Manusia sering kali mengira bahwa mereka mengenal apa yang disebut sebagai sifat alamiah. Kita percaya bahwa cara kita merasa, tertawa, bersedih, atau marah adalah sesuatu yang lahir begitu saja, seolah-olah jiwa punya bentuk yang sudah selesai bahkan sebelum kehidupan dimulai. Padahal, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa membandingkan dirinya dengan manusia yang tidak pernah menjadi dirinya. Seekor burung yang lahir di dalam sangkar mungkin tetap bisa mengepakkan sayap, bahkan bisa bernyanyi. Namun bagaimana mungkin burung itu mengetahui bahwa langit pernah menjadi miliknya, apabila sejak membuka mata untuk pertama kalinya ia tidak pernah melihat selain jeruji? Bisa saja pertanyaan paling sulit bukanlah, apakah manusia telah berubah. Namun bagaimana seseorang bisa menyadari perubahan yang terjadi bahkan sebelum mereka belajar mengenali diri sendiri.
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Lyra, Elian menemui Ravian. Tidak ada penjelasan atau pesan panjang. Ia hanya menerima secarik kertas kecil yang diselipkan di sela-sela buku di perpustakaan nasional.
"Besok. Matahari terbit. Tempat biasa."
Tulisan tangan itu segera dikenalnya.
Pagi berikutnya, ketika kabut masih menggantung rendah di atas jalanan kota, Elian sudah berdiri di depan bangunan tua tempat Para Pengingat biasa berkumpul. Ravian sudah menunggunya. Seperti biasa tanpa banyak sapaan, tanpa pertanyaan mengenai penyelidikan terakhir. Ia hanya memandang Elian beberapa saat, lalu berkata, "Hari ini kau tidak akan melihat dokumen."
"Lalu?"
"Kau akan melihat manusia."
Perjalanan mereka kali ini tidak berhenti di bangunan tua itu. Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan kereta menuju pinggiran kota, lalu berganti kendaraan umum yang lebih kecil. Semakin jauh mereka melangkah, gedung-gedung tinggi perlahan menghilang. Jalan-jalan jadi lebih sempit. Pepohonan tumbuh lebih rapat, udara terasa lebih lembap.
Akhirnya mereka tiba di kawasan yang nyaris lebih mirip desa kecil. Rumah-rumahnya sederhana. Sebagian besar terbuat dari kayu yang sudah menghitam dimakan usia. Di halaman depan beberapa rumah tumbuh bunga-bunga liar yang dibiarkan berkembang tanpa dipangkas terlalu rapi. Tak jauh dari sana terdengar suara anak-anak bermain. Namun jumlah mereka tidak banyak. Tempat itu terasa seperti sepotong masa lalu yang entah bagaimana masih bertahan di tengah Aisenodni yang begitu modern.
"Tempat apa ini?" tanya Elian.
Ravian mengangguk. "Mereka memilih tinggal jauh dari kota."
"Siapa?"
"Orang-orang yang masih mengingat rasanya menjadi manusia sebelum semuanya berubah."
Kalimat itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Namun langkah Elian tanpa sadar melambat. Rumah yang mereka tuju berdiri paling ujung. Bangunannya kecil, bercat putih yang sudah banyak mengelupas. Pintu kayunya sedikit terbuka.
Belum sempat Ravian mengetuk, terdengar suara lantang dari dalam.
"Kalau itu kau, Ravian," suara tua itu bergema, "masuk saja! Kau selalu mengetuk seperti petugas pajak!"
Ravian tersenyum tipis.
"Beliau memang seperti itu."
Mereka pun masuk. Ruangan di dalam penuh dengan rak buku, lukisan-lukisan tua, jam dinding mekanis yang berdetak cukup keras, aroma teh melati memenuhi udara. Di tengah ruangan duduk laki-laki tua berusia lebih dari delapan puluh tahun yang rambutnya putih seluruhnya. Tubuhnya mulai membungkuk. Namun sorot matanya sama sekali tidak redup. Begitu melihat Ravian, lelaki tua itu berdiri dengan susah payah. Lalu tanpa diduga Elian, ia memeluk Ravian begitu erat.
"Dasar bocah keras kepala!" serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
Tawa lepas dan nyaring itu memenuhi seluruh ruangan, tidak ditahan sedikit pun.
Elian membeku, berusaha mengingat kapan terakhir kali mendengar seseorang tertawa seperti itu. Tawa yang tidak sopan, tidak diukur, tidak dikendalikan, tawa yang seolah memenuhi seluruh dada sebelum akhirnya meledak jadi suara. Walau demikian, ia tidak berhasil mengingatnya.
"Namanya Surya," kata Ravian. "Lelaki paling cerewet yang pernah kukenal."
"Aku dengar itu!" Surya menunjuk Ravian sambil tertawa. "Kalau kau terus memfitnah orang tua, nanti kuberitahu semua rahasiamu!"
Nada bicaranya keras. Gerak-geriknya penuh energi. Sesekali ia menepuk meja begitu keras ketika sedang tertawa. Sesekali pula wajahnya berubah serius hanya dalam hitungan detik. Perubahan emosinya sangat cepat, bebas, hidup. Elian mulai menyadari sesuatu yang aneh, bahwa selama ini hampir semua orang yang ditemuinya memang tersenyum. Ada yang sedih, kecewa, tapi semuanya berada dalam kadar yang seolah selalu bisa dikendalikan.
Surya berbeda. Ketika bahagia, seluruh tubuhnya ikut tertawa. Ketika kesal karena tehnya terlalu dingin, ia menggerutu cukup keras hingga Ravian hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Beberapa menit kemudian, kemarahan kecil itu lenyap begitu saja, digantikan candaan lain.
Tak lama kemudian, beberapa orang tua lain mulai berdatangan. Seorang perempuan berambut perak bernama Hana. Seorang mantan guru sejarah bernama Yusuf. Laki-laki bertubuh kurus yang memperkenalkan dirinya sebagai Bima. Usia mereka hampir tak jauh berbeda. Semuanya sudah melewati delapan puluh tahun. Dan perlahan Elian melihat pola yang sama.
Hana bisa menangis hanya karena mendengar lagu lama diputar dari radio tua di sudut ruangan. Air matanya mengalir tanpa malu. Namun beberapa menit kemudian ia kembali tertawa ketika Surya menceritakan kisah masa mudanya yang konyol. Bima sesekali membantah pendapat Yusuf dengan suara yang cukup keras. Mereka saling menyela, saling meninggikan nada bicara. Bahkan Surya beberapa kali memukul meja sambil berseru, "Itu omong kosong!"
Elian refleks menegak. Nalurinya mengatakan bahwa pertengkaran akan segera terjadi. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Beberapa detik kemudian, keempat orang tua itu tertawa bersama. Seolah perbedaan pendapat barusan hanyalah bagian biasa dari percakapan.
Elian memandang Ravian yang tampaknya memahami kebingungan yang sedang tumbuh di dalam diri Elian. Dengan suara pelan, hampir seperti seseorang yang sedang menjaga agar kenangan lama tidak pecah, Ravian berkata, "Mereka pernah hidup sebagai manusia yang berbeda."
Kalimat itu tidak segera dipahami Elian. Ia memandang wajah-wajah renta yang memenuhi ruangan itu. Surya sedang tertawa hingga bahunya berguncang. Di sudut lain, Hana masih mengusap sisa air mata di pipinya sambil tersenyum malu. Yusuf dan Bima kembali berdebat mengenai lagu lama, kali ini dengan nada yang jauh lebih tenang. Tak satu pun di antara mereka tampak berusaha mengendalikan diri agar selalu terlihat pantas. Mereka membiarkan emosi dilepaskan.
Elian menyadari bahwa ia sedang menyaksikan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia ketahui telah hilang.