Selama berminggu-minggu terakhir, Elian memikul penyelidikannya seorang diri. Setiap dokumen yang hilang. Setiap ingatan yang terhapus. Setiap percakapan dengan Para Pengingat. Setiap malam yang dihabiskannya menatap halaman-halaman catatan. Semuanya hanya hidup di dalam kepalanya sendiri. Bukan karena ia tidak mempercayai siapa pun, tapi karena ia belum menemukan seseorang yang cukup ia percaya untuk memikul beban yang sama. Namun manusia memiliki batas. Bahkan rahasia yang paling hati-hati dijaga pada akhirnya akan mencari tempat untuk bernapas. Dan ketika nama itu muncul di dalam pikirannya, Elian segera menyadari bahwa sebenarnya ia telah mengetahui kepada siapa ingin bercerita sejak awal.
Lyra.
Mereka sudah saling mengenal jauh sebelum penyelidikan ini dimulai. Pertemuan pertama mereka di Festival Harmoni terasa seperti kenangan dari kehidupan yang berbeda. Perempuan itu masih tetap jadi pencerita sukarelawan yang datang dari waktu ke waktu, ke perpustakaan, sekolah, dan rumah-rumah budaya. Ia masih menyukai buku-buku lama. Masih menghafal bait-bait puisi yang nyaris tidak lagi dibaca generasi muda. Dan yang paling disukai Elian darinya, Lyra selalu mendengarkan. Bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Namun benar-benar mendengarkan. Mungkin karena itulah, tanpa benar-benar merencanakannya, Elian mengirimkan pesan singkat.
"Bisakah kita bertemu?"
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
"Tempat biasa?"
Elian tersenyum kecil.
"Ya."
Tempat biasa itu adalah kedai teh kecil di pinggir danau kota. Tidak banyak orang datang ke sana pada sore hari. Suasananya tenang, jauh dari keramaian pusat kota. Mereka sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan berbincang mengenai buku, musik, atau cerita-cerita lama yang hampir tidak lagi diingat siapa pun.
Sore itu langit diselimuti awan tipis. Permukaan danau memantulkan cahaya matahari yang mulai condong ke barat hingga tampak seperti lembaran kaca yang berkilau lembut. Lyra sudah datang lebih dulu. Ia duduk di dekat jendela dengan sebuah buku terbuka di hadapannya. Namun ketika melihat Elian datang, ia segera menutupnya.
"Kau terlihat lelah," tukasnya pelan.
Elian tersenyum tipis. "Mungkin memang begitu."
Lyra tidak bertanya lebih jauh, hanya menuangkan teh ke dalam cangkir di depan Elian. Seolah ia memahami bahwa ada beberapa cerita yang memerlukan waktu sebelum akhirnya bisa dikeluarkan.
Percakapan mereka mula-mula berjalan seperti biasanya. Mereka membahas buku baru yang diterbitkan perpustakaan nasional. Festival sastra bulan depan. Beberapa cerita anak yang sedang disusun Lyra. Namun Elian hampir tidak bisa mengikuti arah pembicaraan karena pikirannya terus kembali pada satu pertanyaan. Apakah ia harus menceritakan semuanya?
Ravian pernah mengingatkannya agar tidak mudah percaya siapa pun. Namun Lyra bukan "siapa pun". Setidaknya begitulah yang selalu diyakininya. Akhirnya ia menarik napas panjang.
"Aku menemukan sesuatu."
Lyra memandangnya. "Sesuatu tentang apa?"
"Tentang negeri ini."
Tatapan perempuan itu berubah sedikit lebih serius, tetapi ia tidak menyela. Tidak pula memperlihatkan rasa ingin tahu yang berlebihan. Hanya menunggu. Dan itu membuat Elian semakin yakin untuk melanjutkan.
Sore itu, seluruh penyelidikan yang selama ini hanya hidup di dalam buku catatannya mengalir keluar melalui kata-kata. Bahwa sampai hari ini ia belum tahu apakah semua temuannya merujuk pada kejahatan atau pengorbanan yang terlalu besar untuk dipahami dengan ukuran moral yang sederhana. Sepanjang cerita itu berlangsung, Lyra hampir tidak pernah memotong. Sesekali ia hanya mengangguk pelan. Sesekali menyesap tehnya yang mulai mendingin. Tatapannya tetap tertuju pada Elian dengan penuh perhatian, tapi sulit ditebak.
Elian berharap menemukan tanda-tanda kaget, atau kemarahan, atau setidaknya kegelisahan. Akan tetapi, wajah perempuan itu justru semakin tenang. Sepertinya setiap kalimat yang didengarnya sedang ia letakkan satu demi satu ke tempat yang paling dalam di pikirannya.
Hari mulai beranjak senja ketika Elian akhirnya berhenti berbicara. Udara di luar jendela berubah lebih dingin. Pantulan cahaya di permukaan danau perlahan memudar. Untuk beberapa saat, tak ada seorang pun mengucapkan sepatah kata. Keheningan itu bukan keheningan yang canggung. Lebih terasa layaknya jeda panjang setelah seseorang selesai membaca buku yang terlalu berat untuk segera ditutup.
Elian memandang Lyra dengan harapan yang diam-diam tumbuh sejak awal pertemuan. Ia berharap perempuan itu berkata untuk membantunya. Bahwa mereka akan mencari jawaban bersama. Bahwa kebenaran, betapa pun pahitnya, selalu layak diperjuangkan. Namun Lyra hanya menundukkan pandangannya sesaat dengan jemari yang perlahan mengusap bibir cangkir yang sudah dingin. Kemudian ia mengangkat wajahnya. Tatapannya tetap selembut biasanya, hanya saja kali ini ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat Elian tiba-tiba merasa bahwa percakapan mereka sedang berdiri di ambang jalan yang akan membawa keduanya ke arah yang tidak lagi sama.
Dengan suara yang begitu pelan hingga nyaris larut bersama desir angin dari permukaan danau, Lyra akhirnya bertanya, "Kalau semua yang kau temukan benar …," ia berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata yang paling tidak melukai, "apakah kau yakin semua orang ingin mengetahuinya?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Pertanyaan yang tidak diucapkan dengan nada menantang. Terucap sangat pelan, layaknya sehelai daun yang jatuh ke permukaan air tanpa menimbulkan riak yang berarti. Namun karena itulah, pertanyaan tersebut terasa jauh lebih berat daripada bantahan apa pun yang sudah dibayangkan Elian.
Selama ini ia sudah bersiap menghadapi kemarahan, kecurigaan, atau bahkan ketakutan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa yang pertama kali akan menyambut seluruh penyelidikannya justru adalah pertanyaan yang begitu sederhana.
Apakah semua orang ingin mengetahuinya?
Elian tidak segera menjawab karena ia menyadari bahwa dirinya sendiri belum pernah memikirkan pertanyaan itu.
Lyra tidak terburu-buru mengisi keheningan. Ia memandang permukaan danau yang mulai menggelap. Beberapa burung kembali ke sarangnya. Cahaya senja perlahan ditelan malam.
"Aku percaya kau tidak berbohong," katanya kemudian. "Aku juga percaya kau benar-benar menemukan sesuatu."
Elian menatapnya. "Lalu?"
"Lalu aku tidak yakin apakah penemuan itu harus diketahui semua orang."
Kalimat itu membuat dada Elian mengencang. "Kenapa?"
Lyra tersenyum kecil, tentunya bukan senyum bahagia. Lebih mirip seseorang yang sedang berusaha menjelaskan sesuatu yang sudah lama dipikirkannya.