Ada masa ketika manusia masih percaya bahwa setiap persoalan memiliki jalan keluar yang bersih. Bahwa jika seseorang cukup bijaksana, cukup berani, atau cukup baik hati, maka dunia akan menghadiahkan pilihan yang tidak melukai siapa pun. Namun sejarah jarang menunjukkan kemurahan hati semacam itu. Sejarah lebih sering menyerupai ruang terbakar, tempat setiap pintu keluar mengharuskan seseorang meninggalkan sesuatu di belakangnya.
Boleh jadi itulah sebabnya generasi-generasi yang hidup nyaman sering kali lebih mudah menghakimi masa lalu daripada memahaminya. Mereka mewarisi hasil dari keputusan-keputusan besar tanpa harus memikul beban ketika keputusan itu dibuat. Mereka menikmati jembatan tanpa pernah melihat sungai mayat yang dulu harus diseberangi untuk membangunnya.
Setelah percakapan panjang mengenai kebebasan, Presiden tidak segera mengajak Elian meninggalkan ruang arsip rahasia itu. Sebaliknya, beliau justru berjalan semakin jauh ke dalam. Melewati rak-rak yang semakin tua. Melewati lorong-lorong yang semakin sempit. Melewati bagian-bagian arsip yang bahkan tampak lebih jarang disentuh dibandingkan koleksi lainnya. Lampu-lampu di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Tidak cukup terang untuk mengusir seluruh bayangan. Namun cukup untuk memperlihatkan betapa panjangnya sejarah yang disimpan di tempat itu.
Elian mengikuti beberapa langkah di belakang. Ia mulai menyadari bahwa yang selama ini diperlihatkan kepadanya mungkin baru lapisan terluar dari masa lalu bangsanya. Dan pikiran itu, entah mengapa, tidak lagi menimbulkan rasa ingin tahu, tapi kecemasan.
Mereka berhenti di depan pintu baja yang lebih kecil daripada pintu-pintu arsip lainnya. Hanya pelat logam sederhana yang mulai kusam dimakan usia. Di atasnya tertulis: Korban Akhir.
Elian memandangi tulisan itu cukup lama.
"Korban akhir?" tanyanya pelan.
Presiden tidak langsung menjawab. Beliau hanya membuka pintu tersebut, lalu mempersilakan Elian masuk lebih dulu.
Ruangan itu jauh lebih kecil dibandingkan ruang arsip utama. Namun kesannya terasa jauh lebih besar. Dinding-dindingnya dipenuhi layar. Rak-rak penyimpanan digital. Dan ribuan kotak data yang tersusun hingga langit-langit. Di bagian tengah terdapat meja panjang. Di atasnya tersusun laporan-laporan statistik yang menguning. Presiden mengambil salah satunya, lalu meletakkannya di hadapan Elian.
"Mulailah dari sini," katanya.
Elian membuka halaman pertama. Mula-mula ia mengira itu hanya laporan sensus biasa seperti tabel, angka, persentase, dan kolom-kolom statistik yang selama ini menjadi bagian akrab dari pekerjaannya sebagai arsiparis. Namun semakin jauh matanya bergerak, semakin sulit ia mempercayai apa yang sedang dibacanya. Jumlah penduduk sebelum Abad Pertikaian. Jumlah penduduk setelah tahun kesepuluh. Setelah tahun kedua puluh. Setelah tahun ketiga puluh. Grafiknya terus menurun.
"Ini …." Suara Elian nyaris menghilang.
Presiden mengangguk pelan. "Perkiraan paling konservatif."
"Perkiraan?"
"Karena banyak wilayah berhenti mencatat data."
Elian kembali melihat angka-angka itu. Puluhan juta. Bukan ribuan, bukan ratusan ribu. Ya, puluhan juta. Jumlah yang terlalu besar untuk dibayangkan pikiran manusia. Jumlah yang tidak lagi terasa seperti individu. Namun seperti benua yang hilang.
"Bagaimana mungkin?" bisik Elian.
Presiden menatap layar kosong di hadapan mereka. "Sedikit demi sedikit," jawabnya. "Kebanyakan tragedi besar tidak datang sekaligus."
Beliau menarik sebuah kursi, lalu duduk dan kembali melanjutkan, "Kelaparan mengambil sebagian. Penyakit mengambil sebagian. Perang mengambil sebagian. Pembantaian mengambil sebagian. Korupsi mengambil sebagian. Pengungsian mengambil sebagian. Keputusasaan mengambil sisanya."
Setiap kalimat diucapkan tanpa penekanan. Tanpa dramatisasi. Namun justru karena itulah semuanya terdengar lebih mengerikan. Beliau sedang menjelaskan proses alamiah. Padahal yang sedang dibicarakan adalah musnahnya jutaan kehidupan.