Sering kali manusia membayangkan kebenaran sebagai matahari. Sekali terbit, seluruh bayangan akan lenyap dan setiap orang akan melihat hal yang sama. Namun kenyataannya tidak demikian. Kebenaran lebih seperti hujan yang jatuh di atas tanah yang berbeda-beda. Air yang sama bisa melahirkan bunga di satu tempat, lumpur di tempat lain, dan banjir di tempat yang berbeda lagi. Mungkin itulah sebabnya sejarah tidak pernah benar-benar mengakhiri perdebatan, tapi justru melahirkannya. Karena manusia tidak hanya melihat kenyataan melalui mata. Mereka juga melihatnya melalui luka, harapan, ketakutan, dan keyakinan yang sudah mereka kumpulkan sepanjang hidup. Dan tidak ada dua manusia yang membawa beban yang benar-benar sama.
Perjalanan kembali dari istana terasa jauh lebih panjang daripada ketika Elian datang. Padahal jalan yang ditempuh tetap sama. Kota yang dilewati tetap sama. Gedung-gedung yang berdiri di sepanjang jalan tetap sama. Bahkan langit yang membentang di atas Aisenodni masih memancarkan ketenangan yang nyaris sempurna. Namun sesuatu di dalam dirinya sudah berubah. Atau mungkin bukan berubah. Mungkin retak. Dan dari retakan itulah muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ia izinkan masuk.
Sepanjang perjalanan, bayangan tentang prasasti itu terus mengikutinya. Kami tidak menciptakan surga. Kami hanya menghentikan neraka. Kalimat tersebut terasa sepele. Karena setelah melihat arsip-arsip Abad Pertikaian, Elian tidak lagi mampu menganggapnya sebagai propaganda. Terlalu banyak penderitaan yang tersimpan di sana. Terlalu banyak kuburan. Terlalu banyak kehilangan. Dan terlalu sedikit jawaban yang benar-benar memuaskan.
Malam telah menelungkup ketika ia tiba di tempat pertemuan Para Pengingat. Bangunan tua itu tampak sama seperti biasanya. Lampu-lampu redup. Rak-rak buku. Meja kayu yang dimakan usia. Aroma kertas tua yang seolah jadi bahasa rahasia bagi orang-orang yang menghabiskan hidupnya bersama sejarah. Namun begitu Elian melangkah masuk, ia segera menyadari bahwa suasana malam itu berbeda.
Semua orang telah menunggunya. Ravian berdiri di dekat jendela. Surya duduk dengan kedua tangan terlipat di dada. Hana sedang membaca dokumen, meski matanya jelas tidak lagi fokus pada tulisan di depannya. Sementara Yusuf dan Bima tampak berbicara pelan sebelum akhirnya menghentikan percakapan ketika Elian memasuki ruangan. Mereka semua menoleh hampir bersamaan. Menunggu.
"Kau bertemu Presiden," kata Ravian. Ya, itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
Elian mengangguk. "Aku bertemu Presiden."
"Dan?" tanya Surya.
Nada suaranya terdengar lebih tajam daripada biasanya. Elian menarik napas panjang, lalu mulai bercerita tentang ruang arsip rahasia, Abad Pertikaian, jutaan korban, sidang nasional yang berlangsung bertahun-tahun, para ilmuwan, filsuf, pemuka agama, dan rakyat biasa yang memperdebatkan Genesis, referendum. Tentang keputusan yang tidak dipaksakan oleh militer, tidak dirampas melalui kudeta, tidak lahir dari konspirasi sekelompok elit. Namun dari suara mayoritas masyarakat yang hidup pada masa itu.
Ruangan tetap sunyi sepanjang penjelasannya. Tak seorang pun menyela, apalagi mencoba membantah. Mereka mendengarkan hingga kalimat terakhir selesai diucapkan. Hingga akhirnya Elian menceritakan prasasti yang berada jauh di bawah istana. Kalimat yang masih terukir jelas di dalam ingatannya.
Kami tidak menciptakan surga. Kami hanya menghentikan neraka.
Kesunyian yang muncul setelah itu terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Orang pertama yang berbicara adalah Surya. Dan seperti yang diduga Elian, reaksinya tampak tanpa keraguan sedikit pun.
"Itu tidak mengubah apa-apa," katanya tegas.
Beberapa orang menoleh. Namun Surya tidak tampak peduli. Matanya tetap tertuju kepada Elian.
"Kalaupun semua itu benar, masalahnya tetap sama."
Ia berdiri. Tubuh tuanya mungkin sudah kehilangan sebagian kekuatannya. Namun keyakinannya masih terasa kokoh.
"Tidak ada generasi yang berhak menentukan seperti apa manusia yang akan lahir setelah mereka."
Suasana ruangan langsung berubah karena semua orang memahami bahwa perdebatan yang selama ini mereka hindari akhirnya datang juga.
"Surya."
Hana mencoba berbicara. Namun lelaki tua itu mengangkat tangannya.
"Tidak," katanya.
"Kita terlalu lama membicarakan Genesis seolah masalahnya hanya soal sejarah." Ia menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu. "Padahal persoalannya jauh lebih sederhana."
Suaranya mengeras. "Siapa yang memberi hak kepada satu generasi untuk mengubah generasi berikutnya?"
Tak seorang pun langsung menjawab karena pertanyaan itu memang sulit. Mungkin terlalu sulit.
"Kalau leluhur kita memutuskan bahwa semua anak harus lahir tanpa kemampuan bermimpi, apakah itu boleh?" lanjut Surya. "Kalau mereka memutuskan bahwa rasa sedih harus dihapus dari manusia, apakah itu juga boleh?"