tak ada sorot mata yang mencoba menunjukkan kewibawaan secara sengaja. Ia tersenyum kepada beberapa orang yang duduk di barisan depan, berhenti sejenak untuk menyapa seorang anak kecil, menerima gambar sederhana yang diberikan bocah itu, lalu mengucapkan terima kasih dengan membungkukkan badan sedikit.

Gerakan kecil, tapi terasa begitu alami. Tak tampak seperti sesuatu yang dilakukan demi kamera. Elian memperhatikan dengan saksama. Selama ini, bayangannya mengenai pemimpin sebuah sistem yang menyimpan rahasia besar selalu dipenuhi kesan dingin, penuh perhitungan, dan sulit ditebak. Lelaki di hadapannya justru menghadirkan kesan yang sama sekali berbeda. Hangat, tenang, dan manusiawi.

Tak lama kemudian, dialog pun dimulai tanpa pidato panjang. Presiden hanya mengucapkan beberapa kalimat pembuka.

"Laporan tertulis memang penting, tetapi tidak ada laporan yang lebih jujur daripada percakapan dengan orang-orang yang mengalaminya secara langsung."

Setelah itu, mikrofon berpindah ke tangan peserta.

Seorang petani mengeluhkan sistem distribusi pupuk yang terlambat, Presiden tidak memotong penjelasannya, justru mendengarkan hingga selesai, lalu mencatat sesuatu di atas buku kecil yang dibawanya sendiri.

Lihat selengkapnya