Ada warisan yang dititipkan melalui tanah, rumah, atau nama keluarga. Demikian pula yang disampaikan melalui kitab-kitab, monumen, dan lagu kebangsaan. Namun, di antara seluruh bentuk peninggalan yang pernah dikenal manusia, barangkali tidak ada yang lebih berat daripada amanat yang harus dijaga selama seratus tahun. Sejarah tidak selalu hilang sebab dibakar. Kadang-kadang disembunyikan dengan penuh kasih, agar luka tidak terus-menerus mencari tubuh baru untuk ditinggali.
Elian masih belum sepenuhnya pulih dari kalimat yang baru saja diucapkan Presiden.
"Aku sudah menunggu saat seorang arsiparis akhirnya menemukan pertanyaan yang benar."
Kalimat itu terus bergema di kepalanya, bahkan ketika cangkir teh di hadapannya mulai kehilangan uap panasnya. Ia datang ke Istana dengan dugaan akan diinterogasi. Mungkin diperingatkan. Bahkan diam-diam sudah mempersiapkan dirinya apabila penyelidikan selama beberapa bulan terakhir ternyata dianggap sebagai pengkhianatan terhadap negara. Namun tak satu pun dari bayangan itu menjadi kenyataan. Yang duduk di hadapannya bukan penguasa yang sedang mempertahankan kekuasaan, tapi seseorang yang justru tampak lega karena akhirnya bisa memulai percakapan yang selama ini hanya mungkin dilakukan dengan orang yang tepat.
Presiden menyesap tehnya perlahan. Ia memahami bahwa percakapan seperti ini tidak mungkin bisa dipercepat oleh siapa pun.
"Apa yang ingin Anda ketahui lebih dahulu?"
Pertanyaan itu meluncur dengan tenang. Elian sempat terdiam. Sebab selama berminggu-minggu ia mengumpulkan pertanyaan, jumlahnya mungkin ratusan. Namun kini, ketika kesempatan itu benar-benar berada di hadapannya, seluruh pertanyaan tersebut justru saling bertabrakan hingga tak satu pun sanggup keluar.
Akhirnya ia hanya mampu bertanya, "Sejak kapan Anda mengetahui semuanya?"
Presiden tersenyum kecil.
"Tidak semuanya," jawabnya. "Tidak ada seorang pun yang mengetahui semuanya."
Kalimat itu mengingatkan Elian pada Ravian. Barangkali memang demikian cara orang-orang yang terlalu lama hidup bersama sejarah. Mereka tidak lagi berbicara dengan kepastian mutlak, mereka justru belajar menghormati bagian-bagian yang masih diselimuti ketidaktahuan.
Presiden melanjutkan, "Aku mengetahui penyelidikanmu," ia menatap langsung ke mata Elian, "sejak kau meminta izin membuka arsip tentang Hari Kekacauan."
Elian mengernyit. "Hari pertama?"
"Ya."
"Berarti …." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Presiden mengangguk pelan. "Kami mengikuti perkembangan penyelidikanmu."
Dada Elian mendadak sesak. "Lalu, kenapa saya tidak dihentikan?"
Presiden justru balik bertanya, "Kalau aku menghentikanmu," senyumnya tetap ramah, "apakah kau akan berhenti mencari?"
Elian terdiam. Jawabannya sudah diketahui bahkan sebelum ia sempat memikirkannya. Tentunya tidak. Ia justru akan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan.
Presiden meletakkan cangkirnya. Kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang Istana. Di luar sana, beberapa anak sedang berlarian mengejar burung-burung kecil yang hinggap di rerumputan. Pemandangan itu sangat damai.
"Setiap beberapa dekade," kata Presiden tanpa memalingkan wajah, "selalu muncul seseorang sepertimu."
Elian mengangkat kepala. "Seseorang?"
"Yang mulai mempertanyakan sejarah. Yang merasa ada bagian yang tidak utuh. Yang tidak puas dengan jawaban-jawaban resmi." Presiden berbalik. "Terkadang jurnalis, terkadang ilmuwan. Pernah pula seorang hakim."
Ia tersenyum tipis. "Dan kali ini," tatapannya berhenti pada Elian, "seorang arsiparis."
Jantung Elian kembali berdegup lebih cepat. "Berapa banyak?"
Presiden menggeleng pelan. "Aku tidak menghitung."
"Ke mana mereka?"
"Sebagian memilih diam. Sebagian kembali menjalani hidup seperti biasa. Sebagian lagi …," ia berhenti sejenak, "menerima amanat yang sama."
"Amanat?"
Presiden berjalan menuju salah satu rak buku yang memenuhi dinding ruangan. Tangannya menyentuh jilid tua tanpa menariknya keluar sehingga terdengar bunyi mekanis yang sangat pelan. Nyaris tidak terdengar. Lalu rak buku itu bergeser beberapa sentimeter.
Elian spontan berdiri. Di balik rak tersebut terbuka lorong sempit yang sebelumnya sama sekali tidak terlihat. Udara dingin mengembus dari dalamnya. Bukan bau ruang yang lama ditinggalkan, tapi aroma kertas tua yang selama puluhan tahun disimpan dengan penuh kehati-hatian.
"Ikutlah," ucap Presiden.
Tanpa pengawal, tanpa staf, hanya mereka berdua yang kemudian menuruni tangga batu yang berputar ke bawah. Semakin dalam mereka melangkah, semakin sunyi dunia di atas kepala mereka. Tak terdengar lagi suara burung, begitu pun langkah para pegawai Istana. Yang tersisa hanyalah gema langkah kaki mereka sendiri.