Setelah rekaman referendum berakhir, Presiden tidak segera memutar arsip berikutnya. Layar di ruangan kecil itu tetap gelap. Mesin pemutar pita mengeluarkan dengung halus yang nyaris tidak terdengar. Sementara di luar ruang pemutaran, lorong-lorong arsip tua tetap terdiam dalam kesunyian yang telah mereka pelihara selama satu abad.
Elian masih duduk di tempatnya dengan pikiran dipenuhi wajah-wajah dari masa lalu. Perempuan yang kehilangan lima anak, dokter yang membacakan daftar korban, filsuf yang menolak Genesis, dan jutaan orang yang pada akhirnya memilih sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak sepenuhnya pahami. Semuanya terasa terlalu manusiawi untuk disebut sekadar kebijakan. Terlalu tragis untuk disebut kemenangan. Namun juga terlalu masuk akal untuk ditolak begitu saja.
Presiden berdiri, lalu berjalan menuju rak kecil yang berisi beberapa buku catatan tua. Beliau mengambil salah satunya, tetapi tidak membukanya. Hanya memegangnya sejenak sebelum kembali meletakkannya.
"Kau tahu apa yang paling sering terjadi setelah seseorang menemukan Genesis?" tanyanya.
Elian mengangkat kepala. "Apa?"
"Mereka marah."
Jawaban itu terdengar masuk akal.
"Saya juga pernah marah."
Presiden tersenyum tipis. "Tentu."
Beliau berjalan di antara rak-rak arsip dengan langkah tenang, sebab memang percakapan yang sedang berlangsung jauh lebih penting daripada tujuan ke mana mereka berjalan.
"Sebagian marah karena merasa ditipu, sebagian marah karena merasa dirampas, sebagian lagi marah karena percaya bahwa tidak ada siapa pun yang berhak mengubah manusia."
Beliau berhenti, lalu menatap Elian.
"Dan aku memahami semuanya."
Elian mengernyit. "Anda tidak setuju?"
"Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Lalu?"
Presiden tersenyum samar. Senyum yang terlalu lama hidup dengan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban sederhana.
"Aku hanya tidak percaya masalah ini bisa diselesaikan dengan memilih satu sisi dan membenci sisi yang lain."
Mereka kembali berjalan. Di salah satu rak, Elian melihat ratusan buku harian yang tersusun berdasarkan tahun. Di rak lain terdapat ribuan surat pribadi yang berhasil diselamatkan dari Abad Pertikaian. Setiap lembar kertas itu menyimpan kehidupan yang pernah ada. Dan setiap kehidupan memiliki alasan berbeda untuk mempercayai sesuatu.
"Kau percaya pada kebebasan?" tanya Presiden tiba-tiba.
"Ya."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, itu terasa sulit.
"Karena manusia berhak menentukan hidupnya sendiri."
Presiden mengangguk. "Itu jawaban yang baik."
"Lalu?"
"Lalu aku setuju."
Elian terdiam karena tidak menduga itu.
Presiden tertawa kecil melihat ekspresinya. "Aku tidak sedang mencoba membela Genesis," katanya. "Aku juga tidak sedang berusaha meyakinkanmu bahwa semua keputusan leluhur kita benar."
Beliau berhenti sejenak. "Aku hanya ingin memahami sesuatu bersamamu."
Mereka tiba di meja panjang yang penuh dokumen-dokumen lama. Presiden meletakkan tangannya di atas salah satu tumpukan arsip.
"Menurutmu," suaranya pelan, "apa yang dimaksud kebebasan?"
Elian berpikir sejenak. "Kemampuan memilih."
"Memilih apa?"
"Apa pun."
Presiden mengangguk lagi. "Baik."
Beliau mengambil foto tua dari atas meja. Foto itu memperlihatkan seorang politikus dari masa Abad Pertikaian sedang berpidato di hadapan ribuan orang. Di bawahnya terdapat catatan singkat.
Tahun 1879. Tiga bulan sebelum pecahnya konflik wilayah utara.