AISENODNI

Marion D'rossi
Chapter #32

Pilihan Para Pendahulu

Ruang arsip rahasia itu masih terasa hening ketika Elian menutup jilid pertama tentang Abad Pertikaian. Namun keheningan tersebut kini berbeda. Tidak lagi seperti ruang penyimpanan. Namun seperti makam luas hingga mampu menampung kesedihan beberapa generasi sekaligus.

Presiden berjalan di antara rak-rak arsip, lalu berhenti di depan lemari logam yang jauh lebih besar daripada yang lain. Di bagian depannya tertulis: Sidang Nasional Rekonstruksi.

Di bawah tulisan itu terdapat angka yang membuat Elian terdiam.

Tahun 1945 Abad Pertikaian.

Tahun sembilan belas empat puluh lima. Artinya ketika arsip itu dibuat, bangsa tersebut sudah hampir enam dekade hidup dalam kekacauan. Enam puluh satu tahun. Cukup lama untuk membuat perang berhenti menjadi peristiwa dan berubah menjadi cara hidup.

Presiden membuka lemari itu yang di dalamnya tersimpan puluhan kotak rekaman analog. Sebagian berupa pita video, lainnya gulungan audio. Masing-masing diberi nomor dan tanggal yang tersusun sangat rapi.

"Apa ini?" tanya Elian.

Presiden mengambil salah satu kotak. "Awal dari Genesis."

Jawaban itu membuat Elian menegak. Selama ini Genesis selalu muncul dalam bentuk serpihan. Catatan yang tidak lengkap, video yang rusak, dokumen yang terpotong. Untuk pertama kalinya ia berdiri di hadapan sumber yang tampaknya masih utuh.

Mereka pun memasuki ruangan kecil yang berada di sisi arsip utama. Di dalamnya terdapat pemutar rekaman tua yang sudah dimodifikasi agar tetap bisa digunakan. Presiden memasang salah satu pita video. Layar besar di dinding perlahan menyala. Mula-mula hanya muncul bintik-bintik hitam putih, lalu gambar mulai terbentuk.

Sebuah aula besar dipenuhi ratusan orang. Tidak ada kemewahan, pula dekorasi megah. Bangunannya bahkan tampak sederhana. Namun wajah-wajah yang memenuhi ruangan itu menunjukkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada kemegahan apa pun: Kelelahan. Mereka tampak seperti manusia yang terlalu lama hidup dengan bencana.

Tahun perekaman muncul di sudut layar. Seratus lima puluh lima tahun yang lalu, seorang pria tua dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih berdiri di tengah aula. Tubuhnya kurus. Namun sorot matanya masih tajam. Di bawah gambar tertulis identitasnya.

Ketua Sidang Rekonstruksi Nasional.

Pria itu berbicara dengan suaranya yang serak. Rekaman tua membuat beberapa kata hilang ditelan gangguan suara. Namun inti ucapannya masih bisa dipahami.

"Kita sudah  mengganti pemerintahan. Kita sudah mengganti konstitusi. Kita sudah mengganti hukum. Kita sudah mengganti pemimpin."

Ia berhenti cukup lama.

"Mengapa perang tetap terjadi?"

Ruangan mendadak sunyi, bahkan melalui rekaman yang berusia seabad lebih, Elian masih bisa merasakan beratnya pertanyaan itu.

Gambar berpindah pada ilmuwan sedang berbicara. Rambutnya berantakan dengan mata dipenuhi lingkar kelelahan. Di belakangnya tampak grafik-grafik yang sulit dibaca.

"Selama lima puluh lima tahun terakhir," katanya, "kita mempelajari pola konflik. Perang berubah bentuk. Ideologi berubah. Kelompok berubah. Tetapi pola biologis yang melatarbelakanginya tetap sama."

Beberapa orang di ruangan langsung menyela, maka perdebatan pun dimulai. Seseorang berteriak bahwa perang disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi. Orang lain menyalahkan politik. Yang lain lagi menyebut pendidikan, agama, budaya, sistem hukum. Semua orang punya jawaban berbeda.

Di tengah itu, Elian menyadari sesuatu yang mengejutkan, bahwa mereka tidak sedang mencari kambing hitam, tetapi sungguh-sungguh berusaha memahami mengapa peradaban mereka terus runtuh.

Hari-hari sidang berikutnya ditampilkan dalam potongan-potongan rekaman. Seorang filsuf berdiri dan berkata, "Mungkin masalahnya bukan sistem. Mungkin masalahnya adalah manusia yang selalu menciptakan sistem."

Seorang aktivis menolak gagasan tersebut, sebab menurutnya, menyalahkan manusia berarti menyerah terhadap perubahan sosial. Seorang pemuka agama berbicara mengenai sifat manusia yang selalu bergulat antara cahaya dan kegelapan. Lalu seorang dokter menjelaskan penelitian terbaru mengenai jaringan saraf yang berkaitan dengan agresi, dominasi, dan perilaku kompetitif ekstrem.

Perdebatan berlangsung berjam-jam, lalu berhari-hari, hingga berbulan-bulan. Rekaman-rekaman berikutnya menunjukkan hal yang sama. Wajah-wajah yang semakin letih, tumpukan dokumen yang semakin tinggi. Namun tak seorang pun meninggalkan meja perundingan. Karena di luar gedung itu, perang masih berlangsung, dan setiap hari keterlambatan berarti lebih banyak kematian.

Lihat selengkapnya