AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #26

Arsip yang Tidak Pernah Ditulis

Sejak menyaksikan rekaman Genesis dan menghadiri dialog bersama Presiden, pikiran Elian tidak lagi bergerak di antara dua kutub sederhana, benar atau salah, baik atau jahat. Segalanya kini terasa lebih kabur, lebih manusiawi, karena itulah semuanya semakin sulit dipahami.

Ia mulai menerima kemungkinan yang sebelumnya selalu ia tolak. Bahwa suatu negara bisa menyimpan rahasia yang sangat besar tanpa didorong niat yang sepenuhnya jahat. Namun penerimaan itu tidak mengurangi rasa penasarannya. Sebaliknya, ia justru merasa punya tanggung jawab yang lebih besar untuk mengetahui apa sebenarnya yang pernah terjadi. Karena apabila Genesis benar-benar lahir dari keputusasaan suatu generasi, maka sejarah mengenai keputusan itu tidak boleh hanya hidup sebagai bisikan dari mulut ke mulut. Harus ada jejak sekecil apa pun. Dan jika jejak itu masih tersisa, tempat pertama yang layak mencarinya tetaplah kementerian tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya.

Hari-hari berikutnya dijalani seperti biasa. Elian tetap datang tepat waktu menghadiri rapat, memeriksa digitalisasi arsip, menandatangani laporan, bercakap-cakap dengan rekan kerja mengenai hal-hal yang ringan. Tak seorang pun menyadari bahwa di balik rutinitas yang tampak tenang, pikirannya sedang menyusun pola yang berbeda. Ia tidak lagi mencari dokumen berdasarkan nama. Apalagi berdasarkan tahun. Kini ia memperhatikan sesuatu yang selama bertahun-tahun luput dari penglihatannya. Struktur bangunan, denah penyimpanan, jalur distribusi arsip, sistem inventaris.

Sebagai arsiparis, ia tahu bahwa setiap dokumen yang masuk ke kementerian harus memiliki perjalanan yang dapat ditelusuri, di antaranya ada nomor registrasi, lokasi penyimpanan, riwayat peminjaman, status digitalisasi. Semua tersusun dalam sistem yang nyaris mustahil meninggalkan celah. Nyaris. Sebab setiap sistem, betapa pun sempurnanya, tetap diciptakan oleh manusia. Dan manusia selalu meninggalkan kebiasaan.

Sore itu, setelah sebagian besar pegawai pulang, Elian justru menuju ruang penyimpanan bawah tanah. Lorong-lorong panjang yang dahulu terasa begitu akrab kini menghadirkan kesan yang berbeda. Lampu-lampu putih menggantung diam di langit-langit rendah. Udara dingin mengalir melalui saluran ventilasi. Suara langkahnya memantul pelan di antara rak-rak logam yang menjulang seperti barisan pepohonan tanpa daun. Beberapa minggu lalu ia datang ke tempat ini dengan rasa ingin tahu. Kini ia datang dengan tujuan.

Ia membuka terminal inventaris yang terpasang di dinding. Jarinya bergerak cepat menelusuri peta penyimpanan. Blok A, B, C. Seluruhnya tercatat lengkap. Namun ketika ia membandingkan peta digital dengan denah arsitektur bangunan lama yang pernah dipelajarinya saat pelatihan, sesuatu terasa ganjil. Ada selisih ukuran yang walaupun memang tidak besar. Hanya beberapa meter, tetapi cukup untuk membuatnya berhenti. Di atas kertas bangunan, koridor sebelah timur seharusnya berakhir pada ruang penyimpanan tambahan. Sementara pada sistem inventaris modern, ruang itu tidak pernah ada.

Rasa penasaran mengalahkan keraguan. Elian berjalan menyusuri koridor yang jarang dilalui pegawai. Rak-rak arsip semakin sedikit. Lampu penerangan mulai renggang. Di ujung lorong berdiri dinding yang tampak biasa. Namun ketika tangannya menyentuh permukaannya, ia menemukan garis tipis yang hampir tak terlihat.

Sebuah pintu.

Warnanya disamakan dengan dinding sehingga nyaris mustahil dikenali dari kejauhan. Ia mengamati sekeliling, tak ada siapa pun. Perlahan ia mencoba gagang pintunya, tapi terkunci. Namun panel akses di sampingnya masih menggunakan sistem identifikasi pegawai kementerian. Dengan sedikit keraguan, ia menempelkan kartu identitasnya. Bunyi pendek terdengar.

Hijau. Pintu terbuka, membuat Elian terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu apakah akses itu memang diberikan kepadanya atau seseorang sengaja membiarkannya terbuka.

Ruangan di balik pintu jauh lebih kecil dibandingkan ruang penyimpanan utama. Dindingnya terbuat dari beton polos. Tidak ada rak tinggi, demikian tidak ada terminal komputer. Hanya lemari besi besar yang mepet di sisi ruangan berwarna kelabu gelap dengan permukaan yang nyaris tanpa goresan. Yang membuat Elian semakin heran bukanlah keberadaan lemari itu, tapi kenyataan bahwa benda sebesar itu sama sekali tidak tercantum dalam daftar inventaris kementerian.

Ia kembali membuka terminal genggamnya, mencari berdasarkan lokasi, kosong. Mencari berdasarkan nomor ruangan, tidak ditemukan. Mencari berdasarkan kategori penyimpanan, tetap tidak ada. Sepertinya lemari besi itu memang tidak pernah diakui keberadaannya.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Kunci elektronik pada lemari ternyata masih terhubung dengan kartu identitas pegawai. Elian menatap panel akses cukup lama. Naluri profesionalnya mengatakan agar ia berbalik. Namun rasa ingin tahunya berkembang jadi sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar dorongan akademis. Perlahan ia menempelkan kartu. Panel pun berkedip, lalu terdengar bunyi mekanis yang berat.

Klik.

Pintu lemari besi terbuka beberapa sentimeter. Udara pengap keluar dari dalamnya, membawa aroma khas kertas yang terlalu lama disimpan dalam ruang kedap. Elian menarik napas pelan sembari membuka pintunya lebih lebar. Dan sesaat kemudian, ia hanya bisa berdiri membeku. Sebab yang tersimpan di dalam lemari itu bukan dokumen rahasia, dan bukan laporan penelitian Genesis.

Tidak ada berkas yang bertanda "Sangat Rahasia". Tidak ada catatan mengenai para ilmuwan. Yang memenuhi setiap rak justru ribuan map berwarna abu-abu yang tersusun sangat rapi. Seluruhnya masih kosong, artinya belum pernah diisi. Namun di setiap sampulnya sudah tercetak nomor arsip, kode klasifikasi, dan ruang untuk judul dokumen. Seolah semuanya sedang dipersiapkan untuk sejarah yang bahkan belum pernah diizinkan lahir.

Elian mengangkat salah satu map itu dengan hati-hati. Bahannya masih kaku. Sudut-sudutnya belum pernah tertekuk. Tidak ada bekas jemari, dan tak ada aroma tinta. Hanya wangi tipis kertas yang terlalu lama menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Di bagian depan, tepat di bawah nomor klasifikasi, terdapat kolom-kolom yang dicetak dengan rapi.

Judul Arsip, Tanggal, Unit Penyusun, Status Akses.

Semuanya kosong.

Ia membuka map tersebut, tak ada selembar kertas pun di dalamnya. Hanya ruang yang seolah sedang disediakan bagi peristiwa yang sejak awal diputuskan untuk tidak memiliki saksi.

Elian mencoba mengambil map lain yang nomornya berbeda. Kategori klasifikasinya pun tidak sama. Sebagian bertanda Kebijakan Nasional. Sebagian lagi Keamanan Dalam Negeri. Ada pula yang menggunakan kode yang belum pernah ia temui sepanjang bekerja sebagai arsiparis. Namun hasilnya tetap serupa: kosong. Seluruhnya kosong. Rak demi rak dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah jadi kenyataan. Atau barangkali justru pernah jadi kenyataan, tetapi kemudian diputuskan untuk kembali jadi kehampaan.

Lihat selengkapnya