Pertemuan berikutnya dengan Para Pengingat berlangsung beberapa hari setelah kunjungannya ke rumah Surya. Selama waktu itu, Elian nyaris tidak bisa memusatkan pikirannya pada pekerjaan. Tumpukan arsip yang biasanya bisa ia selesaikan dengan ketelitian hampir mekanis kini berkali-kali harus diperiksa ulang. Nomor klasifikasi tertukar, tanggal salah terbaca. Beberapa kali Arman bahkan menegurnya dengan nada bercanda.
"Kau mulai butuh cuti."
Elian hanya tersenyum, barangkali benar. Namun kelelahan yang dirasakannya tidaklah berasal dari raga, tapi dari pikirannya yang terus berusaha menyusun potongan-potongan sejarah yang tampaknya tidak pernah diciptakan untuk saling bertemu.
Genesis, penyesuaian, anak-anak yang tidak pernah membangkang, orang-orang tua yang masih bisa menangis sejadi-jadinya, lemari berisi map-map kosong, dan Presiden yang tampak terlalu tulus untuk disebut sebagai penguasa yang lalim. Semakin banyak kepingan yang berhasil ia kumpulkan, semakin mustahil semuanya disusun menjadi kisah yang sederhana.
Ravian telah menunggunya di ruang bawah tanah bangunan tua itu. Namun kali ini suasananya berbeda. Sebagian besar anggota Para Pengingat tampak sudah datang lebih dulu. Mereka duduk melingkar dalam keheningan yang terasa lebih khidmat daripada biasanya. Seolah setiap orang memahami bahwa malam itu mereka akan melangkah melewati batas yang selama ini tidak pernah mereka lewati. Ketika Elian memasuki ruangan, beberapa pasang mata menoleh. Tak ada senyum, pun tak ada sapaan ringan, hanya anggukan pelan.
Ravian berdiri. "Kami sudah berdiskusi," katanya. "Dan kami sepakat sudah waktunya kau mengetahui apa yang selama ini hanya kami bicarakan di antara kami."
Elian tidak menjawab, hanya merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Di atas meja diletakkan map tua berwarna cokelat. Berbeda dengan kebanyakan dokumen yang pernah diperlihatkan kepadanya, map itu tampak jauh lebih tipis. Hanya beberapa lembar kertas berada di dalamnya. Sebagian berupa salinan, sebagian lagi tulisan tangan yang mulai memudar. Ravian tidak segera menyerahkannya, justru memandang Elian cukup lama.
"Apa yang akan kau dengar malam ini," ucapnya pelan, "bukan fakta yang sudah kami buktikan sepenuhnya."
Elian mengangguk.
"Kami tidak punya laboratorium. Kami juga tidak punya akses terhadap arsip negara. Yang kami miliki hanyalah potongan-potongan yang saling menguatkan." Ia berhenti sejenak. "Dan kesediaan untuk mengakui apa yang belum kami ketahui."
Elian memahami mengapa Ravian selalu mengulangi kalimat terakhir itu. Di dunia yang dipenuhi keyakinan mutlak, kerendahan hati terhadap ketidaktahuan justru jadi bentuk keberanian yang paling langka.
Ravian membuka map tersebut, lembar pertama memperlihatkan salinan bagan medis. Sebagian besar istilahnya sudah memudar. Namun masih tampak ilustrasi perkembangan otak manusia sejak masa janin hingga usia beberapa tahun. Beberapa bagian diberi lingkaran merah menggunakan tinta yang kini sudah berubah kecokelatan. Lembar kedua lebih sulit dipahami. Berisi tabel panjang mengenai perkembangan sistem saraf, disertai catatan-catatan tangan yang sebagian besar sudah tidak terbaca. Elian memperhatikan semuanya tanpa berbicara, lalu Ravian berkata, "Kami percaya …."
Ia sengaja menekankan dua kata pertama.
"Setiap bayi yang lahir di Aisenodni menjalani prosedur biologis beberapa jam setelah dilahirkan."
Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan, pula tidak seperti teori konspirasi yang disampaikan dengan penuh gairah. Justru karena diucapkan begitu hati-hati, bobotnya terasa jauh lebih berat.
Elian mengangkat pandangan. "Prosedur seperti apa?"
Ravian menggeleng pelan. "Itulah yang belum sepenuhnya kami ketahui."
Beberapa anggota Para Pengingat saling berpandangan, lalu seorang perempuan tua bernama Hana menarik buku catatan kecil dari tas kainnya.
"Bukan mengendalikan pikiran," katanya. "Bukan membuat manusia menjadi boneka."
"Kalau begitu?"
Hana membuka salah satu halaman yang dipenuhi tulisan tangan. "Dari semua catatan yang berhasil kami kumpulkan," ia menelusuri beberapa baris dengan ujung jarinya, "arahnya selalu sama."
"Yaitu?"
"Menekan perkembangan beberapa jaringan saraf."
Elian mengernyit. "Jaringan apa?"
Hana mengangkat wajahnya. "Yang berkaitan dengan dorongan agresi." Ia berhenti sejenak. "Kecenderungan untuk mendominasi."
Lalu suaranya semakin pelan. "Dan keserakahan."
Tak ada seorang pun langsung berbicara setelah tiga kata itu diucapkan. Sepertinya seluruh ruangan sedang berusaha memahami konsekuensi dari kemungkinan yang baru saja lahir. Elian memandang kembali bagan perkembangan otak di hadapannya. Pikirannya langsung melompat pada anak-anak yang tidak pernah membangkang. Kepada Surya yang berkata bahwa ia merindukan kemarahan. Kepada rekaman Genesis yang menyebut sumber konflik berada pada struktur biologis manusia. Potongan-potongan itu mulai membentuk garis yang utuh. Namun justru ketika garis itu mulai tampak, pertanyaan lain tumbuh jauh lebih besar.
"Kalau itu benar," suara Elian hampir tidak terdengar, "siapa yang memutuskan semua ini?"
Ravian tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah pada map tua yang terbuka di atas meja. Lalu, dengan suara yang jauh lebih berat daripada sebelumnya, ia berkata, "Itulah bagian yang paling sulit kami terima."
Keheningan menyelimuti perlahan hingga nyaris tidak terasa kapan ia mulai memenuhi ruangan. Semua mata tertuju kepada Ravian. Selama ini, hampir setiap penemuan baru selalu mengarah pada dugaan yang semakin kelam. Nama-nama dihapus, arsip ditiadakan, ingatan memudar, emosi perlahan jadi datar. Semua itu terlihat seperti jejak kuasa yang bekerja diam-diam. Namun nada suara Ravian malam itu berbeda. Bukan nada seseorang yang sedang bersiap membuka kedok seorang penjahat. Namun seseorang yang hendak mengakui kenyataan yang bahkan dirinya sendiri berharap tidak pernah benar.