Tiga hari berlalu sejak pertemuan terakhir Elian dengan Para Pengingat. Namun tidak satu pun malam benar-benar memberinya kesempatan beristirahat. Setiap kali memejamkan mata, pikirannya kembali dipenuhi potongan-potongan sejarah yang saling bertubrukan. Anak-anak yang tidak pernah membangkang, orang-orang tua yang masih bisa menangis tanpa malu, Genesis, Penyesuaian. Dan kemungkinan yang kini terasa semakin nyata bahwa seluruh bangsa Aisenodni tidak sedang menjadi korban rezim yang rakus akan kekuasaan, tapi pewaris dari keputusan yang diambil leluhur mereka sendiri. Ironisnya, justru setelah memperoleh jawaban-jawaban terbesar, pertanyaan di dalam dirinya semakin bertambah banyak. Barangkali memang begitulah sifat pengetahuan, yang tidak pernah benar-benar menutup pintu, hanya membuka lorong-lorong baru yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
Pagi itu, perpustakaan nasional berjalan sebagaimana biasanya. Rak-rak arsip tetap tersusun dengan ketelitian yang nyaris sempurna. Mesin pemindai berdengung pelan. Para petugas saling bertukar salam dengan senyum yang selalu terasa proporsional. Semuanya berlangsung dengan keteraturan yang sudah menjadi wajah Aisenodni selama puluhan tahun. Elian berusaha mengembalikan dirinya pada rutinitas.
Ia memeriksa dokumen-dokumen lama mengenai pengembangan sistem irigasi nasional. Mencocokkan kode klasifikasi. Menyusun kembali beberapa arsip yang salah tempat. Pekerjaan yang dulu selalu bisa menenangkan pikirannya, kini justru terasa asing. Setiap map yang disentuhnya mengingatkan pada ruang rahasia yang dipenuhi folder-folder kosong. Setiap nomor inventaris membuatnya teringat sejarah yang sengaja tidak pernah dilahirkan. Seolah sejak penyelidikan itu dimulai, tidak ada lagi arsip yang benar-benar sekadar arsip. Semuanya berubah jadi kemungkinan.
Menjelang tengah hari, salah seorang petugas administrasi menghampirinya.
"Pak Elian."
Elian mengangkat kepala.
"Ada surat untuk Anda."
"Surat?"
Petugas itu mengangguk sambil menyerahkan amplop yang tidak besar dan tanpa hiasan berwarna gading. Hanya terdapat lambang negara yang dicetak timbul dengan warna keemasan di bagian tengahnya.
Jantung Elian berdetak sedikit lebih cepat. Lambang itu sangat dikenalnya. Tidak banyak lembaga yang berhak menggunakannya. Walau demikian, ia menerima amplop itu dengan kedua tangan. Kertasnya terasa lebih tebal daripada surat-surat resmi pada umumnya. Namanya ditulis menggunakan tinta hitam yang rapi tanpa embel-embel gelar, juga tanpa penanda jabatan.
Ia tidak langsung membukanya. Beberapa menit berlalu sebelum ia akhirnya berdiri dan menuju ruang arsip yang sedang kosong. Di sana, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
Elian menarik napas panjang, lalu membuka segel amplop itu secara perlahan. Di dalamnya hanya terdapat selembar kertas, tidak lebih. Kalimat yang tertulis bahkan bisa dibaca dalam hitungan detik.
Saudara Elian,
Presiden Republik Aisenodni mengundang Saudara untuk hadir dalam pertemuan pribadi di Istana Kepresidenan pada hari Jumat pukul 09.00.
Kehadiran Saudara sangat kami harapkan.
Tidak ada alasan, penjelasan, agenda. Hanya tanda tangan elektronik dari Kantor Presiden.
Elian membaca surat itu sekali lagi. Barangkali ia berharap bisa menemukan kalimat lain yang sebelumnya terlewat. Namun surat itu tetap sama.
Tangannya terasa dingin. Selama beberapa minggu terakhir ia menemui Para Pengingat. Memasuki ruang arsip yang tidak tercatat. Mempelajari dokumen-dokumen yang seharusnya tidak diketahui siapa pun. Menghubungkan berbagai kepingan sejarah yang mungkin memang sengaja dipisahkan. Apakah semuanya sudah diketahui? Apakah ia selama ini diawasi? Apakah setiap langkahnya sebenarnya tidak pernah benar-benar tersembunyi?
Pikiran-pikiran itu berputar tanpa henti. Elian merasa ketakutan yang begitu nyata. Bukan terhadap kemungkinan bahwa Genesis benar-benar ada, tapi terhadap kemungkinan bahwa negara sudah mengetahui seluruh pencariannya sejak hari pertama.
Sore harinya, Elian menemui Ravian. Bangunan tua itu hampir kosong. Hanya cahaya matahari yang menembus jendela-jendela tinggi, membentuk garis-garis panjang di lantai kayu yang mulai kusam. Tanpa banyak kata, Elian menyerahkan surat itu, lalu Ravian membacanya. Kemudian, sesuatu yang sama sekali tidak diduga Elian pun terjadi. Pria itu tersenyum lega.
"Kau … tersenyum?"
Ravian mengembalikan surat itu. "Aku sudah menduga."
"Dugaan apa?"
"Bahwa hari ini akan datang."
Elian menatapnya dengan bingung.